26.2 C
Jakarta

Haedar Nashir Serukan Kebangkitan Spiritualitas Takwa

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyerukan pentingnya kebangkitan spiritualitas takwa di tengah berbagai krisis moral, sosial, dan kebangsaan yang masih melanda Indonesia menjelang momentum Iduladha 1447 Hijriah.

Menurut Haedar, Iduladha tidak boleh dimaknai sebatas ritual formal berupa salat Id dan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, ibadah Iduladha harus menjadi sarana pembentukan manusia bertakwa yang menghadirkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Allah menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari manusia yang melaksanakannya. Karena itu, substansi Iduladha adalah penguatan spiritualitas dan moralitas,” ujar Haedar pada Selasa (26/5).

Haedar menjelaskan, seluruh ibadah dalam Islam sejatinya bermuara pada pembentukan pribadi yang tunduk kepada Allah SWT, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

Ia menilai keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail menjadi gambaran nyata spiritualitas takwa yang melahirkan jiwa pengorbanan, kepasrahan, dan kebajikan.

“Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya atas perintah Allah. Siti Hajar menunjukkan keteguhan iman, sementara Nabi Ismail memperlihatkan kepatuhan yang sangat tinggi. Ketiganya menjadi uswah hasanah tentang bagaimana ketakwaan melahirkan jiwa pengorbanan dan kebajikan,” jelasnya.

Haedar menegaskan, spiritualitas takwa akan membentuk manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjauhi kerakusan duniawi, dan tidak terjebak egoisme pribadi. Dari sikap itulah lahir nilai ihsan atau kebajikan dalam kehidupan sosial.

Menurutnya, insan bertakwa akan hidup dengan kejujuran, kesederhanaan, ketulusan, kesabaran, serta kepedulian terhadap sesama. Mereka juga memiliki etos ilmu, semangat bekerja keras, dan menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang amal menuju akhirat.

Sebaliknya, Haedar mengingatkan bahwa hilangnya nilai takwa menjadi akar berbagai persoalan bangsa, mulai dari korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi sistem, kerakusan ekonomi, hingga kerusakan lingkungan.

“Spiritualitas takwa membuat seseorang tidak akan korupsi, tidak semena-mena dalam kekuasaan, tidak anti kritik, tidak tamak, dan tidak merusak alam demi keuntungan sesaat,” tegasnya.

Dalam konteks kehidupan modern, Haedar juga menyoroti pentingnya menghadirkan akhlak mulia di ruang publik dan media sosial. Ia mengingatkan agar masyarakat menghindari ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan berbagai perilaku digital yang dapat merusak persatuan bangsa.

“Ketakwaan harus tercermin dalam cara bermedia sosial, dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan membangun ukhuwah dengan nyata,” katanya.

Haedar turut menyinggung persoalan kesenjangan sosial dan perilaku ajimumpung yang masih terjadi di Indonesia. Menurutnya, kerakusan manusia yang kehilangan orientasi moral dan spiritual telah melahirkan ketidakadilan di tengah masyarakat.

“Hasrat untuk menguasai segala sesuatu tanpa batas membuat manusia rela merugikan sesama dan merusak lingkungan. Karena itu bangsa ini membutuhkan kebangkitan spiritualitas taqwa yang melahirkan kebajikan nyata,” ujarnya.

Ia berharap momentum Iduladha menjadi kekuatan transformasi moral bagi umat dan bangsa, sehingga lahir kehidupan yang lebih adil, berkeadaban, dan penuh kemaslahatan.

Tak hanya itu, Haedar juga memberikan pesan khusus kepada generasi milenial, generasi Z, dan generasi Alfa agar menjadikan Iduladha sebagai sarana membangun karakter unggul dan berkemajuan.

Ia mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang taat beragama, gemar membaca, mencintai ilmu pengetahuan, menguasai teknologi, mandiri, serta menjunjung tinggi akhlak dan etika.

“Generasi muda jangan terjebak budaya instan, malas, hedonistik, dan gemar pamer kemewahan. Spiritualitas takwa harus melahirkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan memberi manfaat bagi kehidupan,” pungkas Haedar. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!