SOLO, MENARA62.COM – Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis sebagai pusat layanan umat yang mengintegrasikan dakwah, kesehatan komunitas, dan pendidikan Islam. Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Suwinarno, M.Pd.I., menjelaskan bahwa masjid sejak masa awal Islam memiliki peran yang sangat luas dalam membangun peradaban umat.
Suwinarno menyampaikan, Al-Qur’an menegaskan bahwa memakmurkan masjid merupakan salah satu ciri orang yang beriman. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 18 yang berbunyi:
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَۗ فَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
Artinya :
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
“Ayat tersebut menegaskan bahwa memakmurkan masjid bukan hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui berbagai aktivitas sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Suwinarno, Senin (16/3).
Suwinarno menuturkan bahwa masjid memiliki peran penting sebagai pusat dakwah yang menyejukkan dan mencerahkan umat. Dakwah yang dilakukan dari masjid harus dilaksanakan dengan cara yang bijaksana, dialogis, dan penuh kasih sayang.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 125 yang mengajarkan agar manusia diseru menuju jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik.
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ١٢٥
Artinya :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS An-Nahl: 125).
“Dakwah yang bersumber dari masjid seharusnya menghadirkan pesan-pesan Islam yang menenangkan, mendorong dialog, serta memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat,” jelas Suwinarno.
Selain sebagai tempat utama ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an, masjid juga memiliki fungsi yang luas dalam kehidupan umat. Pada masa Rasulullah SAW, masjid menjadi pusat pendidikan (madrasah), tempat dakwah, ruang musyawarah, tempat perlindungan bagi musafir, hingga tempat merawat orang sakit atau terluka.
Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap amanah yang diberikan Allah SWT. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 195 yang mengingatkan agar manusia tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan senantiasa berbuat baik.
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ١٩٥
Artinya : Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Selain itu, Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya menjaga kesehatan melalui hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atas dirimu.”
Menurut Suwinarno, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai program kesehatan berbasis masjid, seperti edukasi kesehatan, layanan pemeriksaan kesehatan, hingga kegiatan olahraga dan pola hidup sehat bagi jamaah.
Selain itu, masjid juga memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan dan pengembangan intelektual umat. Dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 disebutkan bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
Artinya: Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis riwayat Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”
“Masjid dapat menjadi ruang belajar yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” ungkap Suwinarno.
Ia menambahkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, masjid berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, sekaligus pelayanan umat. Integrasi antara dakwah, kesehatan, dan pendidikan akan melahirkan masyarakat yang beriman, berilmu, serta memiliki kesejahteraan sosial.
“Menghidupkan masjid berarti menghidupkan nilai-nilai keislaman dalam seluruh aspek kehidupan umat,” ujarnya.
Menurutnya, masjid harus terus didorong menjadi pusat ibadah, pusat ilmu, sekaligus pusat kemaslahatan sosial bagi masyarakat. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya umat untuk beribadah, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan yang membawa. (*)
