BANDUNG, MENARA62.COM – Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, tetapi juga menggunakan beragam istilah untuk menggambarkan proses penciptaan tersebut. Setiap istilah memiliki makna yang berbeda dan menyimpan pesan mendalam tentang perjalanan hidup, karakter, hingga spiritualitas manusia.
Hal itu disampaikan dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Ketua DKM Masjid Raya Mujahidin PWM Jawa Barat, Ihsan Imaduddin, dalam kegiatan Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat bertajuk Menyelami Variasi Kata Tanah Sebagai Bahan Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an.
Menurut Ihsan, penggunaan berbagai istilah tanah dalam Al-Qur’an bukan sekadar variasi bahasa. Setiap kata menggambarkan tahapan pembentukan manusia sekaligus menjadi refleksi perjalanan hidup yang relevan hingga saat ini.
“Penggunaan berbagai istilah tanah dalam Al-Qur’an bukanlah sekadar variasi bahasa. Setiap kata memiliki karakteristik tersendiri yang menggambarkan fase pembentukan manusia sekaligus perjalanan kehidupannya,” ujarnya.
Ia mengawali penjelasannya dengan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu’minun ayat 12 yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah.
Ihsan menjelaskan, istilah thin atau tanah liat melambangkan fase awal kehidupan manusia yang masih lembut dan mudah dibentuk. Layaknya tanah liat yang lentur, manusia lahir dalam keadaan fitrah dan memiliki potensi besar untuk menerima nilai-nilai kebaikan melalui pendidikan dan pembinaan.
Tahapan berikutnya adalah thin lazib, yakni tanah liat yang lengket. Menurutnya, istilah ini menggambarkan pentingnya keterikatan antarmanusia melalui kasih sayang, persaudaraan, gotong royong, dan solidaritas sosial. Namun, manusia juga diingatkan agar tidak terlalu melekat pada kenikmatan dunia hingga melupakan tujuan hidup yang hakiki.
Selanjutnya, sulalah yang berarti sari pati atau esensi terbaik dari tanah menunjukkan bahwa setiap manusia telah dianugerahi potensi terbaik oleh Allah SWT. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui ilmu, amal saleh, dan akhlak mulia agar memberikan manfaat bagi sesama.
Ihsan juga mengulas makna shalshal, yaitu tanah kering seperti tembikar. Istilah ini melambangkan fase kedewasaan ketika seseorang dituntut memiliki prinsip hidup yang kokoh. Namun, keteguhan itu tidak boleh berubah menjadi sikap keras kepala yang menolak nasihat maupun perubahan menuju kebaikan.
Sementara itu, turab atau pasir menjadi pengingat akan asal-usul manusia yang sederhana. Setinggi apa pun jabatan, ilmu, maupun harta yang dimiliki, manusia berasal dari tanah dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.
“Kesadaran inilah yang melahirkan sifat tawadhu’ serta menjauhkan manusia dari kesombongan,” jelasnya.
Makna mendalam lainnya terdapat pada istilah hama’in masnun, yaitu tanah hitam yang telah dibentuk. Ihsan menilai istilah ini dapat dimaknai sebagai proses pembentukan karakter manusia melalui berbagai pengalaman hidup, termasuk kegagalan, luka, dan ujian.
Menurutnya, setiap cobaan yang dihadapi seseorang dapat menjadi sarana pendewasaan apabila disikapi dengan baik. Pengalaman tersebut justru membentuk pribadi yang lebih kuat, bijaksana, dan matang dalam menghadapi kehidupan.
“Manusia merupakan makhluk yang utuh dengan dimensi fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berkaitan. Pemahaman terhadap asal-usul penciptaan manusia menjadi pengingat agar setiap individu senantiasa menjaga kelembutan hati, membangun hubungan sosial yang sehat, mengembangkan potensi diri, serta menjadikan setiap pengalaman hidup sebagai jalan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT,” tuturnya.
Di akhir kajian, Ihsan mengajak umat Islam untuk tidak berhenti memahami Al-Qur’an secara tekstual. Menurutnya, kekayaan bahasa dalam kitab suci tersebut menyimpan hikmah yang dapat membentuk karakter manusia menjadi pribadi yang beriman, berilmu, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.
Ia menegaskan, enam variasi kata “tanah” dalam Al-Qur’an menjadi gambaran utuh perjalanan manusia, mulai dari fitrah yang suci, membangun relasi sosial, mengembangkan potensi, menempa kedewasaan, menjaga kerendahan hati, hingga menjadikan setiap ujian sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. (HMA)
