29.5 C
Jakarta

Prabowo Dukung Pendanaan Riset dari BUMN, Targetkan Reformasi Besar-Besaran Perusahaan Negara

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Presiden Prabowo Subianto menyatakan dukungannya terhadap usulan agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalokasikan sebagian laba perusahaan untuk mendukung riset dan inovasi di perguruan tinggi. Menurutnya, gagasan tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem penelitian nasional, seiring upaya pemerintah membenahi kinerja BUMN agar lebih sehat dan produktif.

Hal tersebut disampaikan Presiden menanggapi usulan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) pada penutupan KSTI 2026, Minggu (28/6/2026).

Dalam arahannya Presiden mengatakan bahwa usulan tersebut dapat direalisasikan apabila kondisi keuangan BUMN semakin baik. “Usul sektor biaya riset agar setiap BUMN mengalokasikan sebagian laba mereka untuk riset dan inovasi, ini bagus,” ujar Presiden.

Meski demikian, Presiden mengingatkan bahwa selama bertahun-tahun banyak BUMN menghadapi persoalan tata kelola dan efisiensi. Karena itu, pemerintah saat ini tengah menjalankan reformasi menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan pelat merah.

Presiden mengungkapkan bahwa pemerintah telah menutup lebih dari 200 BUMN dari total lebih dari seribu entitas yang sebelumnya ada. Ke depan, jumlah perusahaan negara ditargetkan dirampingkan hingga sekitar 250–300 entitas agar lebih efektif dan memiliki kinerja yang lebih baik.

Menurutnya, penyederhanaan tersebut juga bertujuan mengurangi beban biaya operasional yang selama ini dinilai terlalu besar, termasuk biaya untuk jajaran direksi dan komisaris. Ia menegaskan bahwa dana yang dikelola BUMN merupakan uang rakyat sehingga harus digunakan secara efisien dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.”Kita mau sekarang rasional, efisien, dan lebih bekerja untuk rakyat,” tegasnya.

Presiden optimistis reformasi tersebut dapat diselesaikan dalam dua tahun sehingga BUMN memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat dan mampu berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional, termasuk melalui pendanaan riset dan inovasi.

Selain membahas reformasi BUMN, Presiden juga menanggapi berbagai masukan dari kalangan akademisi mengenai strategi hilirisasi industri. Ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki visi untuk membawa Indonesia naik ke tahap penciptaan produk akhir bernilai tambah, bukan hanya sebagai penghasil bahan baku atau produk setengah jadi.

Menurut Presiden, proses tersebut membutuhkan investasi besar dan waktu yang tidak singkat, namun menjadi arah pembangunan industri nasional yang terus didorong pemerintah.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga mendukung perluasan kerja sama perguruan tinggi Indonesia dengan institusi pendidikan luar negeri. Ia menyatakan kolaborasi internasional perlu melibatkan lebih banyak universitas di berbagai daerah agar peningkatan kualitas pendidikan tinggi dapat dirasakan secara merata.

Presiden turut menyoroti perkembangan teknologi global, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia mengatakan hampir seluruh negara saat ini berlomba mengembangkan teknologi tersebut karena dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong kemajuan di berbagai sektor.

Namun demikian, Presiden mengingatkan bahwa para pengembang AI sendiri telah menyampaikan peringatan mengenai berbagai risiko yang mungkin muncul apabila teknologi tersebut tidak dikelola secara bertanggung jawab. Ia mencontohkan bahwa perkembangan AI saat ini telah melahirkan sistem yang mampu bekerja secara mandiri dan berinteraksi menggunakan bahasa pemrogramannya sendiri.

Menurut Presiden, perkembangan tersebut menjadi tantangan baru yang harus dikaji secara serius oleh kalangan akademisi, khususnya para profesor dan peneliti, agar pemanfaatan AI tetap berada dalam koridor kepentingan manusia.

Menutup sambutannya, Presiden menyampaikan apresiasi atas berbagai usulan yang diberikan Forum Rektor Indonesia. Ia memastikan pemerintah akan menindaklanjuti sejumlah rekomendasi yang dinilai realistis, termasuk peningkatan alokasi beasiswa doktor (S3) bagi dosen di perguruan tinggi negeri maupun swasta sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Kami menerima banyak usulan yang sangat baik dan masuk akal. Contohnya alokasi beasiswa doktor bagi dosen, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ini usul yang sangat baik dan akan kami tindak lanjuti,” kata Presiden.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!