SOLO, MENARA62.COM – SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta menutup rangkaian kegiatan pesantren kilat Ramadan dengan acara buka puasa bersama dan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Jumat (13/3/2026). Kegiatan tersebut dikemas menarik melalui pentas Wayang Golek Pitutur yang dibawakan oleh Ki Pujiono dari Boyolali.
Acara penutupan berlangsung meriah di lingkungan sekolah dengan diikuti para siswa, guru, serta orang tua. Sebelum pentas wayang dimulai, panitia terlebih dahulu mengumumkan sekaligus menyerahkan hadiah kepada para juara berbagai lomba yang digelar selama kegiatan pesantren kilat.
Kepala SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta, Gatot Suherman, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pesantren kilat yang berlangsung selama Ramadan.
“Alhamdulillah kegiatan pesantren kilat di SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta ditutup dengan buka bersama dan kajian Ramadan yang diisi oleh Ustaz Pujiono dari Banyudono, Boyolali. Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” ujar Gatot.
Menurutnya, pendekatan dakwah melalui seni budaya menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman kepada anak-anak.
Ia menjelaskan, penyampaian materi melalui media wayang golek membuat siswa lebih mudah memahami ajaran agama sekaligus mengenal nilai-nilai Kemuhammadiyahan.
“Dengan pendekatan seni wayang golek diharapkan anak-anak lebih mudah menerima materi agama sekaligus mendapatkan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Dalam pentas tadi juga disampaikan tokoh-tokoh Muhammadiyah melalui cerita wayang,” jelasnya.
Gatot berharap kegiatan semacam ini dapat menambah keimanan dan ketakwaan siswa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Muhammadiyah.
“Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memperkuat keimanan anak-anak dan menumbuhkan kader-kader Muhammadiyah di masa depan,” katanya.
Sementara itu, Ki Pujiono menyampaikan bahwa seni dan budaya dapat menjadi sarana efektif untuk berdakwah, khususnya kepada generasi muda.
“Intinya bagaimana kita mengenalkan dakwah kepada anak-anak melalui seni dan budaya. Harapannya ada pendidikan yang bisa diterima bahwa budaya juga dapat menjadi sarana dakwah,” ujar Ki Pujiono.
Pentas Wayang Golek Pitutur yang dibawakan Ki Pujiono berhasil menarik perhatian para siswa. Cerita yang disampaikan mengandung pesan moral dan nilai-nilai Islam yang dikemas secara ringan dan menghibur.
Antusiasme juga terlihat dari para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Dua siswa kelas 3A, Nafasya dan Husna, mengaku sangat senang dapat mengikuti acara buka bersama sekaligus menyaksikan pertunjukan wayang golek.
“Hari ini kami sangat senang karena bisa buka bersama dan melihat wayang golek pitutur. Ceritanya menarik dan tentang Muhammadiyah,” ujar Nafasya dan Husna kompak.
Kegiatan penutupan pesantren kilat ini diharapkan tidak hanya menjadi momen kebersamaan di bulan Ramadan, tetapi juga memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan. (*)
