31.5 C
Jakarta

Pendidikan Jasmani UMS Cetak Alumni Guru Berkemajuan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Jasmani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) meneguhkan komitmennya dalam mencetak lulusan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter Islami dan jiwa pengabdian. Hal itu diwujudkan melalui kegiatan Yudisium dan Pembekalan Calon Wisudawan FKIP UMS Tahun 2026 di Gedung Auditorium Mohammad Djazman UMS, Kamis (18/6/2026).

 

Momentum tersebut menjadi bagian penting sebelum para calon sarjana mengikuti prosesi wisuda. Selain sebagai pelepasan akademik, kegiatan ini juga menjadi ruang pembekalan agar para lulusan siap menghadapi dunia kerja, pengabdian masyarakat, dan peran sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah.

 

Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa lulusan FKIP harus siap mengabdi kepada masyarakat. Menurutnya, profesi guru memiliki posisi strategis karena menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan peradaban bangsa.

 

“Sarjana FKIP harus siap mengabdi. Guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup untuk mencerdaskan bangsa,” ujar Prof. Harun.

 

Ia menjelaskan, tantangan zaman yang semakin dinamis menuntut para pendidik untuk terus belajar sepanjang hayat. Guru masa kini harus memiliki kemampuan akademik, pedagogik, sekaligus mampu menjadi teladan dan penggerak perubahan di tengah masyarakat.

 

Dalam kesempatan itu, Prof. Harun juga mengapresiasi perjuangan salah satu wisudawan asal Papua yang berhasil menyelesaikan pendidikan di UMS. Menurutnya, semangat tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk meraih pendidikan berkualitas.

 

UMS juga memberikan penghargaan berupa beasiswa pendidikan 100 persen kepada wisudawan terbaik sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan generasi muda berprestasi. Selain itu, alumni juga berkesempatan mengikuti program magang dan pengabdian internasional di New Zealand melalui jejaring Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM).

 

Dalam pembekalan, Prof. Harun memperkenalkan konsep “PT Guru” atau Pengabdian dan Transendensi, Urub, Urib sebagai nilai penting bagi calon pendidik. Konsep tersebut menekankan bahwa seorang guru tidak hanya mengajar, tetapi juga harus memiliki jiwa pengabdian dan menjadikan profesinya sebagai bagian dari ibadah.

 

Sementara itu, Dekan FKIP UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., secara simbolis menyerahkan mahasiswa kepada perwakilan orang tua sebagai tanda selesainya amanah pendidikan yang diberikan kepada FKIP UMS.

 

Ia berpesan agar para lulusan tidak berhenti setelah memperoleh gelar sarjana, tetapi terus mengembangkan kompetensi, karakter, dan nilai kemanusiaan.

 

“Kelulusan ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal perjalanan baru. Jadilah sarjana yang cakap, hebat, islami, dan mencerahkan,” pesan Prof. Anam.

 

Pada yudisium tahun ini, Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UMS menghadirkan langkah strategis dalam penguatan kader Muhammadiyah. Dr. Eko Sudarmanto, S.Pd., M.Or., menegaskan bahwa seluruh mahasiswa Pendidikan Jasmani dipastikan telah memiliki Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah (KTAM) sebelum mengikuti wisuda.

 

Menurutnya, KTAM bukan sekadar dokumen administratif, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan identitas dan komitmen kader Muhammadiyah.

 

“Kami ingin memastikan mahasiswa kami memiliki KTAM sebagai wujud tanggung jawab dalam proses pengkaderan Muhammadiyah. Harapannya, alumni tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi kader umat, kader bangsa, dan kader persyarikatan,” jelas Dr. Eko.

 

Ia menambahkan, penguatan nilai kemuhammadiyahan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan di UMS. Lulusan Pendidikan Jasmani diharapkan mampu membawa nilai Islam berkemajuan, mengembangkan budaya hidup sehat, serta berkontribusi dalam pembinaan masyarakat.

 

Melalui yudisium dan pembekalan ini, FKIP UMS kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mencetak sarjana berprestasi, tetapi juga melahirkan lulusan berkarakter, berwawasan global, dan memiliki semangat pengabdian untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!