PANGKALPINANG, MENARA62.COM – Muhammadiyah Bangka Belitung mulai membenahi salah satu fondasi penting organisasi: data. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bangka Belitung mendorong pengelolaan data yang lebih tertib, terintegrasi, dan berkelanjutan hingga tingkat ranting melalui sistem Satu Data Muhammadiyah (SatuMu).
Upaya itu ditandai dengan pelaksanaan Training of Trainer (ToT) SatuMu di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Sabtu (29/8/2026). Sebanyak 56 peserta dari unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Bangka Belitung mengikuti kegiatan yang berlangsung pukul 08.00-16.00 WIB.
Bagi PWM Bangka Belitung, pembenahan data bukan sekadar pekerjaan administratif. Data dipandang sebagai bagian dari amanah organisasi karena akan menentukan bagaimana Muhammadiyah memetakan kekuatan, menyusun kebijakan, dan mengembangkan gerakannya.
Ketua PWM Bangka Belitung, Drs. H. Sahirman Jumlli, M.Si., bahkan mengingatkan bahwa administrasi yang buruk dapat menghambat keberlangsungan organisasi.
“Muhammadiyah akan eksis karena enam hal: ideologi, organisasi, AUM, SDM, budaya organisasi, dan politik kebangsaan. Enam hal ini harus didukung administrasi yang baik,” ujar Sahirman.
Ia meminta pengurus Muhammadiyah membangun kesadaran untuk menata administrasi secara serius. Sebab, menurut dia, kelalaian dalam mengelola administrasi bukan hanya berdampak pada organisasi, tetapi juga menyangkut pertanggungjawaban moral.
“Kita harus membangun kesadaran dalam merapikan administrasi, jangan sampai ada hal yang dilalaikan, karena berat tanggung jawabnya di akhirat,” katanya.
Data Menopang Enam Pilar Muhammadiyah
Sahirman menjelaskan, enam pilar tersebut meliputi ideologi, organisasi, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), sumber daya manusia (SDM), budaya organisasi, dan politik kebangsaan.
Keenamnya membutuhkan dukungan data yang akurat. Struktur kepemimpinan, jumlah dan sebaran anggota, potensi kader, hingga keberadaan AUM perlu tercatat secara jelas agar organisasi dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Di sinilah SatuMu menjadi penting.
Pengelolaan data yang sebelumnya berpotensi tersebar di berbagai jenjang organisasi diarahkan menuju sistem yang lebih terintegrasi. Dengan basis data yang diperbarui secara berkala, Muhammadiyah dapat memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai kekuatan organisasinya, dari wilayah hingga ranting.
Dengan kata lain, SatuMu tidak hanya berbicara tentang digitalisasi. Sistem tersebut diarahkan untuk membangun budaya organisasi yang lebih tertib dan berbasis data.
SatuMu Dorong Digitalisasi hingga Ranting
Materi ToT disampaikan oleh H. Amir Nashiruddin, Wakil Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Detta Dwi Prayitno, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan Rifan Ardyansyah dari PMO LabMu.
SatuMu merupakan bagian dari agenda transformasi digital Muhammadiyah yang dikembangkan melalui MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Platform berbasis situs web itu dirancang sebagai fondasi sistem satu data yang terhimpun dalam Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM). Sistem tersebut diarahkan untuk menopang administrasi Persyarikatan mulai tingkat pusat hingga ranting.
Sejumlah layanan organisasi juga diarahkan terintegrasi dalam ekosistem tersebut, termasuk data keanggotaan dan layanan administratif.
Salah satu komponennya adalah e-KTAM yang mengelola identitas dan data keanggotaan warga Muhammadiyah secara nasional. SatuMu juga terhubung dengan aplikasi MASA yang menyediakan berbagai layanan bagi anggota, seperti pendaftaran e-KTAM, pengingat jadwal salat, Al-Qur’an digital, hingga informasi kegiatan Persyarikatan.
Namun, membangun sistem digital saja tidak cukup.
Kunci keberhasilan justru berada pada manusia yang mengelola dan memperbarui data tersebut.
Karena itu, Muhammadiyah memilih pendekatan Training of Trainer. Peserta tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi diproyeksikan menjadi penggerak yang dapat meneruskan pengetahuan dan pendampingan ke jenjang organisasi berikutnya.
Model ini memungkinkan proses digitalisasi tidak berhenti di tingkat wilayah atau daerah. Kemampuan pengelolaan data diharapkan terus ditularkan hingga cabang dan ranting.
Dari Administrasi ke Pengambilan Kebijakan
Kehadiran SatuMu pada akhirnya diarahkan untuk mengubah cara organisasi bekerja.
Data yang akurat dapat membantu Muhammadiyah mengetahui sebaran anggota, potensi SDM, struktur organisasi, hingga kekuatan AUM. Informasi tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas program dan kebijakan.
Bagi PWM Bangka Belitung, langkah ini sekaligus menjadi upaya membangun budaya administrasi yang lebih disiplin.
Sebab, semakin luas gerakan Muhammadiyah, semakin besar pula kebutuhan terhadap data yang dapat dipercaya.
Dari ToT SatuMu di Bangka Belitung, pesan yang dibangun cukup jelas: transformasi digital bukan sekadar memindahkan administrasi ke layar komputer. Lebih dari itu, Muhammadiyah sedang berupaya memastikan setiap keputusan organisasi memiliki pijakan data dan setiap data yang dikelola tetap berada dalam koridor amanah.
Target akhirnya bukan hanya satu sistem yang terkoneksi, melainkan satu basis data Muhammadiyah yang hidup, diperbarui, dan dapat dipertanggungjawabkan hingga tingkat ranting. (*)

