31.4 C
Jakarta

Wayang Srikandi Krida Warnai Milad ke-68 FKIP UMS

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Perayaan Milad ke-68 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id berlangsung dengan nuansa budaya. Pentas wayang kulit bertajuk Srikandi Krida menjadi bagian utama peringatan yang digelar di Auditorium Mohammad Djazman, Kampus I UMS, Surakarta, Jumat (18/9/2026).

 

Pementasan tersebut melibatkan keluarga besar FKIP UMS, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa hingga keluarga sivitas akademika. Selain menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya Jawa, wayang dipilih sebagai medium untuk menyampaikan nilai pendidikan dan kehidupan.

 

Panggung semakin menarik dengan hadirnya dalang cilik Aditya Ghandi, siswa MI Muhammadiyah Program Khusus (MIM PK) Kartasura, di bawah asuhan Ki Tulus Raharjo. Penampilan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda di lingkungan pendidikan Muhammadiyah untuk menunjukkan kemampuan sekaligus ikut melestarikan seni pewayangan.

 

Dekan FKIP UMS Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., mengatakan Milad ke-68 menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang FKIP UMS sekaligus memperkuat semangat keluarga besar fakultas dalam menjalankan amanah pendidikan dan pengabdian kepada bangsa.

 

“Alhamdulillah, keluarga besar FKIP UMS, baik pejabat, dosen, karyawan, mahasiswa, maupun purnawirawan, dapat berkumpul untuk memperingati 68 tahun FKIP UMS yang telah menginspirasi, mendidik, dan mengabdi kepada negeri,” kata Anam dalam sambutannya.

 

Berawal dari FKIP Muhammadiyah Surakarta

 

Anam menjelaskan, perjalanan FKIP UMS bermula pada 18 September 1958. Saat itu, FKIP Muhammadiyah Surakarta berdiri sebagai cabang FKIP Muhammadiyah Jakarta.

 

Tujuh tahun kemudian, pada 1965, FKIP Muhammadiyah Surakarta berdiri secara mandiri sebagai IKIP Muhammadiyah Surakarta. Perjalanan kelembagaan tersebut berlanjut hingga pada 1981 bergabung dengan Institut Agama Islam Muhammadiyah Surakarta dan kemudian menjadi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

Perubahan tersebut turut dipelopori Mohammad Djazman Al Kindi. Perjalanan panjang itu, menurut Anam, menjadi bagian penting dari identitas FKIP UMS dalam mengembangkan pendidikan.

 

Karena itu, pemilihan lakon Srikandi Krida bukan sekadar hiburan dalam perayaan Milad. Tokoh Srikandi dipandang merepresentasikan keberanian, semangat, dan keteguhan dalam perjuangan.

 

“Melalui pementasan wayang ini, kami berharap muncul Srikandi-Srikandi baru di FKIP yang baik dan kelak mampu melanjutkan apa yang menjadi cita-cita para senior, pejuang, dan perintis yang telah membangun FKIP hingga saat ini,” ujarnya.

 

Wayang Jadi Media Belajar Kehidupan

 

Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., mengapresiasi penyelenggaraan Milad ke-68 FKIP UMS. Menurut dia, seni wayang tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran kehidupan.

 

Beragam karakter dan dinamika yang ditampilkan dalam pewayangan dinilai memiliki relevansi dengan kehidupan masyarakat, termasuk dalam lingkungan perguruan tinggi.

 

Harun menyoroti tiga nilai yang dapat dipetik dari dunia pewayangan, yakni uswah atau keteladanan, tasamuh atau sikap menghargai perbedaan, serta tawazun atau keseimbangan.

 

Ketiga nilai tersebut, kata dia, penting diterapkan dalam kehidupan kampus. Keberagaman pandangan, karakter, dan latar belakang sivitas akademika dapat dikelola dalam suasana yang harmonis melalui keteladanan, toleransi, dan keseimbangan.

 

Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMS Prof. Dr. Sabar Narimo, M.M., M.Pd., menilai lakon Srikandi Krida membawa pesan kuat tentang keberanian, semangat, dan perjuangan.

 

Ia menjelaskan, Srikandi dalam kisah pewayangan merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam Perang Baratayudha.

 

“Nilai perjuangan tersebut relevan dengan semangat keluarga besar UMS dalam mengembangkan pendidikan dan membangun generasi berkemajuan,” kata Sabar.

 

Pentas Srikandi Krida akhirnya tidak hanya menjadi penanda perayaan Milad ke-68 FKIP UMS. Pertunjukan tersebut juga mempertemukan pendidikan, budaya, dan nilai-nilai perjuangan dalam satu panggung—sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembentukan karakter generasi muda. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!