SOLO, MENARA62.COM – Tausyiah atau kultum Tarawih di Masjid Balai Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (28/2/2026), menghadirkan anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah Surakarta sekaligus anggota Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kota Bengawan, Sigit Sugiarto. Dalam ceramahnya, ia mengupas makna puasa Ramadan, pengampunan, serta pentingnya iman dan keikhlasan dalam beribadah.
Di hadapan jamaah, Sigit membuka tausyiah dengan kisah nyata tentang pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menceritakan seorang bapak yang meninggal dunia akibat kecelakaan dan telah dimakamkan. Beberapa waktu kemudian, keluarga pelaku kecelakaan mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa dan memohon maaf.
“Ketika keluarga korban memaafkan, proses hukum tidak dilanjutkan dan pelaku yang sebelumnya dipenjara akhirnya dibebaskan. Inilah bukti bahwa pengampunan antarmanusia mampu menghadirkan kedamaian,” ujar Sigit.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi refleksi penting bagi umat Islam dalam memahami makna pengampunan Allah SWT, terutama di bulan Ramadan.
Hadis tentang Puasa dan Pengampunan
Sigit mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
“Man shama Ramadhana imanan wa ihtisaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi.”
Artinya, barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Ia menjelaskan, terdapat dua syarat utama agar puasa Ramadan menjadi jalan pengampunan dosa. Pertama, imanan, yakni keimanan kepada Allah dan keyakinan terhadap janji-Nya untuk mengampuni dosa. Kedua, ihtisaban, yaitu mengharap pahala semata-mata dari Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.
“Ketika seseorang yang bersalah meminta maaf lalu dimaafkan, ia merasakan kebahagiaan luar biasa. Begitu pula seorang hamba yang diampuni Allah karena puasa yang dilandasi iman dan keikhlasan,” jelasnya.
Perspektif Imam Al-Ghazali
Dalam tausyiah tersebut, Sigit juga menyinggung pandangan Imam Al-Ghazali tentang hakikat iman. Menurutnya, iman tidak hanya sebatas keyakinan, tetapi mencakup dua unsur penting, yakni syukur dan sabar.
Syukur berarti berterima kasih atas segala nikmat Allah, sekecil apa pun. Sementara sabar adalah kemampuan menahan diri, termasuk menahan amarah meskipun memiliki kesempatan untuk meluapkannya.
“Iman menuntut kita percaya pada janji Allah, termasuk janji pahala atas setiap kebaikan, baik yang dibalas di dunia maupun di akhirat,” terangnya.
Keistimewaan Puasa Ramadan
Sigit menegaskan, puasa merupakan ibadah istimewa yang balasannya secara langsung dijanjikan Allah sesuai kehendak-Nya. Puasa menuntut pengorbanan berupa rasa lapar, haus, dan lelah, sehingga tidak pantas jika dijalankan untuk mencari pujian manusia.
“Di era media sosial, godaan untuk memamerkan ibadah sangat besar. Padahal, puasa justru melatih keikhlasan karena tidak semua orang mengetahui kualitas ibadah seseorang,” ujarnya.
Ia mengingatkan jamaah agar meluruskan niat dalam beribadah, khususnya puasa Ramadan, hanya karena Allah SWT. Dengan niat yang benar, puasa tidak hanya menjadi kewajiban tahunan, tetapi juga sarana penghapus dosa dan peningkatan kualitas iman.
Pesan Moral
Dari tausyiah tersebut, Sigit menyimpulkan bahwa pengampunan antarmanusia membawa kedamaian dan dapat menghentikan konflik, bahkan proses hukum. Sementara itu, pengampunan Allah hanya diberikan kepada hamba yang beriman dan berpuasa dengan niat ikhlas mengharap pahala.
“Puasa Ramadan adalah momentum melatih syukur, sabar, dan keikhlasan. Kuncinya ada pada niat. Jika niat lurus karena Allah, insyaallah ibadah kita diterima dan menjadi jalan pengampunan dosa,” pungkasnya. (*)
Makna Puasa dan Pengampunan
- Advertisement -

