YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) menegaskan pentingnya peran perempuan muda dalam menghadapi krisis lingkungan sekaligus mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan. Komitmen tersebut disampaikan melalui International Seminar bertajuk “From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Ecolivelihood for Sustainable and Just Societies” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (16/5/2026).
Seminar internasional ini menghadirkan akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga pegiat komunitas untuk membahas kepemimpinan perempuan muda dalam membangun gerakan ecolivelihood berbasis keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Ketua Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari, mengatakan perempuan muda memiliki posisi strategis dalam menggerakkan perubahan sosial di tengah tantangan krisis iklim dan ketimpangan pembangunan.
“Nasyiatul Aisyiyah memiliki anggota perempuan muda yang produktif mulai usia 17 hingga 40 tahun. Mereka memiliki kesadaran terhadap isu green movement, ecolivelihood, dan pemberdayaan komunitas,” ujar Ariati dalam sambutannya.
Menurutnya, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah selama ini telah aktif membangun gerakan berbasis komunitas di berbagai daerah, mulai dari pengelolaan lingkungan hingga penguatan ekonomi perempuan berbasis potensi lokal.
Ia mencontohkan sejumlah gerakan yang berkembang di daerah seperti Solo dan Banyuwangi, di mana kader Nasyiatul Aisyiyah terlibat dalam membangun kesadaran masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor.
“Di berbagai daerah seperti Solo dan Banyuwangi, kader-kader Nasyiatul Aisyiyah hadir mempengaruhi kesadaran masyarakat melalui gerakan kolektif dan kolaborasi dengan banyak pihak,” lanjutnya.
Ariati juga menyoroti peran BUANA (Badan Usaha Amal Nasyiatul Aisyiyah) sebagai wadah pengembangan kewirausahaan perempuan muda. Melalui program tersebut, perempuan muda didorong memiliki kapasitas kepemimpinan sekaligus kemampuan ekonomi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
“Melalui BUANA, perempuan muda Nasyiatul Aisyiyah memiliki ruang untuk mengembangkan keahlian, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan yang efektif. Ini sangat relevan dengan agenda sustainable economy dan pemberdayaan perempuan,” katanya.
Ia menegaskan, gerakan yang dilakukan Nasyiatul Aisyiyah sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya prinsip no one left behind atau tidak ada satu pun pihak yang tertinggal dalam pembangunan.
“Kontribusi ini merupakan bagian dari komitmen kami terhadap SDGs, bahwa tidak boleh ada satu pun yang tertinggal dalam pembangunan,” tegas Ariati.
Melalui seminar internasional tersebut, PPNA ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik, pengalaman komunitas, dan kebijakan publik untuk memperkuat gerakan ecolivelihood yang inklusif dan berkeadilan.
“Kami menyadari bahwa berbagai persoalan hari ini perlu dibahas melalui diskursus akademik dan kebijakan publik. Karena itu forum ini menghadirkan perspektif akademik sekaligus praktik nyata dari lapangan,” ujarnya.
Selain sesi seminar dan diskusi panel, kegiatan ini juga menghadirkan pengumuman Best of The Best National Call for Best Practices yang menampilkan praktik-praktik terbaik pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan dan keadilan sosial.
Ariati berharap forum internasional tersebut tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi juga melahirkan jejaring kolaborasi dan aksi nyata yang berdampak luas bagi masyarakat dan lingkungan.
“Kami berharap seminar ini memberi manfaat yang besar dan berdampak bagi dunia. Jika kita menunjukkan sedikit cinta dan kepedulian, kita bisa menghadirkan perubahan,” pungkas dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tersebut. (*)
