SOLO, MENARA62.COM — Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan gawai, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengajak murid kembali menikmati permainan tradisional. Sebanyak 81 murid kelas III mengikuti kegiatan Parents’ Day bertema “Traditional Kids’ Games”, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan yang digelar di hall lantai 4 sekolah tersebut menjadi ruang bagi murid untuk mengenal kembali beragam dolanan bocah yang kini semakin jarang dimainkan. Selain murid, kegiatan juga melibatkan orang tua dan sekolah untuk memperkuat interaksi serta komunikasi dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Koordinator Tim Kelas III SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Lusia Wahyu Purbowati, mengatakan permainan tradisional memiliki nilai penting bagi perkembangan anak di tengah pesatnya teknologi digital.
“Kegiatan ini bertujuan menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan bermakna sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional anak atau dolanan bocah kepada para murid,” ujar Lusia.
Untuk memberikan pengalaman yang lebih menarik, sekolah menggandeng Komunitas Anak Bawang Solo sebagai narasumber sekaligus pendamping permainan. Sebelum praktik, para murid terlebih dahulu mendapatkan pengenalan mengenai sejarah, nilai, dan tata cara memainkan sejumlah permainan tradisional.
Kenalkan Beragam Dolanan Bocah
Setelah mendapatkan penjelasan, murid langsung diajak mempraktikkan berbagai permainan tradisional. Mereka mencoba egrang, cublak-cublak suweng, jamuran, dingklik oglak-aglik, bakiak, congklak, gasing, hingga permainan batok kelapa.
Tidak hanya bermain, para murid juga diajak membuat pedang dari janur kelapa. Aktivitas tersebut membuat suasana Parents’ Day semakin semarak.
Canda tawa dan antusiasme murid mewarnai kegiatan. Sebagian permainan menjadi pengalaman baru karena belum pernah mereka mainkan sebelumnya.
Melalui permainan tersebut, murid belajar berkomunikasi, bekerja sama, mengikuti aturan, sekaligus menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Menurut Lusia, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Dolanan bocah juga dapat menjadi media pembelajaran yang mendukung perkembangan sosial, emosional, dan fisik anak.
Aktivitas berlari, melompat, menjaga keseimbangan, serta menggerakkan tangan dan mata membantu melatih kemampuan motorik. Sementara permainan kelompok memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar berinteraksi dan membangun kerja sama.
Jadi Alternatif Mengurangi Ketergantungan Gawai
Salah satu pengurus paguyuban orang tua murid kelas III, Irma Nur Hidayati, mengapresiasi pelaksanaan Parents’ Day tersebut.
Menurutnya, permainan tradisional dapat menjadi alternatif bagi orang tua untuk mengajak anak mengurangi ketergantungan terhadap gawai dengan pendekatan yang menyenangkan.
“Kegembiraan bermain permainan tradisional menjadi alternatif konkret bagi orang tua untuk mengalihkan perhatian anak dari layar gawai tanpa harus menggunakan metode komando atau larangan,” ungkap Irma.
Dengan demikian, anak tidak sekadar diminta meninggalkan gawai, tetapi mendapatkan pilihan aktivitas yang membuat mereka tetap aktif, berinteraksi, dan bersenang-senang.
Kegiatan Parents’ Day kemudian ditutup dengan pembagian permainan tradisional kepada seluruh murid. Murid perempuan mendapatkan congklak, sedangkan murid laki-laki memperoleh gasing.
Pemberian tersebut diharapkan membuat dolanan bocah tidak berhenti setelah kegiatan di sekolah. Murid dapat membawa permainan itu ke rumah dan memainkannya kembali bersama keluarga maupun teman.
Melalui Parents’ Day, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berupaya menempatkan permainan tradisional bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari pengalaman belajar anak.
Dolanan bocah menjadi jembatan yang mempertemukan aktivitas fisik, interaksi sosial, kreativitas, dan pelestarian budaya di tengah kehidupan anak yang semakin lekat dengan teknologi. (*)

