SOLO, MENARA62.COM — Di tengah persaingan lembaga pendidikan anak usia dini yang semakin ketat, TK Aisyiyah 20 Pajang, Surakarta, mampu bertahan bahkan berkembang menjadi salah satu taman kanak-kanak unggulan dengan jumlah peserta didik yang terus meningkat. Di balik capaian tersebut, terdapat sosok Kepala TK Aisyiyah 20 Pajang, Sri Lestariningsih, yang menerapkan kepemimpinan berbasis keteladanan, pelayanan, dan kedekatan dengan masyarakat.
Bagi Sri Lestariningsih, keberhasilan sebuah TK bukan semata ditentukan oleh gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap. Yang paling utama adalah komitmen guru dalam melayani anak-anak dan orang tua dengan sepenuh hati.
“Menjadi guru TK itu harus 100 persen. Masalah pribadi harus ditinggalkan ketika memasuki sekolah. Anak-anak berhak mendapatkan guru yang ceria, sabar, dan penuh semangat,” ujarnya.
Prinsip tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Ia selalu hadir lebih awal sebelum anak-anak datang, menyambut mereka dengan senyum, menyapa satu per satu, sekaligus membangun komunikasi hangat dengan para orang tua.
Membangun Kepercayaan Masyarakat
Menurut Sri Lestariningsih, promosi paling efektif bukan berasal dari iklan, melainkan kepuasan wali murid.
Karena itu, seluruh guru didorong memberikan pelayanan terbaik sehingga orang tua dengan sukarela merekomendasikan TK Aisyiyah 20 Pajang kepada keluarga, tetangga, maupun kerabat.
Selain mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, sekolah juga aktif menyebarkan brosur, menjalin komunikasi langsung dengan masyarakat, hingga memberikan berbagai kemudahan saat Penerimaan Peserta Didik Baru, termasuk potongan biaya sumbangan pendidikan.
Pendekatan tersebut terbukti efektif. Banyak peserta didik baru justru berasal dari luar wilayah Pajang karena memperoleh rekomendasi dari wali murid yang telah merasakan kualitas layanan sekolah.
Menjemput Murid, Bukan Menunggu
Salah satu prinsip yang selalu dipegang Sri Lestariningsih adalah sekolah tidak boleh pasif menunggu calon murid datang.
Bahkan pada masa liburan sekalipun, ia tetap membuka komunikasi dengan masyarakat dan melayani pendaftaran apabila ada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya.
Baginya, pelayanan pendidikan tidak mengenal hari libur ketika masyarakat membutuhkan informasi.
“Kami harus aktif. Jangan hanya menunggu. Sekolah harus hadir di tengah masyarakat,” katanya.
Terjun Langsung di Tengah Masyarakat
Keunggulan lain yang dimiliki Sri Lestariningsih adalah jejaring sosial yang sangat kuat.
Selain memimpin TK, ia juga dipercaya menjadi Ketua PKK Kelurahan Pajang dan aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat seperti posyandu, keluarga berencana, pembinaan keluarga, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Keterlibatan tersebut membuat hubungan sekolah dengan masyarakat terbangun secara alami. Warga mengenal sosok guru bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga sebagai penggerak kegiatan sosial.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, masyarakat semakin percaya menitipkan pendidikan anak-anak mereka di TK Aisyiyah 20 Pajang.
Pengawasan Guru Dilakukan Setiap Hari
Sri Lestariningsih meyakini kualitas sekolah tidak akan pernah melampaui kualitas gurunya.
Karena itu, ia melakukan supervisi secara langsung terhadap proses pembelajaran di setiap kelas. Guru diingatkan agar tetap bersemangat, kreatif, disiplin, dan tidak mengajar sekadar menggugurkan kewajiban.
Ia juga menjadikan sejumlah TK yang kehilangan murid hingga akhirnya tutup sebagai pelajaran bahwa mutu layanan harus dijaga setiap hari.
“Kalau guru tidak berkembang dan pelayanan menurun, masyarakat akan mencari sekolah lain,” tegasnya.
Loyalitas Menjadi Modal Kemajuan
Selain profesionalisme, Sri Lestariningsih menanamkan nilai loyalitas kepada Persyarikatan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Sebagai pimpinan ranting Aisyiyah yang membina beberapa TK di wilayah Pajang, ia aktif melakukan pembinaan guru, koordinasi antar-sekolah, hingga menggerakkan pengajian rutin yang melibatkan ratusan peserta.
Menurutnya, sekolah yang kuat tidak hanya membangun kecerdasan anak, tetapi juga memperkuat karakter keislaman, semangat kebersamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kepemimpinan Berbasis Keteladanan
Di usia 75 tahun, semangat Sri Lestariningsih tidak surut. Ia masih aktif mengawasi sekolah, membina guru, menghadiri kegiatan masyarakat, hingga mengembangkan jaringan pendidikan Aisyiyah.
Baginya, seorang kepala sekolah harus menjadi teladan terlebih dahulu sebelum meminta guru bekerja lebih baik.
Keberhasilan TK Aisyiyah 20 Pajang menjadi sekolah yang dipercaya masyarakat lahir dari kombinasi pelayanan prima, kedisiplinan guru, komunikasi yang erat dengan wali murid, serta keterlibatan aktif dalam kehidupan masyarakat.
Best practice yang diterapkan Sri Lestariningsih menunjukkan bahwa sekolah unggul bukan hanya dibangun melalui sarana fisik, tetapi melalui kepemimpinan yang melayani, keteladanan yang konsisten, dan komitmen tanpa henti untuk menghadirkan pendidikan terbaik bagi setiap anak. (*)
