JAKARTA, MENARA62.COM — Malam Budaya Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif yang digelar di Museum Nasional Jakarta, Kamis (18/6/2026), menjadi momentum refleksi atas pemikiran, keteladanan, dan warisan kemanusiaan tokoh bangsa tersebut.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional Pimpinan Pusat Muhammadiyah (LHKI PP Muhammadiyah), Yayah Khisbiyah, menyampaikan testimoni tentang pengaruh besar Buya Ahmad Syafii Maarif dalam perjalanan intelektual, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Yayah mengungkapkan bahwa dirinya berkesempatan merasakan langsung keluasan pandangan Buya Syafii sejak masa awal kiprahnya di dunia pemikiran Islam dan kebangsaan.
“Perkenankan saya juga turut berbagi dan bersyukur pernah merasakan langsung keluasan pandangan Buya dan bagaimana sentuhan beliau telah ikut menghantarkan saya dalam kiprah saya sekarang di Muhammadiyah maupun komunitas-komunitas kebangsaan dan internasional,” tuturnya.
Ia mengenang masa ketika dirinya direkrut oleh dua dari “Tiga Pendekar Chicago” untuk menjadi sekretaris di Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Blimbingsari, Yogyakarta.
Istilah “Tiga Pendekar Chicago” yang diperkenalkan oleh Abdurrahman Wahid merujuk kepada tiga tokoh pembaruan pemikiran Islam, yaitu Ahmad Syafii Maarif, Nurcholish Madjid, dan Amien Rais yang menempuh studi doktoral di University of Chicago.
Menurut Yayah, PPSK menjadi ruang penting bagi perkembangan gagasan intelektual Muslim Muhammadiyah. Di tempat tersebut, ia banyak belajar dari para cendekiawan Muhammadiyah, terutama Buya Syafii dan almarhum Prof. Kuntowijoyo.
“Di situlah saya berkembang dalam asuhan dan inspirasi para cendekiawan Muhammadiyah,” ungkapnya.
Yayah juga menyoroti peran Buya Syafii dalam mendukung dialog antara Islam, seni, budaya, dan keberagaman. Ia mengenang dukungan moral dan intelektual Buya ketika sebagian kalangan masih memandang curiga terhadap seni tradisi lokal dan multikulturalisme.
Menurutnya, Buya memberikan ruang bagi lahirnya pemahaman Islam yang ramah terhadap kebudayaan, menghargai keberagaman, serta terbuka terhadap dialog dengan kearifan lokal.
“Dari Buya saya belajar bahwa menjadi Muslim yang teguh tidak berarti menjadi sempit, dan mencintai tradisi budaya yang beragam tidak berarti kehilangan kemurnian iman,” kata Yayah.
Ia menyebut Buya Syafii Maarif bukan hanya sebagai Guru Bangsa, tetapi juga guru kemanusiaan yang mengajarkan bahwa iman harus menjadi jalan penghubung antarmanusia.
“Iman yang dewasa bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan. Iman yang matang bukan alasan untuk menghakimi, tetapi keberanian untuk membela yang lemah, melawan ketidakadilan, dan menegakkan keadilan sosial,” ujarnya.
Dalam testimoninya, Yayah juga mengangkat perhatian Buya Syafii terhadap isu global, termasuk perjuangan pendidikan perempuan dan persoalan Palestina.
Ia mencontohkan tulisan Buya tentang Malala Yousafzai yang menggambarkan keberanian seorang anak perempuan memperjuangkan hak pendidikan. Bagi Buya, kata Yayah, Malala bukan hanya simbol perjuangan perempuan, tetapi simbol keberanian nurani manusia melawan penindasan.
“Dari sana saya memahami bahwa kemanusiaan Buya sejatinya melampaui batas bangsa, agama, dan jenis kelamin,” jelasnya.
Yayah menambahkan, keberpihakan Buya terhadap Palestina juga lahir dari semangat kemanusiaan universal dan perjuangan terhadap keadilan, bukan sekadar solidaritas keagamaan.
Warisan internasionalisme kemanusiaan Buya, lanjutnya, terus dirawat melalui berbagai kerja sama dan diplomasi kemanusiaan Muhammadiyah, termasuk melalui LHKI PP Muhammadiyah bersama para tokoh Muhammadiyah lainnya.
Di tengah tantangan zaman yang penuh polarisasi, Yayah menilai Buya Syafii Maarif tetap menjadi suluh yang mengingatkan masyarakat Indonesia tentang pentingnya persaudaraan, keadilan, dan kemanusiaan.
“Warisan terbesar Buya bukan hanya gagasan, melainkan keteladanan: hidup sederhana, berpikir merdeka, berani melawan korupsi, kesenjangan sosial, serta menghadirkan perdamaian bagi semua makhluk,” pungkasnya.
Malam Budaya Bulan Buya Ahmad Syafii Maarif menjadi pengingat bahwa perjuangan pemikiran dan nilai-nilai kemanusiaan Buya perlu terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
