SOLO, MENARA62.COM – Bagi Vika Yulvani, belajar akuntansi bukan sekadar berkutat dengan angka, jurnal, dan laporan keuangan. Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id itu justru mendapat kesempatan menguji ilmunya hingga Tashkent, Uzbekistan.
Pada awal 2026, Vika mengikuti International Credit Transfer Program di Millat Umidi University, Tashkent. Selama Januari hingga Mei 2026, mahasiswa asal Pekalongan tersebut menjalani perkuliahan sekaligus beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial yang berbeda dari Indonesia.
Pengalaman itu menjadi kesempatan bagi Vika untuk keluar dari zona nyaman. Ia harus menyesuaikan diri dengan sistem pembelajaran, menghadapi kendala bahasa, serta menjalani kehidupan sehari-hari di negara yang belum pernah menjadi tempat tinggalnya.
Meski demikian, Vika tetap memilih mata kuliah yang relevan dengan bidang Akuntansi.
“Namun, sistem pembelajaran yang ditemui di Millat Umidi University memberikan pengalaman berbeda. Perkuliahan tidak hanya berpusat pada penyampaian teori, tetapi juga dilengkapi sesi lecture untuk memahami konsep dan seminar yang memberikan ruang bagi mahasiswa membedah kasus serta menyelesaikan persoalan secara langsung di kelas,” ujar Vika, Senin (1/9/2026).
Belajar Akuntansi dari Proyek Bisnis
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Vika datang dari mata kuliah Entrepreneurship. Bersama mahasiswa lainnya, ia terlibat dalam pengembangan proyek bisnis rintisan.
Dari proyek tersebut, Vika belajar bahwa persoalan bisnis tidak berhenti pada teori. Ia harus memahami strategi penetapan harga, pengelolaan sumber daya, hingga manajemen risiko.
Pengalaman itu sekaligus mengubah cara pandangnya terhadap akuntansi.
Menurut Vika, akuntansi tidak hanya berbicara tentang ketepatan menghitung angka. Lebih dari itu, informasi akuntansi menjadi bagian penting dalam membantu pengambilan keputusan bisnis.
Namun, perjalanan akademiknya di Uzbekistan tidak selalu berjalan mulus.
Vika sempat terlambat berangkat sehingga tiba ketika perkuliahan sudah berlangsung. Ia harus mengejar materi yang tertinggal sembari mengikuti ritme akademik yang telah berjalan.
Tantangan juga muncul ketika ia berinteraksi dengan masyarakat setempat.
“Bahasa Inggris tidak selalu menjadi solusi ketika saya berinteraksi dengan masyarakat setempat. Sejumlah pedagang dan warga lebih nyaman menggunakan bahasa lokal sehingga aktivitas sederhana, seperti membeli kebutuhan sehari-hari maupun bepergian, menjadi bagian dari proses adaptasi,” katanya.
Belajar Mandiri dari Kehidupan Sehari-hari
Hidup jauh dari Indonesia juga membuat Vika belajar mengelola kebutuhan sehari-hari secara mandiri.
Bersama teman sekamarnya, ia memilih memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran. Telur, kubis, makaroni, dan bahan makanan sederhana menjadi menu yang kerap mereka siapkan.
Bagi Vika, pengalaman tersebut justru menjadi praktik nyata dari kemampuan mengelola sumber daya dan menentukan prioritas.
Di sela perkuliahan, ia juga memanfaatkan waktunya untuk mengenal Uzbekistan. Bersama teman-temannya, Vika mengunjungi sejumlah tempat bersejarah, termasuk makam Imam Al-Bukhari di Samarkand.
Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan masyarakat, budaya, dan lingkungan baru. Pengalaman itu melengkapi pembelajaran yang diperolehnya di ruang kelas.
Membawa Nama Indonesia ke Lingkungan Global
Selama berada di Uzbekistan, Vika juga semakin terbiasa mengikuti diskusi dan presentasi bersama mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Situasi tersebut melatih kepercayaan dirinya untuk menyampaikan gagasan sekaligus membawa identitasnya sebagai mahasiswa Indonesia di lingkungan internasional.
Sebelum mengikuti program ke Uzbekistan, Vika telah membangun pengalaman akademiknya di UMS. Ia juga merupakan penerima BSI Scholarship yang memberinya kesempatan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri.
Berbagai pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia akhirnya harus menjalani kehidupan akademik di negara lain.
Empat bulan di Uzbekistan, bagi Vika, bukan sekadar perjalanan akademik. Ada pengalaman, tantangan, kemandirian, dan perspektif baru yang tidak seluruhnya dapat tercatat dalam transkrip nilai.
Ia pun mengingatkan mahasiswa lain agar tidak terlalu lama menunggu hingga merasa benar-benar siap untuk mengambil kesempatan.
“Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan dan keluar dari zona nyaman,” pesan Vika.
Menurut dia, keberanian mencoba pengalaman baru dapat menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri. Tantangan yang muncul selama perjalanan justru dapat melatih mahasiswa mengambil keputusan, memecahkan masalah, sekaligus mengenali kemampuan dirinya.
Pengalaman Vika menunjukkan bahwa internasionalisasi pendidikan tidak hanya soal berpindah tempat kuliah. Lebih jauh, kesempatan belajar di luar negeri menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kompetensi, memperluas perspektif, dan belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri. (*)
