34.1 C
Jakarta

Cerita Pak Lambang

Baca Juga:

Oleh: Joko Intarto

 

JAKARTA, MENARA62.COM – Minggu sore yang lalu, telepon saya berdering. Di layar ponsel muncul nama Pak Lambang, sahabat saya di Muhammadiyah. Meski sudah puluhan tahun tinggal di kawasan Manggarai, Jakarta Pusat, logat Jawanya masih sangat kental. Di rumahnya, ia menjalankan usaha jasa kargo.

 

Begitu saya mengangkat telepon, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru membuat saya heran. “Terima kasih, Pak Joko.”

 

Saya sempat bingung. “Lho, memang saya berbuat apa?”

 

“Saya terinspirasi oleh tulisan-tulisan Anda tentang cara mengendalikan gula darah tanpa obat diabetes dan tanpa suntik insulin,” jawabnya dengan nada penuh semangat.

 

Pak Lambang kemudian bercerita tentang perjuangannya melawan diabetes. Bertahun-tahun ia bergantung pada obat diabetes dan suntik insulin agar kadar gula darahnya tetap terkendali. Namun, setelah membaca pengalaman yang saya bagikan, ia mulai berpikir, “Kalau Pak Joko bisa, mungkin saya juga bisa.”

 

Sejak saat itu, ia pelan-pelan mengubah gaya hidupnya. Porsi karbohidrat dikurangi. Minuman manis ditinggalkan. Setiap pagi ia rutin berjalan kaki dan jogging. Singkatnya, hampir semua kebiasaan sehat yang saya tuliskan, ia coba terapkan. “Hasilnya luar biasa,” katanya penuh syukur. “Dokter mulai mengurangi dosis obat dan suntik insulin sedikit demi sedikit.”

 

Kabar terbaik datang minggu lalu. Setelah memantau hasil pemeriksaan selama beberapa bulan, dokter akhirnya menyatakan Pak Lambang tidak lagi memerlukan obat diabetes maupun suntik insulin. Gula darahnya dinilai stabil dalam batas yang aman. “Sekarang, tanpa obat dan tanpa insulin, gula darah saya berkisar antara 95 sampai 120 mg/dL,” ujarnya dengan bangga.

 

Mendengar kabar itu, saya ikut bersyukur. Kisah Pak Lambang membuktikan bahwa perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan hasil yang luar biasa.

 

Tentu saja, setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, perubahan terapi, termasuk pengurangan atau penghentian obat, harus selalu dilakukan atas petunjuk dokter, bukan atas keputusan sendiri.

 

Empat Pilar

 

Sebenarnya, pengalaman saya tidak jauh berbeda. Pada awal didiagnosis diabetes, dokter juga meresepkan obat diabetes. Bedanya, saya tidak memerlukan suntik insulin. Bersamaan dengan itu, dokter menegaskan bahwa obat hanyalah alat bantu. Yang paling penting adalah belajar menjalani pola hidup sehat agar suatu saat gula darah bisa dikendalikan tanpa obat.

Dari situlah saya mengenal empat pilar sederhana yang hingga hari ini terus saya jalankan.

1. Menjaga pola makan dan minum.

2. Rutin berolahraga.

3. Menjaga kualitas istirahat dan tidur.

4. Mengelola stres agar tidak berkepanjangan.

 

Seiring membaiknya kondisi kesehatan, dokter secara bertahap menurunkan dosis obat yang saya konsumsi. Sampai akhirnya, dokter menyatakan saya tidak lagi memerlukannya.

 

Alhamdulillah, sekarang sudah lebih dari 800 hari saya menjalani hidup tanpa obat diabetes maupun suntik insulin. Sampai hari ini, saya hanya berusaha konsisten menjalankan empat pilar tersebut agar kadar gula darah tetap berada pada kisaran yang aman.

 

Pengalaman saya dan Pak Lambang tentu bukan jaminan bahwa semua diabetesi akan memperoleh hasil yang sama. Namun, setidaknya kami menjadi bukti bahwa ketika pola hidup sehat dijalankan dengan disiplin dan didampingi dokter, harapan untuk mengendalikan diabetes tanpa ketergantungan obat bukanlah sesuatu yang mustahil.(jto)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!