KUALA LUMPUR, MENARA62.COM — Menyambut Tahun Baru Hijriyah 1448 H, Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia menggelar Tabligh Akbar bertema “Wanita Muslimah, Untuk Siapakah Cintamu?” di Rumah Hamka (Ruhama), Kuala Lumpur, Rabu (17/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan penceramah asal Bandung, Jawa Barat, Ninih Muthmainah, yang mengajak para muslimah melakukan refleksi tentang arah dan prioritas cinta dalam kehidupan seorang mukmin.
Tabligh Akbar ini diikuti lebih dari 50 peserta yang terdiri atas warga Aisyiyah serta jamaah dari berbagai kelompok pengajian di Kuala Lumpur dan sekitarnya. Kegiatan berlangsung hangat dengan semangat para peserta untuk memperdalam ilmu agama dan memperkuat keimanan menyambut tahun baru Islam.
Ketua PCIA Malaysia, Dini Oktarina Dwi Handayani, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada panitia, narasumber, dan seluruh peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan Rumah Hamka (Ruhama) sebagai pusat kegiatan dan pembinaan warga Aisyiyah di Malaysia.
“Selamat datang di Rumah Hamka, rumah kebanggaan kita bersama. Semoga tempat ini terus menjadi pusat kegiatan, pembelajaran, dan pengembangan diri bagi ibu-ibu Aisyiyah di Malaysia,” ujar Dini.
Menurutnya, Aisyiyah tidak hanya menjadi wadah pengajian, tetapi juga ruang pemberdayaan perempuan agar terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta umat.
Dalam kegiatan tersebut, PCIA Malaysia juga memperkenalkan sejumlah program pelatihan yang akan dilaksanakan serta mengajak anggota untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pengembangan diri.
Suasana acara semakin semarak dengan penampilan nasyid dari ibu-ibu Aisyiyah yang menghadirkan nuansa dakwah sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antarjamaah.
Dalam tausiyahnya, Ninih Muthmainah mengajak peserta merenungkan sebuah pertanyaan penting: “Untuk siapakah cinta terbesar yang selama ini kita simpan dalam hati?”
Ia menjelaskan bahwa manusia sering kali mencurahkan cinta dan perhatian kepada pasangan, anak-anak, keluarga, pekerjaan, maupun harta. Namun, semua itu bersifat sementara sehingga cinta terbesar tetap harus diarahkan kepada Allah SWT.
Mengutip pesan dalam Surah At-Taubah ayat 24, Ninih mengingatkan bahwa kecintaan kepada keluarga, harta, dan urusan dunia tidak boleh melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Ketika terjadi pertentangan antara kepentingan dunia dan perintah Allah, maka seorang mukmin akan mendahulukan apa yang dicintai Allah SWT,” jelasnya.
Ia menambahkan, tanda seseorang memiliki cinta yang kuat kepada Allah antara lain hati yang bergetar ketika nama Allah disebut, gemar membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, menikmati ibadah, serta berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Menurutnya, cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, maupun harta bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Namun, semua bentuk cinta tersebut harus ditempatkan secara tepat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak menjadikan momentum Tahun Baru Hijriyah 1448 H sebagai langkah memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menata kembali orientasi cinta dalam kehidupan.
“Ketika cinta kepada Allah menjadi yang utama, maka cinta kepada keluarga, pasangan, anak-anak, dan sesama akan menemukan tempat yang tepat,” menjadi pesan utama dalam kajian tersebut.
Tabligh Akbar PCIA Malaysia ini diharapkan menjadi penguat semangat hijrah bagi para muslimah untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah SWT. (Soleh)
