YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Pemetaan layanan wisata halal memudahkan muslim melakukan tour ke destinasi wisata tanpa melanggar syariat Islam. Sebab adanya Pemetaan Layanan Wisata Halal memudahkan wisatawan muslim memastikan hotel, restoran, dan destinasi yang mereka pilih memenuhi persyaratan Islam mulai dari ketersediaan fasilitas shalat, makanan halal, hingga ketentuan norma akomodasi yang sesuai.
Itulah maksud dan tujuan desertasi Dr Hendrik, ST, MEng, Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta. Desertasi berjudul “Konstruksi Graf Pengetahuan untuk Mengatasi Fragmentasi Pengetahuan pada Domain Pariwisata Halal: Metodologi Berbasis AI dengan Pengendalian Mutu Terintegrasi,” telah menghasilkan prototipe sistem Artificial Intelligence (AI) untuk pemetaan pariwisata halal.
Selama ini, kata Hendrik, informasi tentang wisata halal tersebar di ratusan sumber yang tidak saling terhubung dalam situs web, aplikasi perjalanan, dokumen sertifikasi, hingga ulasan pengguna. “Belum ada satu sistem terpadu yang bisa menjawab kebutuhan wisata halal secara andal,” kata Hendrik dalam rilisnya di Yogyakarta, Jumat (15/5/2026).
Penelitian dilakukan di bawah bimbingan Promotor Ir Adhistya Erna Permanasari, ST, MT, PhD dan Ko-Promotor Silmi Fauziati, Dr Eng ST, MT pada Program Doktor Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM). Penelitian tersebut berhasil dipertdipertahankan di hadapan dewan penguji pada 5 Januari 2026.
Hendrik menjelaskan sistem pengetahuan pariwisata yang ada saat ini, seperti berbagai tourism knowledge graph yang telah dikembangkan sebelumnya, tidak dirancang dengan pemahaman yang cukup terhadap persyaratan spesifik Islam. Akibatnya, Wisatawan Muslim, penyedia layanan, maupun pembuat kebijakan kesulitan mendapatkan informasi yang dapat dipercaya dalam satu tempat.
Penelitian ini, kata Hendrik, menghasilkan tiga hal konkret. Pertama, SAFAROnto, sebuah ontologi pariwisata halal yang untuk pertama kalinya secara formal merepresentasikan konsep-konsep kepatuhan Islam dalam konteks wisata. Ontologi ini memiliki hierarki tiga tingkat dengan 10 kelas utama, 75 subkelas, dan 401 properti. Evaluasi oleh para pakar memberikan rata-rata penilaian 4,0 hingga 4,5 dari 5 untuk semua kriteria, sementara penilaian teknis menggunakan framework OQuaRE menunjukkan bahwa 78 persen metrik mencapai peringkat sangat baik atau baik.
Kedua, kata Hendrik, sebuah metode ekstraksi pengetahuan berbasis Large Language Models (LLM) yang mampu secara otomatis mengambil dan memvalidasi informasi dari berbagai sumber teks web. Pengujian menunjukkan bahwa model GPT-4o-mini mencapai skor rata-rata 0,973 untuk precision, recall, F1-score, dan accuracy, dengan tingkat konsistensi tinggi. Yang penting, sistem ini tidak bekerja sepenuhnya otomatis. Akan tetapi, setiap tahap melibatkan verifikasi oleh pakar manusia untuk memastikan akurasi informasi yang sensitif secara religius.
Ketiga, tambah Hendrik, Halal Tourism Knowledge Graph (HTKG), basis data graf, yang mengintegrasikan hasil kerja dua komponen sebelumnya. Dalam tahap prototipe ini, HTKG memuat 2.331 node dan 184.460 relasi antar entitas pariwisata halal, dengan waktu respons query berkisar antara 4,6 hingga 45 milidetik.
“Ini masih prototipe yang divalidasi melalui studi kasus di Jepang. Data yang tersedia saat ini belum cukup untuk merepresentasikan kondisi pariwisata halal secara global. Namun, yang berhasil kami buktikan adalah bahwa pendekatan dan metodologinya bisa bekerja, dan itu yang menjadi fondasi untuk pengembangan lebih lanjut,” kata Hendrik. (*)

