30.1 C
Jakarta

Penjelasan Prof Arum: Halusinasi hingga Kesurupan Massal

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Fenomena halusinasi, kesurupan massal, hingga perilaku bunuh diri pada penderita gangguan mental dijelaskan secara komprehensif oleh Prof Arum Pratiwi. Ia menyampaikan hal tersebut usai menghadiri jumpa pers pengukuhan dua calon guru besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di RM Dapur Solo Edutorium UMS, Senin (27/4/2026).

Dalam keterangannya, Arum mengungkapkan bahwa salah satu akar dari fenomena halusinasi pendengaran adalah disinkronisasi antar lobus otak. Kondisi ini membuat seseorang merasakan seolah-olah mendengar suara dari luar, padahal sebenarnya berasal dari persepsi internal.

“Secara medis, ini dikenal sebagai halusinasi pendengaran. Otak tidak sinkron, sehingga persepsi internal diposisikan seperti stimulasi eksternal,” jelasnya.

Namun, ia menambahkan bahwa dalam perspektif spiritual, fenomena tersebut sering dihubungkan dengan keselarasan energi otak dengan lingkungan. Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan diyakini dapat menjadi medium bagi energi atau entitas tak kasat mata.

Kesurupan dan Psikologi Kolektif

Lebih lanjut, Arum menjelaskan fenomena kesurupan, termasuk yang terjadi secara massal. Ia menilai bahwa kondisi ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja.

“Dalam kajian psikologi, kesurupan massal dapat dijelaskan melalui shared psychotic disorder, di mana pengalaman psikis dan kimiawi dirasakan bersama dalam satu kelompok,” ujarnya.

Ia juga mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep energi dalam tubuh, yang dalam perspektif tertentu disebut sebagai loncatan listrik otak yang tidak ritmis. Ketidaksinkronan ini dapat memicu peningkatan energi psikomotor, bahkan menular ke individu lain dalam satu lingkungan.

Meski demikian, Arum menegaskan bahwa kajian medis dan spiritual memiliki batas masing-masing, meskipun keduanya bisa saling melengkapi dalam memahami fenomena tersebut.

Eksplorasi Keyakinan Ekstrem

Arum juga menyoroti pentingnya pendekatan hati-hati dalam menangani individu yang memiliki keyakinan ekstrem, seperti merasa dirinya sebagai Tuhan.

“Ini tidak bisa disikapi secara sembrono. Harus ada eksplorasi mendalam, baik secara psikologis maupun spiritual,” tegasnya.

Menurutnya, fenomena tersebut bisa berkaitan dengan kondisi mental tertentu yang memengaruhi persepsi realitas seseorang.

Dua Tipe Bunuh Diri

Dalam kesempatan itu, Arum memaparkan dua tipe utama bunuh diri berdasarkan gangguan mental yang mendasarinya, yakni bipolar dan skizofrenia.

Pada penderita bipolar, keinginan bunuh diri umumnya muncul saat fase depresi, setelah sebelumnya mengalami fase mania atau euforia berlebihan.

Sementara itu, pada skizofrenia, tindakan bunuh diri sering dipicu oleh halusinasi berupa bisikan suara yang mengarahkan tindakan ekstrem.

“Ada pasien yang mengikuti suara untuk gantung diri atau mengunci diri dengan gas. Sebagian tersadar di detik terakhir, tapi ada juga yang tidak,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa perbedaan utama antara keduanya terletak pada kesadaran. Penderita bipolar umumnya menyadari keinginannya, sedangkan penderita skizofrenia sering kali berada di bawah pengaruh halusinasi.

Pentingnya Pemahaman Komprehensif

Arum menekankan bahwa baik bipolar maupun skizofrenia memiliki risiko fatal jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif—baik dari sisi medis maupun spiritual—sangat diperlukan.

“Kesadaran pasien sering muncul di saat-saat kritis. Di sinilah pentingnya intervensi yang tepat agar tindakan fatal bisa dicegah,” pungkasnya.

Penjelasan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fenomena gangguan mental, sekaligus mendorong penanganan yang lebih bijak dan berbasis ilmu. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!