30.5 C
Jakarta

Tim P2M UMS dan LLHPB Aisyiyah Jateng Perkuat Kesiapsiagaan Bencana bagi Kader Perempuan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Penanggulangan bencana selama ini kerap identik dengan peran laki-laki. Padahal, perempuan memiliki posisi strategis dalam menghadapi situasi darurat, terutama dalam penanganan kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.

 

Kondisi tersebut mendorong Tim Pengabdian kepada Masyarakat Pengembangan Persyarikatan Muhammadiyah (P2M) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ berkolaborasi dengan Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah menggelar Training of Trainer (TOT) Relawan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Aisyiyah Jawa Tengah.

 

Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Sabtu (3/10/2026), tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas kader Aisyiyah dalam memahami mitigasi dan penanggulangan bencana.

 

Ketua Tim P2M UMS, Koesoemo Ratih, S.Pd., M.Hum., Ph.D., mengatakan kolaborasi tersebut dilatarbelakangi masih terbatasnya kesempatan kader Aisyiyah untuk mendapatkan pelatihan penanggulangan bencana secara mendalam.

 

“Hanya lima orang dari 121 peserta yang pernah mengikuti TOT seperti ini. Artinya, banyak kader Aisyiyah yang belum mendapatkan pemahaman secara mendalam. Sehingga ini menjadi sorotan utama bagi kami untuk memberikan kesempatan kepada mereka,” kata Koesoemo.

 

Tim P2M UMS yang diketuai Koesoemo Ratih beranggotakan Suni Tuti, S.P., M.A.P., Dra. Muamaroh, Ph.D., Dra. Lilik Tri Prihatini, Dr. Choirun Nisa, M.Pd., Chanyanita Sekar Wijaya, S.KM., M.K.M., dan Dr. Istanto, S.Pd.I., M.Pd.

 

Menurut Koesoemo, penguatan kapasitas kader perempuan dalam mitigasi bencana penting karena kelompok rentan seperti lansia dan balita membutuhkan perhatian khusus ketika terjadi bencana.

 

Ia mengatakan keberadaan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di sejumlah lokasi bencana tidak menutup ruang bagi Aisyiyah untuk turut mengambil peran dalam penanganan korban.

 

“Meskipun di beberapa titik bencana alam telah ada MDMC, tidak menutup kesempatan untuk Aisyiyah turut membantu menanggulangi korban bencana, terutama pada sektor dapur umum dan perawatan lansia dan balita,” ujarnya.

 

Perkuat Kesiapsiagaan di Sekolah

 

Program tersebut tidak hanya menyasar kader Aisyiyah secara umum, tetapi juga anggota Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA). Penguatan ini diarahkan agar para guru memiliki pemahaman mengenai sistem keamanan dan prosedur kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.

 

Koesoemo mengatakan sejumlah Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) di Jawa Tengah berada di wilayah yang memiliki potensi kerawanan bencana. Karena itu, pemahaman terhadap prosedur operasional standar (SOP) menjadi penting agar guru mampu memberikan instruksi yang dapat dipahami anak.

 

“Selain kader-kader Aisyiyah, kami juga ingin memberikan penguatan kepada IGABA agar dapat memahami alur penanggulangan dan pengamanan bencana alam yang barangkali menimpa sekolahnya,” katanya.

 

Ia mencontohkan instruksi sederhana seperti meminta anak untuk merunduk saat terjadi bencana. Instruksi tersebut perlu disertai pemahaman yang sesuai dengan usia anak agar mereka tidak sekadar mengikuti perintah, tetapi memahami tindakan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri.

 

“Sering kali anak-anak itu disuruh merunduk atau instruksi yang semacamnya, tetapi anak-anak tidak memahami secara mendalam maksud dari instruksi dari gurunya,” tutur Koesoemo.

 

Melalui kolaborasi P2M UMS dan LLHPB PWA Jawa Tengah tersebut, UMS mendorong terbentuknya kader persyarikatan yang lebih mandiri dan siap menghadapi bencana.

 

Penguatan kapasitas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengembangkan dan memperluas gerakan sosial Muhammadiyah dan Aisyiyah, termasuk melalui peningkatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan dan masyarakat. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!