33.9 C
Jakarta

LAZISMU DIY Dampingi Penguatan Kelembagaan LAZISMU Pidie Jaya Aceh

Baca Juga:

PIDIE JAYA, MENARA62.COM
LAZISMU DIY melaksanakan pelatihan dan pendampingan bagi LAZISMU Pidie Jaya, Aceh, selama tiga hari, 16–18 September 2026. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan zakat.
Pendampingan ini tidak hanya membahas aspek teknis pengelolaan zakat. Penguatan organisasi, kaderisasi, pengembangan program, hingga kemampuan lembaga dalam merespons kebutuhan masyarakat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Kegiatan diawali pada Rabu (16/9/2026) melalui pembukaan dan Forum Group Discussion (FGD). Forum tersebut melibatkan LAZISMU Wilayah Aceh, PDM Pidie Jaya, LAZISMU Pidie Jaya, serta LAZISMU Bireuen.
FGD menjadi ruang bersama untuk memetakan kondisi kelembagaan LAZISMU Pidie Jaya. Peserta juga membahas kebutuhan penguatan organisasi dan berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan pengelolaan zakat di daerah.
Ketua PDM Pidie Jaya, Makmur Hasan Sufi, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan dan pendampingan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memiliki arti penting karena LAZISMU Pidie Jaya masih berada dalam proses penguatan kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia menjelaskan, gagasan pendampingan bermula dari proses asesmen pascabencana yang dilakukan LRB. Dari proses tersebut, penguatan kelembagaan LAZISMU dipandang perlu mendapat perhatian sebagai bagian dari upaya pemulihan.
“Kalau bukan LAZISMU, siapa yang akan menggerakkan kelembagaan dan kemanusiaan ini?” ujar Makmur.
Pernyataan tersebut menggambarkan harapan agar LAZISMU mampu menjadi salah satu penggerak kegiatan sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Makmur juga menegaskan bahwa pengelolaan zakat tidak semata-mata ditujukan bagi warga Muhammadiyah. LAZISMU diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat Pidie Jaya dan Aceh.
Karena itu, ia mendorong para peserta mengikuti seluruh proses pelatihan dengan serius. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pendampingan diharapkan dapat diterapkan dalam pengelolaan LAZISMU di daerah.
Sekretaris LAZISMU DIY, Eka Yuhendri, S.H.I., M.H., mengatakan pendampingan LAZISMU Pidie Jaya merupakan bagian dari tindak lanjut asesmen pascabencana di Aceh.
Menurut Eka, proses asesmen tersebut tidak hanya melihat kebutuhan masyarakat dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga memperhatikan kondisi lembaga yang nantinya memiliki peran dalam proses pemulihan.
Dalam konteks tersebut, penguatan kelembagaan LAZISMU menjadi salah satu perhatian penting. Lembaga zakat membutuhkan sumber daya manusia yang memadai agar mampu mengelola potensi zakat secara profesional dan menghadirkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Pengelolaan zakat bukan hanya bagaimana menghimpun dana, tetapi bagaimana dana tersebut dikelola melalui program-program yang memberikan manfaat dan pemberdayaan bagi masyarakat,” jelas Eka.
Potensi zakat, lanjutnya, terus berkembang seiring dengan besarnya jumlah masyarakat Muslim. Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tanggung jawab bagi lembaga amil zakat untuk membangun tata kelola yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Zakat diharapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan. Lebih jauh, pengelolaannya dapat diarahkan menjadi instrumen pemberdayaan sehingga masyarakat yang berada dalam kondisi rentan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kemandirian.
Selain kelembagaan, kaderisasi dan penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam pendampingan LAZISMU Pidie Jaya.
Eka berharap kegiatan tersebut tidak berhenti setelah tiga hari pelaksanaan. Menurutnya, pelatihan perlu menjadi pintu masuk bagi kerja sama berkelanjutan antara LAZISMU DIY dan LAZISMU Pidie Jaya.
“Kami berharap program pelatihan dan pendampingan ini tidak hanya berakhir tiga hari di sini. Ada kerja sama untuk kaderisasi dan penguatan sumber daya manusia sehingga ke depan LAZISMU Pidie Jaya semakin mampu bergerak bersama masyarakat,” jelasnya.
Penguatan SDM dinilai penting karena keberadaan lembaga zakat sangat bergantung pada kemampuan pengelolanya dalam membangun kepercayaan masyarakat. Pengelolaan yang transparan, program yang tepat sasaran, serta komunikasi yang baik dengan muzaki dan penerima manfaat menjadi bagian dari proses tersebut.
Melalui kegiatan ini, LAZISMU DIY berharap LAZISMU Pidie Jaya dapat mengoptimalkan potensi zakat di daerah. Penguatan organisasi dan sumber daya manusia diharapkan berjalan beriringan dengan pengembangan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pendampingan tersebut sekaligus memperkuat jejaring antarlembaga LAZISMU. Kolaborasi diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat Aceh pascabencana, tidak hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui penguatan lembaga sosial dan peningkatan kemandirian masyarakat.
Dengan demikian, pengelolaan zakat diharapkan semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. LAZISMU tidak hanya hadir sebagai lembaga penghimpun dan penyalur zakat, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan yang tumbuh bersama masyarakat.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!