SOLO, MENARA62.COM — Setiap Muslim perlu membangun dua kesadaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari, yakni kesadaran sebagai hamba Allah dan kesadaran sebagai umat Rasulullah SAW. Dua kesadaran tersebut menjadi fondasi agar keimanan tidak berhenti pada keyakinan, tetapi tercermin dalam perilaku dan aktivitas sehari-hari.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Edy Muslimin, S.Ag., M.S.I., dalam khutbah Jumat di Masjid Syuhada Gajahan, Surakarta, Jumat (18/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Edy Muslimin juga bertindak sebagai imam salat Jumat.
Menurut dia, kesadaran sebagai hamba Allah atau ubudiyah mengajarkan seorang Muslim untuk menyadari bahwa seluruh yang dimiliki manusia pada hakikatnya merupakan karunia dan berada dalam kuasa Allah SWT.
Kesadaran itu mencakup nikmat kesehatan, rezeki, keberhasilan, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan berbagai aktivitas.
Karena itu, manusia tidak semestinya memandang keberhasilan sebagai hasil kemampuan dirinya semata. Kesadaran terhadap kuasa Allah justru menjadi pengingat agar seseorang tidak terjebak dalam kesombongan.
“Segala sesuatu yang kita miliki dan kita lakukan adalah atas izin dan kuasa Allah,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam khutbah tersebut.
Penghambaan Terlihat dalam Aktivitas Sehari-hari
Edy menjelaskan, penghambaan kepada Allah tidak hanya diwujudkan melalui ibadah yang bersifat ritual. Kesadaran tersebut juga perlu hadir dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Mulai dari makan, bekerja, bepergian, hingga ketika menghadapi persoalan dan musibah, seorang Muslim perlu menyadari keterbatasan dirinya dan senantiasa mengingat Allah.
Doa menjadi salah satu bentuk nyata dari kesadaran tersebut. Ketika berdoa, manusia mengakui bahwa dirinya memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah.
Kesadaran semacam ini juga dapat menjadi benteng dari sikap sombong. Seseorang yang menyadari bahwa kesehatan, rezeki, kemampuan, dan keberhasilan merupakan karunia Allah akan lebih mudah menempatkan dirinya sebagai hamba.
Konsep tersebut dapat diwujudkan melalui apa yang disebut idharul ubudiyah, yakni menampakkan kesadaran kehambaan dalam kehidupan.
Dengan demikian, nilai penghambaan tidak hanya terlihat di masjid, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, dan ketika seseorang menghadapi berbagai ujian.
Menjadi Umat Rasulullah Berarti Mengikuti Sunnah
Kesadaran kedua yang ditekankan adalah kesadaran sebagai umat Rasulullah SAW. Menurut Edy, status sebagai umat Nabi Muhammad harus diwujudkan dengan menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan.
Ibadah dan perilaku seorang Muslim perlu memiliki landasan yang jelas. Karena itu, umat Islam didorong untuk mempelajari ajaran agama berdasarkan dalil serta tuntunan Rasulullah.
Literasi keagamaan menjadi penting agar praktik keislaman tidak hanya didasarkan pada kebiasaan, tradisi, atau pemahaman pribadi.
Kesadaran sebagai umat Rasulullah, lanjutnya, juga tidak berhenti pada mengetahui ajaran. Pengetahuan agama perlu diamalkan dan kemudian disampaikan kepada orang lain melalui dakwah.
Rangkaian tersebut mencakup mengenal Allah dan Rasul-Nya berdasarkan dalil, mengamalkan ilmu yang telah diketahui, kemudian menyebarkannya sebagai bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.
Ilmu Agama Harus Berujung pada Amal
Khutbah tersebut juga menekankan pentingnya hubungan antara ilmu, amal, dan dakwah. Pengetahuan agama yang dimiliki seorang Muslim semestinya memberikan perubahan dalam kehidupan nyata.
Dengan ilmu, seorang Muslim mengetahui apa yang menjadi tuntunan. Dengan amal, pengetahuan tersebut diwujudkan dalam kehidupan. Sementara dakwah menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan dan membantu orang lain mengenal ajaran Islam.
Dua kesadaran tersebut pada akhirnya saling melengkapi. Kesadaran sebagai hamba Allah membentuk sikap rendah hati dan ketergantungan kepada Allah, sedangkan kesadaran sebagai umat Rasulullah mengarahkan cara beribadah dan berperilaku sesuai tuntunan beliau.
Edy mengingatkan, kehidupan seorang Muslim akan lebih terarah ketika kedua kesadaran tersebut benar-benar tertanam dalam diri.
Dengan kesadaran sebagai hamba Allah dan umat Rasulullah, aktivitas sehari-hari tidak sekadar menjadi rutinitas, tetapi dapat menjadi bagian dari penghambaan kepada Allah yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.
Pesan khutbah Jumat di Masjid Syuhada Gajahan itu sekaligus mengajak umat untuk menjaga keseimbangan antara kesadaran kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, mengamalkan ilmu, dan berdakwah dalam kehidupan sehari-hari. (*)

