SOLO, MENARA62.COM – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sekolah dinilai perlu diarahkan agar tidak sekadar meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi tetap berpijak pada nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Pesan tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Prof. Dr. Budi Murtiyasa, M.Kom., saat menjadi narasumber Rapat Kerja (Raker) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo di Tawangmangu, Karanganyar.
Dalam forum yang digelar Jumat (29/8/2026) itu, Budi menyampaikan materi bertajuk “Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pembelajaran di Sekolah Menengah”. Ia mendorong guru tidak memandang AI sebagai pengganti pendidik, melainkan sebagai alat bantu untuk merancang pembelajaran yang lebih efektif dan bertanggung jawab.
“Kami mendorong setiap guru untuk menjadi ‘programmer’ pembelajaran dengan menguasai teknik prompting yang efektif,” ujar Budi, Rabu (2/9/2026).
Menurut dia, kemampuan memanfaatkan AI menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan teknologi di dunia pendidikan. Namun, penggunaan teknologi tersebut harus tetap ditempatkan dalam kerangka nilai dan tujuan pendidikan Muhammadiyah.
Karena itu, penguasaan teknologi AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan AIK sebagai ruh pendidikan. Teknologi diharapkan membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa menggeser peran pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.
Raker Dikdasmen PDM Sukoharjo mengusung tema “Terwujudnya Transformasi Pendidikan Dasar dan Menengah Berbasis Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai Karakter Utama, Holistik, dan Integratif”.
Kegiatan tersebut diikuti Ketua dan Sekretaris Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Sukoharjo serta Kelompok Kerja Kepala Sekolah jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA.
Pendidikan Muhammadiyah Tak Sekadar Akademik
Ketua Majelis Dikdasmen PDM Sukoharjo, Dr. H. Srie Lahir, M.Pd., menegaskan bahwa transformasi pendidikan Muhammadiyah harus tetap berangkat dari semangat dakwah melalui pendidikan.
Ia mengatakan penguatan AIK harus menjadi karakter utama dalam pengembangan pendidikan Muhammadiyah. Sekolah tidak cukup hanya mengejar capaian akademik dan peningkatan kualitas pembelajaran.
“Pendidikan Muhammadiyah harus menjadi ruang strategis untuk membentuk generasi yang memiliki keunggulan akademik sekaligus berkarakter Islami dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Kemuhammadiyahan,” ujarnya.
Menurut Srie, pendidikan juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk akhlak, spiritualitas, sekaligus memperkuat proses kaderisasi di lingkungan persyarikatan.
Dengan demikian, transformasi pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai adopsi teknologi atau perubahan metode pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya memperkuat karakter peserta didik.
Bahas Tata Kelola dan Kepala Sekolah
Selain pemanfaatan AI dalam pembelajaran, Raker membahas penguatan manajerial Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang pendidikan.
Tata kelola sekolah dinilai perlu terus diperkuat agar lembaga pendidikan Muhammadiyah semakin profesional, transparan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Peserta juga membahas regulasi seleksi dan masa jabatan kepala sekolah. Penyusunan regulasi tersebut diarahkan untuk memastikan kepemimpinan sekolah berjalan efektif, berkesinambungan, sistematis, serta sesuai dengan prinsip-prinsip persyarikatan.
Forum Raker menjadi ruang untuk menyatukan arah kebijakan dan komitmen PDM, PCM, Majelis Dikdasmen, serta kepala sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan yang terus berkembang.
Sejumlah rumusan strategis dihasilkan, antara lain kebijakan transformasi pendidikan dasar dan menengah berbasis AIK, penyusunan draf regulasi seleksi dan masa jabatan kepala sekolah, serta strategi penguatan manajerial AUM.
Rumusan tersebut diharapkan memperkuat daya saing sekolah Muhammadiyah di Sukoharjo sekaligus menjaga identitas pendidikan Muhammadiyah sebagai instrumen dakwah.
Dengan pendekatan tersebut, transformasi digital dan pemanfaatan AI diharapkan tidak berjalan tanpa arah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang mengintegrasikan kemajuan teknologi, keunggulan akademik, pembentukan karakter, dan nilai-nilai Islam serta Kemuhammadiyahan. (*)

