SOLO, MENARA62.COM – Edutorium K.H. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menjadi pusat perhatian ribuan kader Nasyiatul Aisyiyah (NA) dari seluruh Indonesia saat menjadi lokasi pembukaan Muktamar ke-15 Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Jumat (7/8/2026). Mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, forum empat tahunan ini menjadi momentum memperkuat peran perempuan muda Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman.
Sebanyak sekitar 6.700 kader Nasyiatul Aisyiyah memadati Edutorium UMS untuk mengikuti pembukaan muktamar. Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., beserta para wakil rektor, serta sejumlah tokoh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Suasana pembukaan semakin semarak dengan penampilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Mahasiswa Voca Al-Kindi UMS.
Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah, Monica Subastia, M.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Jawa Tengah sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-15.
“Alhamdulillah kami dipercaya menjadi tuan rumah. Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah se-Indonesia yang hadir pada Muktamar kali ini,” ujarnya.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, S.Si., M.Pd., mengatakan Surakarta memiliki makna historis bagi perjalanan organisasi. Menurutnya, muktamar kali ini menjadi momentum melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu sekaligus menata arah gerakan organisasi menuju abad kedua.
“Kami kembali ke Surakarta membawa semangat baru untuk bermuhasabah dan menata arah gerak Nasyiatul Aisyiyah secara kolektif menuju abad kedua,” katanya.
Ariati menegaskan, Muktamar bukan sekadar forum memilih kepemimpinan baru, tetapi ruang refleksi untuk memperkuat komitmen dakwah dan pengabdian. Ia menilai tantangan seperti transformasi digital, kesehatan mental generasi muda, hingga krisis iklim menuntut organisasi terus beradaptasi.
“Kader Nasyiatul Aisyiyah tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan zaman, tetapi harus menjadi aktor perubahan,” tegasnya.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat dan Pengentasan Kemiskinan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Syamsudin Isnaini, S.STP., S.H., M.H., mengapresiasi kontribusi Nasyiatul Aisyiyah selama lebih dari satu abad dalam melahirkan perempuan muda yang berkemajuan.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan sehingga diperlukan kepemimpinan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan.
“Saya berharap Muktamar ini melahirkan kepemimpinan baru yang amanah, visioner, dan berkemajuan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muktamar merupakan forum musyawarah yang harus menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi, bukan sekadar agenda seremonial.
Ia mengajak seluruh peserta menjadikan musyawarah sebagai sarana memperkuat persaudaraan, menjaga persatuan dalam keberagaman, serta memperkokoh nilai-nilai ideologi Muhammadiyah.
“Keragaman merupakan keniscayaan yang harus diikat dengan kasih sayang agar organisasi tetap kokoh dan tidak rapuh,” tutur Haedar.
Digelarnya pembukaan Muktamar ke-15 di Edutorium UMS kembali menegaskan posisi kampus tersebut sebagai pusat penyelenggaraan agenda strategis Muhammadiyah di tingkat nasional. Selain menjadi tuan rumah, UMS juga menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan kader perempuan muda yang berkemajuan melalui kolaborasi dengan Nasyiatul Aisyiyah dalam membangun peradaban yang berkelanjutan. (*)
