SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menggelar Seminar Nasional XV di Ruang Seminar Lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah. Seminar tahunan tersebut menjadi forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, hingga praktisi untuk membahas tantangan pembangunan infrastruktur di tengah ancaman bencana dan perubahan iklim.
Ketua panitia, Agus Susanto, S.T., M.T., menyampaikan melalui tema “Tantangan dan Strategi Geoteknik dalam Pembangunan Infrastruktur Tahan Bencana dan Perubahan Iklim”, seminar menghadirkan berbagai materi terkait mitigasi bencana, kondisi geologi Jawa Tengah, hingga inovasi penelitian geoteknik.
“Dari total 67 makalah yang masuk, sebanyak 62 makalah lolos seleksi dan dipresentasikan dalam kegiatan,” ujar Agus melaporkan, Selasa (19/5).
Dalam sambutannya, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri dalam menghadapi tantangan pembangunan infrastruktur masa depan.
“Sekarang suhu berubah sangat cepat. Konon perubahan suhu di kota-kota besar sudah naik sekitar dua derajat dibandingkan 10 tahun sebelumnya. Tentu saja ini akan berpengaruh terhadap raw material bangunan seperti bata, beton, maupun besi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak lagi hanya mempertimbangkan kekuatan bangunan, tetapi juga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim dan risiko kebencanaan.
“Ini menjadi aspek penting, terutama di wilayah yang rawan bencana. Infrastruktur harus mampu bertahan terhadap kondisi lingkungan yang terus berubah,” tambahnya.
Pada sesi materi kebencanaan, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Tengah, Drs. Wahyudi Fajar, M.Si., memaparkan kondisi geografis Jawa Tengah yang menyebabkan sejumlah wilayah rawan banjir dan longsor. Menurutnya, wilayah tengah Jawa didominasi batuan tua yang mengalami pelapukan sehingga rentan longsor, sedangkan kawasan Pantura memiliki karakteristik dataran endapan.
Ia menjelaskan bahwa kawasan bekas Selat Muria yang kini berubah menjadi daratan memiliki potensi banjir tinggi karena secara alami menjadi jalur aliran air.
“Kalau hujan, air pasti mencari tempat paling rendah. Dahulu Selat Muria merupakan jalur air laut dan aliran dari pegunungan. Sekarang wilayah itu menjadi dataran seperti Grobogan, Pati, Demak, Kudus, dan Jepara, sehingga menjadi tempat penampungan air,” jelasnya.
Wahyudi menambahkan bahwa banjir menjadi bencana dengan tingkat risiko tertinggi di Jawa Tengah. Karena itu, peran akademisi dan lulusan teknik sipil sangat dibutuhkan dalam perencanaan drainase, pembangunan jembatan, talud, hingga sistem pengendalian air.
Materi lain disampaikan dosen Teknik Sipil UMS, Gayuh Aji Prasetyaningtiyas, S.T., M.Eng., Ph.D., yang memaparkan penelitian mengenai interaksi akar tanaman dengan tanah menggunakan metode centrifuge. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui pengaruh akar terhadap kestabilan lereng pada kondisi tanah jenuh sebagian.
Gayuh menjelaskan bahwa dalam sebuah penelitiannya dilakukan menggunakan akar tanaman asli dan simulasi gravitasi hingga 15 kali gravitasi bumi untuk memodelkan kondisi lereng berskala besar dengan menggunakan centrifuge.
Akan tetapi sebelum memodelkan centrifuge, perlu mengetahui dan mempersiapkan karakteristik tanah. Pertama direct shear, lalu soil water characteristic curve.
“Soil water characteristic adalah karakteristik tanah ketika berhadapan dengan air. Ketika menguap itu gimana kekuatannya, ketika basah itu gimana kekuatannya,” ujarnya.
Tahapan selanjutnya dilakukan dengan mempersiapkan tanamannya itu sendiri dengan mempelajari morfologi akarnya. Selanjutnya dilakukan uji centrifuge dan mencari tahu pergerakan tanah setelah dilakukan pengujian.
Selain itu, seminar ini juga menghadirkan narasumber dari PT. Tetrasa Geosinindo Pria Ardhana, S.T., M.T. Ia menceritakan pengalaman penanganan longsor di wilayah Ungaran, Semarang, pada tahun 2021 yang menyebabkan akses jalan terputus akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Menurutnya, longsor dipicu kombinasi pelapukan lereng dan rembesan air drainase yang masuk ke bidang gelincir tanah. Kondisi tersebut diperparah oleh curah hujan tinggi sehingga memicu longsoran besar.
“Kami menemukan adanya aliran drainase yang bocor dan airnya masuk ke bidang gelincir. Lama-kelamaan terbentuk retakan di dalam tanah hingga akhirnya terjadi longsor,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa proses penanganan longsor dilakukan melalui analisis kondisi tanah, pemodelan lereng, hingga pembangunan struktur perkuatan menggunakan kombinasi dinding penahan beton dan geosintetik. Proses konstruksi menjadi lebih menantang karena jalur tersebut tetap harus digunakan untuk aktivitas lalu lintas dan logistik masyarakat. (*)
