SOLO, MENARA62.COM — Belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Siswa SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari Surakarta diajak mengembangkan kemandirian dan keterampilan melalui kegiatan berkemah dan memasak yang menjadi bagian dari materi Hizbul Wathan (HW).
Kegiatan tersebut turut didampingi Tim Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Pendidikan Jasmani. Kegiatan berlangsung di lingkungan SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari.
Mahasiswa PLP II terlibat langsung dalam mendampingi siswa selama kegiatan. Pembelajaran dirancang berbasis pengalaman agar siswa dapat belajar mengenal lingkungan, bekerja sama, sekaligus melatih kemandirian melalui aktivitas nyata.
Kegiatan dimulai pukul 08.00–09.30 WIB dengan aktivitas berkemah. Siswa mengikuti kegiatan dengan pendampingan guru dan mahasiswa PLP II. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari materi survival kids dalam pembelajaran HW.
Setelah itu, pukul 09.30–11.00 WIB, siswa mengikuti kegiatan memasak. Mereka mempraktikkan langsung berbagai aktivitas menggunakan benda-benda konkret dengan tetap berada dalam pengawasan guru dan mahasiswa.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga dilatih untuk bertanggung jawab, mengembangkan keterampilan motorik, serta melakukan berbagai aktivitas secara lebih mandiri.
Mahasiswa PLP Belajar Mendampingi Siswa
Ketua PLP UMS, Muhammad Abdullah Azzam, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman berharga dalam proses pendampingan peserta didik.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman secara langsung dalam proses pendampingan peserta didik. Peran pendampingan ini tentunya dinilai penting agar nantinya siswa merasa didampingi ketika kegiatan berlangsung, meskipun mereka berada jauh dari rumah dan menjalani aktivitas yang menantang bagi mereka,” ujar Azzam, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan berkemah dan memasak tersebut berada di bawah pendampingan Kuncoro Ahsan Prihanto, S.SN., selaku penanggung jawab kegiatan bersama mahasiswa UMS.
Menurut Kuncoro, kehadiran mahasiswa PLP diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa selama mengikuti aktivitas di luar rutinitas pembelajaran kelas.
Pendampingan tersebut dinilai penting karena siswa masih membutuhkan dukungan ketika menjalani pengalaman baru yang menantang, terlebih saat melakukan aktivitas yang membutuhkan keberanian dan kemandirian.
Bagian dari Materi Survival Kids
Kuncoro menjelaskan, kegiatan berkemah dan memasak merupakan bagian dari materi HW yang diberikan sejak awal tahun ajaran. Materi tersebut mulai dikenalkan kepada siswa kelas II sebagai bagian dari pembelajaran survival kids.
“Kegiatan berkemah dan memasak termasuk dalam materi HW yang dilakukan di awal ajaran baru, bahkan hal ini dimulai di kelas dua dan menjadi materi awal bagi para siswa. Materi ini juga termasuk ke dalam materi survival kids, yang dapat melatih kemandirian anak,” ujarnya.
Menurut dia, aktivitas dengan menggunakan benda konkret menjadi cara untuk membantu siswa belajar melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, siswa tidak sekadar menerima materi secara teoritis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Tujuannya untuk mempersiapkan atau belajar menjadi pribadi yang mandiri, serta mengasah motorik dengan melakukan kegiatan secara langsung atau menggunakan benda konkret,” katanya.
Konsep pembelajaran tersebut juga sejalan dengan karakter SD Muhammadiyah Alam Surya Mentari sebagai sekolah berbasis alam. Sekolah tersebut memiliki sejumlah pilar pendidikan yang menjadi dasar pengembangan karakter siswa, antara lain kejujuran, kesopanan, keberanian, kepedulian, dan kemandirian.
Kuncoro menegaskan, kegiatan kali ini secara khusus menitikberatkan pada pilar kemandirian. Nilai tersebut menjadi salah satu landasan dalam merancang program pembelajaran bagi siswa.
Kemandirian Perlu Berlanjut di Rumah
Menurut Kuncoro, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui kegiatan di sekolah. Pembiasaan yang sama perlu diterapkan di lingkungan keluarga agar perkembangan kemandirian siswa berlangsung secara berkelanjutan.
“Proses pembelajaran yang diperoleh siswa di sekolah perlu mendapat dukungan yang sama di lingkungan rumah agar nantinya hasil yang diperoleh optimal. Kegiatan di sekolah dan di rumah tentunya harus berkesinambungan,” katanya.
Ia berharap nilai-nilai kemandirian yang ditanamkan melalui kegiatan seperti berkemah dan memasak dapat terus dipraktikkan siswa setelah kembali ke rumah.
Dengan sinergi antara sekolah dan keluarga, pengalaman belajar berbasis alam tidak berhenti sebagai aktivitas sesaat, tetapi dapat menjadi kebiasaan yang membentuk karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. (*)
