SOLO —TELEGRAF.CO.ID — Di tengah kerumunan seniman dan pejabat, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha berdiri di depan lukisan. Ia diam beberapa detik.
Malam itu Emparty Fest 2026 resmi dibuka. Digelar oleh Seniman Merdeka Indonesia (SMI), festival bertajuk _Art of Humanity_ ini akan berlangsung 7 hari, hingga 10 Agustus di Taman Budaya Jawa Tengah. Isinya lengkap: Lukis, teater, tari, musik, fotografi, patung, keris, keramik, sampai aksi tulis pesan di wall.

Bagi Giring, festival ini datang di waktu yang tepat. “Tema Art of Humanity relevan dengan kondisi bangsa saat ini,” katanya dalam sambutan. Kalimat yang klise, tapi ia coba isi dengan cerita pribadi.
Usai pemukulan gong bersama, ia menyusuri galeri. Matanya berhenti di satu demi satu karya. Kurasi SMI, katanya, “luar biasa”. Bukan hanya tekniknya saja, tapi juga karena isi dan penyajiannya.
“Kalau diperhatikan, hampir setiap karya memiliki doa di dalamnya. Ada doa untuk Indonesia Emas, swasembada pangan, kejayaan, dan doa untuk bangsa,” kata Giring.

Lalu ia mundur ke masa kecil. Tentang ayahnya yang menyeretnya ke pameran lukisan tiap akhir pekan. Kebiasaan yang menurutnya membentuk cara ia melihat manusia.
“Begitu kita berada di pameran lukisan, kita berhenti sejenak. Kita mencoba memikirkan apa yang ada di dalam otak seniman. Entah kenapa, saya merasa empati itu terlatih ketika kita terbiasa berkesenian,” ucapnya.
Pernyataan itu jadi benang merah Emparty Fest tahun ini. Di tengah hiruk-pikuk kebijakan dan target ekonomi, Giring mencoba mengembalikan seni ke fungsi dasarnya: melatih rasa.
“Empati adalah modal penting bangsa ini menghadapi tantangan,” katanya. Ia bahkan berharap festival ini “bertahan hingga ratusan tahun ke depan”.
Di luar panggung, Kementerian Kebudayaan memang sedang sibuk. Revitalisasi museum, cagar budaya, keraton. Peningkatan layanan di Museum Nasional, Prambanan, Borobudur. Plus “mengantarkan seniman ke luar negeri” untuk pitching dan pameran.

Sementara Ketua Penyelenggara, Barata Sena mengatakan bahwa Emparty Art Fest tidak kami bangun sebagai ruang selebrasi seni semata, melainkan sebagai ruang kontenplasi tentang manusia. (Perjumpaan antara empathy dan party).
Pertanyaannya: apakah doa-doa di dinding TBJT ini akan sampai ke meja kebijakan? Semoga.
Emparty Fest baru hari pertama. Tapi setidaknya, di Solo malam itu, politik sempat berhenti sejenak untuk melihat lukisan. (rilis)

