SOLO, MENARA62.COM — Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., mendorong guru Muhammadiyah terus memperkuat sinergi, inovasi, dan kualitas layanan pendidikan. Menurutnya, guru memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus membawa pendidikan Muhammadiyah semakin berkemajuan.
Pesan tersebut disampaikan Mutohharun saat menjadi keynote speaker Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Forum Guru Muhammadiyah se-Jawa Tengah bertema “Guru Muhammadiyah Berkemajuan: Bersinergi, Berinovasi, dan Berdampak” di Auditorium Moh. Djazman UMS, Rabu (26/8/2026).
Dalam sambutannya, Mutohharun menekankan pentingnya silaturahmi sebagai salah satu fondasi dalam memperkuat gerakan pendidikan Muhammadiyah. Silaturahmi, menurutnya, tidak sebatas pertemuan sosial, tetapi menjadi sarana membangun koneksi, memperkuat kebersamaan, dan menyatukan langkah dalam menjalankan amanah pendidikan.
Ia mengingatkan bahwa pengabdian dalam pendidikan perlu dilandasi niat yang baik dan keikhlasan. Nilai tersebut penting agar aktivitas guru dan pengelola lembaga pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian institusi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
UMS Perkuat Pendidikan Berkelas Global
Mutohharun juga memaparkan sejumlah perkembangan UMS dalam memperkuat reputasi dan layanan pendidikan. Salah satunya melalui pengembangan kampus Muhammadiyah di Bali yang kini diarahkan menjadi Bali International Muhammadiyah University.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi UMS memperluas layanan pendidikan sekaligus merespons karakter masyarakat yang beragam. Kehadiran perguruan tinggi Muhammadiyah di Bali dinilai membuka ruang lebih luas untuk memperkenalkan pendidikan berkualitas kepada masyarakat di luar basis tradisional Muhammadiyah.
Menurut Mutohharun, ekspansi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan lembaga pendidikan Muhammadiyah beradaptasi dengan konteks sosial yang berbeda tanpa kehilangan nilai dan identitasnya.
Di sisi akademik, UMS terus mendorong peningkatan kualitas melalui pengembangan 84 program studi. Perguruan tinggi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan jumlah program studi yang memiliki akreditasi internasional.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi UMS meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat reputasi pendidikan tinggi Muhammadiyah di tingkat nasional dan global.
Kepercayaan Publik Jadi Modal Penting
Mutohharun menilai kepercayaan masyarakat merupakan modal penting bagi keberlangsungan Persyarikatan Muhammadiyah. Kepercayaan publik yang tinggi, terutama terhadap layanan pendidikan dan sosial Muhammadiyah, harus dijawab dengan peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Ia menegaskan, kepercayaan tidak boleh hanya dipandang sebagai capaian, tetapi juga sebagai amanah yang harus dijaga melalui pelayanan profesional dan konsisten.
Dalam konteks pendidikan, prinsip tersebut berlaku bagi seluruh unsur Persyarikatan, termasuk guru, kepala sekolah, pengelola lembaga, hingga perguruan tinggi.
“Layanan” menjadi salah satu nilai penting yang perlu terus dikembangkan dalam seluruh unit Muhammadiyah. Kualitas layanan pendidikan, menurutnya, akan menentukan sejauh mana lembaga mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat dan menghadirkan dampak yang lebih luas.
Guru Dituntut Inovatif dan Berdampak
Mutohharun juga menyoroti posisi UMS sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Muhammadiyah dengan cakupan keilmuan yang luas. Sebanyak 84 program studi yang dimiliki UMS mencakup berbagai bidang, mulai dari kesehatan, agama, teknologi, hingga bahasa.
Diversifikasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah perlu terus merespons perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja.
Semangat yang sama dinilai perlu dibawa ke jenjang pendidikan dasar dan menengah. Guru Muhammadiyah dituntut tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga terus berinovasi, berkolaborasi, dan menghasilkan dampak yang dapat dirasakan peserta didik serta masyarakat.
Rakerwil Forum Guru Muhammadiyah se-Jawa Tengah menjadi momentum untuk memperkuat jaringan antarguru sekaligus membangun kesamaan visi dalam menghadapi tantangan pendidikan.
Melalui tema “Bersinergi, Berinovasi, dan Berdampak”, forum tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi melahirkan langkah konkret untuk meningkatkan mutu pendidikan Muhammadiyah di Jawa Tengah.
Mutohharun juga mengingatkan pentingnya tata kelola dan perencanaan dalam mendukung kegiatan pendidikan. Pengelolaan fasilitas, jadwal akademik, serta berbagai agenda kelembagaan perlu dipersiapkan lebih awal agar seluruh kegiatan dapat berjalan efektif.
Dengan penguatan sinergi antara guru, sekolah, perguruan tinggi, dan Persyarikatan Muhammadiyah, pendidikan Muhammadiyah di Jawa Tengah diharapkan semakin adaptif, profesional, berorientasi global, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kemajuan masyarakat. (*)

