CIREBON, MENARA62.COM — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Majelis Pendayagunaan Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Dr. H. Amirsyah Tambunan, M.A., mengingatkan pentingnya membangun kehidupan umat dan bangsa dengan iman, takwa, akhlak mulia, serta kejujuran.
Pesan tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat menjadi penceramah dalam Pengajian Bulanan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon, Selasa (25/8/2026).
Menurut Buya Amirsyah, kemajuan suatu bangsa tidak cukup hanya diukur dari melimpahnya sumber daya alam, tetapi juga dari sejauh mana kekayaan tersebut mampu menghadirkan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi masyarakat.
“Pertanyaannya, apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan? Tidak layak orang Indonesia miskin, karena di negeri ini semua sumber daya ada,” tegasnya.

Buya Amirsyah mengingatkan bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia merupakan amanah yang harus dikelola secara jujur dan bertanggung jawab. Karena itu, pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan penguatan moral dan akhlak.
Akhlak Fondasi Kebangkitan Umat
Dalam tausiyahnya, Buya Amirsyah menekankan pentingnya menjadikan akhlak sebagai fondasi dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
“Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan sejarah Islam menunjukkan bahwa kemajuan umat tidak dapat dilepaskan dari keteladanan akhlak yang ditunjukkan Rasulullah SAW dan generasi awal Islam.
Buya Amirsyah juga mengingatkan berbagai ujian yang dihadapi Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwah. Rasulullah tidak membalas cacian, hinaan, maupun perlakuan kasar dengan keburukan. Sebaliknya, beliau menunjukkan kasih sayang dan akhlak mulia.
Bahkan, kata Buya Amirsyah, salah satu bentuk keteladanan Rasulullah SAW adalah menjenguk orang yang pernah menyakiti dan membully beliau ketika orang tersebut sedang sakit.
“Inilah akhlak agung yang harus kita teladani,” tegasnya.
Silaturahmi untuk Membangun Peradaban
Buya Amirsyah juga mengajak warga Muhammadiyah dan seluruh umat Islam untuk memperkuat silaturahmi sebagai bagian dari upaya membangun peradaban.
Ia mengatakan, perbedaan usia dan perjalanan hidup merupakan sunnatullah. Namun, yang terpenting adalah bagaimana usia tersebut digunakan untuk memberikan manfaat bagi umat, masyarakat, dan bangsa.
Ia mencontohkan sejumlah tokoh bangsa seperti Buya Hamka, Soekarno, Mohammad Hatta, Juanda, hingga Pangeran Diponegoro, yang menurutnya telah mengabdikan kehidupan mereka untuk kepentingan bangsa dan peradaban.
“Inti dari Maulid Nabi adalah mengingatkan bahwa Rasulullah SAW membawa risalah. Beliau berseru ‘Umati, umati, umati’ karena rasa peduli yang mendalam kepada umatnya. Dari masa kegelapan, beliau membawa perubahan menuju zaman yang terang benderang,” jelasnya.
Iman dan Takwa Membuka Pintu Keberkahan
Lebih lanjut, Buya Amirsyah mengajak jamaah untuk menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi dalam mengelola kehidupan, termasuk dalam aktivitas ekonomi dan menjaga lingkungan.
Ia mengutip QS. Al-A’raf ayat 96 yang menegaskan bahwa keimanan dan ketakwaan dapat menjadi jalan terbukanya keberkahan dari langit dan bumi.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Buya Amirsyah menjelaskan, keberkahan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya harta, tetapi juga bagaimana kekayaan dikelola dengan prinsip keadilan, kejujuran, dan kemaslahatan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari akhlak manusia. Menurutnya, kerusakan lingkungan dan kerusakan moral memiliki keterkaitan dengan perilaku manusia dalam mengelola kehidupan.
“Intinya, ada dua hal yang harus kita jaga agar bumi ini terawat. Pertama, iman dan takwa kepada Allah. Kedua, menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari akhlak mulia,” pungkasnya.
Wakaf Tanah untuk Kemaslahatan Umat
Pengajian bulanan PDM Kota Cirebon tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan sertifikat wakaf sebidang tanah seluas 2.341 meter persegi dari keluarga Endang Sriati kepada Persyarikatan Muhammadiyah.
Penyerahan tersebut menjadi bagian penting dari ikhtiar menjadikan aset wakaf sebagai instrumen kemaslahatan dan pemberdayaan umat.
Ketua PDM Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Buya Amirsyah serta para tokoh dan warga Persyarikatan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua MUI Kota Cirebon, KH. Syamsudin, menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam membangun kehidupan masyarakat serta peradaban Kota Cirebon.
Pengajian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum tausiyah, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, meningkatkan kualitas akhlak, mengembangkan ekonomi umat, serta mengoptimalkan aset wakaf bagi kemaslahatan masyarakat.

