32.9 C
Jakarta

Diresmikan Haedar Nashir, Muhammadiyah Sapen Universal School Hadir Jadi Sekolah Berkelas Dunia

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM
SD Muhammadiyah Sapen kembali menorehkan sejarah baru. Pada Sabtu (4/7/2026), sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan Muhammadiyah di Indonesia itu meresmikan gedung baru Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) yang beralamat di Jl. Ring Road Selatan No.37, Gatak, Tamantirto, Kec. Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55183.
Peresmian dilakukan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, dengan menekan layar digital dan dilanjutkan penandatanganan prasasti.
Acara peresmian berlangsung khidmat dan dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes. , Ketua PWM DIY Dr. H. Ikhwan Ahada, M.Ag, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A., jajaran PDM Kota Yogyakarta, PDM Bantul, Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc.., Rektor UAD Prof. Dr. Muchlas, M.T.. Rektor UNISA Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat.serta para pimpinan amal usaha Muhammadiyah.
Kegiatan diawali dengan penampilan siswa SD Muhammadiyah Sapen yang menampilkan berbagai atraksi seni. Suasana semakin semarak saat paduan suara siswa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Sang Surya.
Ketua Tim Pembangunan MSUS, Gita Danupranata, M.M, dalam laporannya menyampaikan bahwa pembangunan Muhammadiyah Sapen Universal School merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang unggul, modern, dan berdaya saing global.
Pembangunan gedung ini dilaksanakan oleh PT Karya Unggul Berkemajuan (PT KUP), yang dikelola oleh putra-putri alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan sistem swakelola, serta mendapat pendampingan dan pengawasan dari PT MPN, perusahaan milik Persyarikatan Muhammadiyah.
“Gambaran fisik bangunan luas lahan keseluruhan mencapai sekitar 8.200 meter persegi, hingga batas pagar belakang, dan seluruhnya merupakan aset atas nama Persyarikatan Muhammadiyah, yang pada awalnya diusahakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, luas bangunan mencapai 4.947 meter persegi, dengan enam lantai. Proses pembangunan diselesaikan dalam waktu 274 hari kalender, kurang dari satu tahun dengan pembangunan bergaya Bandung Bondowoso, karena pekerjaan berlangsung tujuh hari dalam sepekan dan dua puluh empat jam setiap harinya” ujarnya.
Ketua PWM DIY, Dr. H. Ikhwan Ahada, M.Ag, menyampaikan “ kesyukuran telah berdirinya TK ABA Semesta yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Selanjutnya, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY berikhtiar melanjutkan estafet pendidikan bagi para alumninya melalui pembangunan SD Muhammadiyah Sapen Universal School. Ke depan, kami juga bertekad mewujudkan sekolah lanjutan, baik SMP maupun SMA, yang benar-benar mencerminkan karakter Islam Berkemajuan dan modernitas Persyarikatan Muhammadiyah”.
PWM DIY memang kecil, tetapi indah dan berdaya—small, beautiful, but powerful, semoga seluruh ikhtiar warga Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta ini mampu melahirkan generasi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan dengan mengamalkan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

Puncak acara berlangsung saat Prof. Dr. Haedar Nashir meresmikan gedung MSUS di hadapan ratusan tamu undangan. Dalam amanatnya, Haedar menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi peradaban yang akan menentukan masa depan bangsa .
“ SD Muhammadiyah Sapen dahulu memulai perjalanan dengan sangat sederhana dan bagaimana sekolah itu bertumbuh dari waktu ke waktu dan hari ini lahir Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS) sebagai pengembangan baru dengan orientasi dan program bertaraf internasional’.
Jangan pernah melupakan SD Muhammadiyah Sapen yang lama. Ketika memperoleh sesuatu yang baru, jangan melupakan yang lama. Di situlah sejarah kita. Di situlah tonggak perjuangan (milestone) yang sangat penting.
SD Muhammadiyah Sapen harus tetap dikembangkan sesuai karakter dan kekuatannya. Demikian pula MSUS harus tumbuh dengan karakter, keunggulan, dan distingsinya sendiri. Keduanya bukan saling menggantikan, melainkan saling menguatkan.
Kalau dahulu Muhammadiyah menjadi pelopor, maka sekarang pun harus tetap menjadi pelopor. Jangan pernah merasa cukup hanya karena memiliki captive market atau basis warga sendiri. Itu tidak cukup.
Sikap merasa aman dengan keadaan yang ada akan melahirkan stagnasi. Stagnasi akan melahirkan kejumudan. Dan kejumudan adalah musuh terbesar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Pendidikan merupakan bidang yang paling rumit dan paling kompleks dalam kehidupan suatu bangsa. Bukan hanya Muhammadiyah yang menghadapi tantangan besar, bahkan negara pun hingga kini masih terus berjuang mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.
Oleh sebab itu, pendidikan kita tidak cukup hanya melahirkan generasi yang saleh secara individual. Anak-anak kita harus menjadi pribadi yang saleh, alim, dan berakhlak mulia, tetapi sekaligus menjadi pelaku kemajuan yang mampu membangun peradaban.

Karena itu pula, pengembangan mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan harus terus melakukan pembaruan. Pendekatan keagamaan harus mampu mengintegrasikan dimensi penghambaan kepada Allah dengan dimensi kekhalifahan di muka bumi.
Perangkat pendidikan, kurikulum, dan cara pandang keagamaan kita harus terus dikembangkan agar tetap relevan dengan tantangan zaman.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!