29.3 C
Jakarta

SUMU Dorong Re-Industrialisasi, UMKM Naik Kelas

Baca Juga:

MEDAN, MENARA62.COM — Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) mendorong penguatan kembali sektor manufaktur melalui agenda re-industrialisasi. Langkah ini dinilai penting untuk melahirkan lebih banyak pengusaha industri sekaligus membuka jalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar naik kelas.

 

Direktur sekaligus Sekretaris Jenderal SUMU, Ghufron Mustaqim, mengatakan penguatan industri merupakan bagian dari strategi gerakan ekonomi Muhammadiyah untuk membangun kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di abad kedua.

 

Hal itu disampaikan Ghufron dalam Kopi Darat SUMU bersama puluhan pengusaha Muhammadiyah di Medan, Jumat (18/9/2026). Kegiatan yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumatera Utara tersebut menjadi momentum awal penguatan jejaring SUMU di Kota Medan.

 

Menurut Ghufron, SUMU tidak hanya ditujukan bagi pengusaha Muhammadiyah. Wadah tersebut juga terbuka bagi calon pengusaha dan masyarakat yang ingin mengembangkan usaha.

 

“UMKM tidak akan naik kelas tanpa mesin penarik berskala besar. Mesin penarik itu adalah industrialisasi,” ujar Ghufron.

 

Industrialisasi Jadi Mesin Pertumbuhan UMKM

 

Ghufron menjelaskan, tantangan UMKM tidak semata-mata berkaitan dengan keterbatasan modal. Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah skala pasar, produktivitas, serta keterhubungan UMKM dengan industri yang memiliki kapasitas lebih besar.

 

Karena itu, SUMU mendorong re-industrialisasi sebagai salah satu mesin penggerak pertumbuhan ekonomi.

 

Dalam pandangan Ghufron, industrialisasi dapat menciptakan rantai pasok yang lebih panjang. UMKM kemudian dapat mengambil peran dalam rantai tersebut, baik sebagai bagian dari proses produksi, distribusi, maupun penyedia barang dan jasa.

 

Dengan terbentuknya ekosistem industri, pertumbuhan perusahaan manufaktur diharapkan turut membuka peluang bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan skala bisnisnya.

 

“Industrialisasi juga memiliki kapasitas besar dalam menyerap tenaga kerja, termasuk tenaga kerja yang sebelumnya berada di sektor berproduktivitas rendah untuk kemudian beralih menjadi tenaga kerja yang lebih produktif,” katanya.

 

Belajar dari Industri Asia Timur

 

Ghufron mencontohkan perkembangan sejumlah negara Asia Timur, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China. Menurut dia, pengalaman negara-negara tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran dalam membangun kembali basis manufaktur.

 

Salah satu strategi yang disoroti adalah pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian menuju sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.

 

“Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan China mengalami pertumbuhan pendapatan per kapita yang tinggi selama beberapa dekade dengan memperluas basis manufaktur dan memindahkan tenaga kerja dari sawah ke pabrik yang berorientasi ekspor,” ujarnya.

 

Ia juga menyoroti perubahan tingkat kemiskinan di kawasan Asia Timur dalam beberapa dekade terakhir. Menurut Ghufron, industrialisasi dan peningkatan produktivitas menjadi salah satu faktor penting dalam transformasi ekonomi kawasan tersebut.

 

Sementara itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat kembali basis industrinya agar pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

 

Ghufron menyinggung kelompok masyarakat yang masih bergantung pada pekerjaan dengan produktivitas dan perlindungan ekonomi relatif terbatas, seperti pengemudi transportasi daring, pedagang kaki lima, hingga buruh harian lepas.

 

“Tanpa re-industrialisasi, pertumbuhan Indonesia berisiko hanya menyisakan segelintir orang di puncak dan menyerakkan mayoritas masyarakat ke pinggiran kehidupan,” tegasnya.

 

SUMU Jadikan Re-Industrialisasi Agenda Strategis

 

Kopi Darat SUMU di Medan tersebut turut dihadiri Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara Dr. Irwan Syahputra, M.A., Ketua LPUMKM PWM Sumatera Utara Muhammad Irsyad, Ketua Majelis Ekonomi PDM Medan Muhammad Syafii, serta sejumlah pengusaha Muhammadiyah di Medan.

 

Dialog interaktif menghadirkan Ghufron Mustaqim dan Muhammad Irsyad, M.I.Kom., dengan moderator Yudha Pratama.

 

Melalui agenda tersebut, SUMU berkomitmen menjadikan re-industrialisasi sebagai salah satu agenda strategis dalam membangun ekosistem usaha Muhammadiyah.

 

Bagi SUMU, industrialisasi tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Agenda tersebut juga diposisikan sebagai upaya menerjemahkan nilai keberpihakan sosial melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, dan penguatan kesejahteraan masyarakat.

 

“Untuk itulah SUMU bertekad membawa mandat teologis abad ke-21: industrialisasi sebagai wujud nyata Al-Ma’un,” pungkas Ghufron. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!