SOLO, MENARA62.COM — Persoalan sampah di Indonesia dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengangkutan dan pembuangan akhir. Dosen Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/, Rezania Asyfiradayati, SKM., M.P.H., menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat, terutama melalui kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.
Rezania yang memiliki kepakaran di bidang kesehatan lingkungan mengatakan, persoalan sampah yang hingga kini belum tuntas berkaitan erat dengan perilaku masyarakat. Perubahan perilaku tersebut, menurut dia, tidak dapat berlangsung secara instan, tetapi membutuhkan proses panjang dan pembiasaan yang konsisten.
“Dalam teori of planned behavior, manusia mengadopsi suatu kebiasaan lewat tiga faktor tertentu,” ujar Rezania, Selasa (25/8/2026).
Ia menjelaskan, faktor pertama berkaitan dengan dampak suatu perilaku yang dianggap masih terlalu jauh atau tidak dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Kedua, tingginya hambatan operasional di lingkungan sekitar. Ketiga, adanya kesenjangan antara pengetahuan masyarakat dan tindakan atau aktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga Jadi Pondasi Perubahan Perilaku
Menurut Rezania, upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih harus dimulai dengan membangun pemahaman mengenai pengelolaan sampah. Dalam hal ini, keluarga memiliki peran besar karena menjadi lingkungan pertama dalam pembentukan kebiasaan anak.
Kebiasaan keluarga dalam mendidik sekaligus menyediakan fasilitas pengelolaan sampah dinilai menjadi pondasi penting untuk membentuk karakter generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Tumbuhnya tanggung jawab moral nantinya pada anak-anak karena kebiasaan yang dibentuk sejak kecil. Rasa empati itu akan tumbuh terhadap lingkungan sekitar, meskipun terhadap hal-hal yang kecil,” jelasnya.
Rezania menambahkan, perilaku manusia dalam konteks pengelolaan sampah dipengaruhi tiga faktor utama, yakni motivasi, fasilitas, dan pemicu.
Menurut dia, aspek pemicu berupa pemberian sanksi maupun penghargaan terhadap perilaku pengelolaan sampah masih relatif rendah dan belum diterapkan secara menyeluruh di Indonesia. Kondisi tersebut turut membuat pengelolaan sampah belum berjalan optimal.
Pemilahan Sampah Harus Dimulai dari Rumah
Rezania menilai pemilahan merupakan tahapan paling awal sekaligus penting dalam pengelolaan sampah. Namun, masih terdapat paradigma di tengah masyarakat bahwa memilah sampah merupakan pekerjaan sia-sia karena sampah pada akhirnya diangkut secara bercampuran.
Pandangan tersebut, menurut Rezania, perlu diubah. Pemilahan dari sumber tetap memiliki manfaat besar bagi proses pengelolaan sampah berikutnya.
“Pemilahan sampah dalam skala kecil dapat memudahkan pekerja TPS dalam memilih sampah dengan kuantitas yang lebih besar untuk dikelola, kemudian juga dapat meminimalisir kontaminasi sampah, yang menyebabkan kerusakan alam,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pemilahan juga membuka peluang pemanfaatan sampah melalui konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep tersebut, sampah tidak sekadar dibuang, tetapi diolah kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.
Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Langkah sederhana tersebut dapat menjadi awal untuk menghasilkan berbagai produk yang bermanfaat.
“Sampah sisa-sisa sayur masakan rumah dapat diolah menjadi kompos cair, sedangkan kulit-kulit buah dapat diolah menjadi eco-enzyme. Sehingga dari pengolahan-pengolahan tersebut dapat menciptakan produk kebutuhan-kebutuhan keluarga yang dapat dimanfaatkan kembali,” terangnya.
Kampus Diminta Hadir dengan Aksi Nyata
Rezania menyebut, sebagian masyarakat sebenarnya telah mulai mengembangkan berbagai inovasi pengolahan sampah. Salah satunya pemanfaatan tumpukan sampah di kawasan Putri Cempo yang telah diarahkan menjadi sumber tenaga listrik, meskipun pengembangannya masih belum berjalan secara sempurna.
Menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki posisi strategis dalam mendorong penyelesaian persoalan sampah. Universitas tidak hanya dapat berperan melalui edukasi, tetapi juga menghasilkan inovasi dan menjalankan program pengabdian kepada masyarakat.
“Pada aslinya masyarakat tidak sekadar butuh penyuluhan saja, tapi masyarakat perlu adanya aksi nyata dari para akademisi lewat institusi-institusi tertentu,” tuturnya.
Ia berharap keterlibatan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi dapat berjalan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan membuang dan mengangkut, tetapi berkembang menjadi kebiasaan memilah, mengolah, dan memanfaatkan kembali sampah sejak dari sumbernya. (*)

