SOLO, MENARA62.COM – Suasana berbeda terlihat di TK Aisyiyah Banyudono, Boyolali. Puluhan anak-anak tampak asyik bermain tanah dan bibit tanaman. Rupanya, mereka sedang mengikuti program AgroSchooling yang digagas oleh tim pengabdian masyarakat RisetMu dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id.
Program yang dipimpin oleh Dinda Safitri Ramadhani, S.T., M.Eng., ini hadir untuk mengenalkan “Literasi Hijau” atau cinta lingkungan sejak dini. Alih-alih hanya mendengar cerita, anak-anak diajak langsung terjun menjadi petani cilik untuk belajar cara menanam hingga merawat tanaman. Kegiatan yang dimulai pada Mei 2026 ini bertujuan agar generasi muda lebih peduli pada alam dan paham dari mana makanan sehat mereka berasal.
“Ide ini lahir dari keinginan untuk memperkuat literasi hijau anak-anak melalui metode pembelajaran yang lebih nyata dan aktif,” ujar Dinda, Sabtu (23/5).
Melalui AgroSchooling, tim UMS ingin memperkenalkan konsep ketahanan pangan dan kepedulian lingkungan sejak usia dini dengan cara yang menyenangkan, yakni melalui praktik langsung bercocok tanam di sekolah.
Kegiatan ini dikemas dengan cara yang sangat seru dan edukatif. Sambil mengenal berbagai jenis bibit dan benih, para anggota tim mengajak anak-anak belajar cara menanam bibit sayuran ke dalam pot yang telah diisi media tanam subur, serta berlatih menyemai benih ke dalam tray semai.
Tak hanya menanam, mereka juga diajarkan cara merawat tumbuhan agar dapat tumbuh optimal hingga masa panen tiba. Metode ini mengajak anak-anak mengikuti seluruh tahapan penting mulai dari persiapan benih hingga momen memanen bersama yang mereka ikuti dengan penuh antusias.
Dinda Safitri, menyampaikan bahwa pendekatan learning by doing ini efektif untuk menanamkan rasa tanggung jawab. “Anak-anak jadi tahu kalau merawat tanaman itu butuh ketelatenan, dan ada rasa bangga saat mereka melihat tanaman itu tumbuh besar,” jelasnya.
Tidak hanya siswa, para guru juga dibekali pelatihan agar materi keberlanjutan ini bisa terus diajarkan secara mandiri.
Nunik Isnawati, perwakilan dari pihak TK, memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi pembelajaran ini. “Dengan tema tanaman sangat cocok bagi anak-anak bisa belajar dari pembibitan dan penanaman tumbuhan sangat bagus sekali bagi anak-anak untuk pembelajaran,” ungkapnya.
Ke depannya, pihak sekolah berkomitmen untuk menjadikan AgroSchooling sebagai agenda belajar rutin bagi anak-anak. Langkah ini diambil agar karakter peduli lingkungan benar-benar melekat kuat pada diri siswa sejak dini.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, nantinya akan diadakan “Green Sharing Day“, di mana hasil panen dari kebun sekolah akan dibagikan kepada wali murid sebagai simbol semangat berbagi dan keberlanjutan lingkungan. (*)

