27.8 C
Jakarta

IMM Sukoharjo Galang Dana untuk Korban Gempa NTT

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sukoharjo menggalang dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Aksi tersebut digelar melalui Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SPM) IMM Sukoharjo di kawasan lampu merah Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id , Rabu (26/8/2026).

 

Penggalangan dana dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 26 dan 28 Agustus 2026. Kegiatan melibatkan kader dari sejumlah komisariat IMM Sukoharjo, yaitu IMM Shabran, IMM Abduh, IMM Pesma, serta IMM Misbach UIN Raden Mas Said.

 

Aksi tersebut dipimpin Kepala Bidang SPM IMM Sukoharjo sekaligus Ketua Pelaksana Aksi Galang Dana Kemanusiaan NTT, Hibatulloh Al Mubarok. Para kader turun langsung ke ruang publik untuk mengajak masyarakat berpartisipasi membantu warga NTT yang terdampak bencana.

 

Hibatulloh, mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) UMS, mengatakan penggalangan dana merupakan bentuk kepedulian kader IMM terhadap kondisi masyarakat yang sedang menghadapi dampak gempa.

 

“Kami tergerak untuk melakukan aksi ini karena melihat kondisi saudara-saudara kita di NTT yang terdampak bencana gempa bumi. Melalui penggalangan dana ini, kami berharap dapat memberikan manfaat dan meringankan beban mereka.”

 

Menurut Hibatulloh, kepedulian terhadap korban bencana tidak semestinya berhenti pada rasa prihatin. Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

 

Berdasarkan pemberitaan detikNews yang mengutip pembaruan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hingga Rabu (26/8/2026) pukul 05.00 WIB tercatat 7.492 kejadian gempa susulan di NTT. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,0, sementara 143 kejadian dilaporkan dirasakan masyarakat.

 

Bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa. Dalam laporan yang sama, sebanyak 103 orang meninggal dunia dan tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ngada, Ende, dan Manggarai Barat.

 

“Bagi IMM Sukoharjo, angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik data korban terdapat keluarga, rumah, dan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana. Kesadaran terhadap kondisi tersebut menjadi salah satu dorongan bagi kader untuk mengambil bagian dalam upaya kemanusiaan,” tegas Hibatulloh.

 

Wujudkan Nilai Humanitas

 

Aksi penggalangan dana menjadi ruang bagi kader IMM untuk mengimplementasikan nilai humanitas yang menjadi bagian dari identitas gerakan. Para kader tidak hanya dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial dan menghadirkan respons terhadap realitas masyarakat.

 

Di ruang publik, kader mengajak masyarakat berdialog mengenai kondisi warga terdampak gempa sekaligus membuka ruang partisipasi bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan.

 

Keterlibatan empat komisariat dalam satu aksi juga memperlihatkan semangat kolaborasi di lingkungan IMM Sukoharjo. Perbedaan komisariat tidak menjadi penghalang ketika para kader memiliki tujuan yang sama, yakni membantu masyarakat terdampak bencana.

 

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi proses pembelajaran bagi kader bahwa gerakan sosial membutuhkan kemampuan membangun komunikasi, kepercayaan, kerja sama, serta pengelolaan kepedulian agar mampu memberikan dampak yang lebih luas.

 

Seluruh donasi yang terkumpul nantinya akan disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) untuk diteruskan kepada masyarakat terdampak bencana di NTT.

 

Mekanisme tersebut ditempuh agar bantuan yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan.

 

IMM Sukoharjo menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut. Setiap bantuan yang diberikan dinilai menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk meringankan beban masyarakat terdampak bencana.

 

Lebih dari sekadar penggalangan dana, aksi tersebut menjadi refleksi bahwa intelektualitas mahasiswa memiliki konsekuensi sosial. Kemampuan membaca realitas perlu diikuti keberanian mengambil tindakan dan menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

 

Melalui gerakan tersebut, IMM Sukoharjo berupaya mempertemukan kesadaran intelektual dengan kepedulian kemanusiaan. Dari membaca keadaan, tumbuh kepedulian; dari kepedulian lahir gerakan; dan dari gerakan diharapkan hadir manfaat bagi sesama.

 

Aksi penggalangan dana akan kembali digelar pada Jumat (28/8/2026). IMM Sukoharjo mengajak masyarakat untuk terus menjaga solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat NTT.

 

Sebab, persoalan kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah. Dari Sukoharjo, kepedulian dapat tumbuh menjadi gerakan untuk membantu saudara-saudara di NTT. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!