SOLO, MENARA62.COM — Literasi tidak hanya soal membaca buku. Di tengah perkembangan zaman, kemampuan mengenal, memahami, dan melestarikan budaya juga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang kritis dan berkarakter.
Semangat itu terasa dalam Solo Literacy Festival 2026 yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta pada 17–19 September 2026 di Rumah Kabudayan Ndalem Djojokoesoeman, Gajahan, Pasarkliwon, Surakarta.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi pelajar dan masyarakat umum untuk memperluas wawasan sekaligus menumbuhkan budaya baca dan kemampuan berpikir kritis. Beragam aktivitas edukatif dan kreatif dihadirkan untuk membuat literasi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu sekolah yang turut berpartisipasi ialah SD Muhammadiyah 24 Gajahan. Sejumlah siswa sekolah tersebut mengikuti berbagai kegiatan dalam festival, mulai dari mewarnai hingga mendongeng.
Tak hanya itu, para siswa juga mendapatkan pengalaman belajar seni tradisional dengan mengikuti workshop pembuatan wayang suket di stan komunitas Yuk Belajar Seni (YBS).
Wayang suket merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang dibuat dari bahan rumput atau suket. Bagi anak-anak, proses pembuatannya menjadi pengalaman belajar yang memadukan kreativitas, ketelitian, kesabaran, sekaligus pengenalan terhadap warisan budaya Jawa.
Volunteer Yuk Belajar Seni, Farida Syahla Agustin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi komunitasnya untuk belajar bersama anak-anak sekaligus mengenalkan kembali kesenian wayang yang mulai jarang ditemui.
“Di sini kami sedang workshop tentang wayang suket, yaitu membuat wayang dari suket. Dengan adanya anak-anak di sini, kami juga belajar bersama mereka tentang pembuatan wayang ini,” ujar Farida.
Menurut dia, pengenalan wayang suket kepada anak-anak menjadi bagian dari upaya YBS menjaga keberadaan budaya wayang di Indonesia, khususnya yang berkembang di Jawa Tengah.
“Pembuatan wayang itu sudah jarang ditemui. Dari Yuk Belajar Seni, kami tetap menjaga budaya wayang yang ada di Indonesia, apalagi yang ada di Jawa Tengah,” katanya.
Farida menilai proses membuat wayang suket membutuhkan ketelitian. Anak-anak tidak bisa terburu-buru karena setiap tahapan membutuhkan kesabaran agar bentuk wayang dapat dibuat dengan baik.
“Tipsnya harus sabar karena prosesnya cukup rumit. Jadi menurut saya harus sabar dulu,” ujarnya.
Kehadiran workshop wayang suket di Solo Literacy Festival 2026 menunjukkan bahwa literasi dapat dikembangkan melalui berbagai medium. Membaca dan memperoleh informasi dapat berjalan beriringan dengan pengalaman langsung mengenal seni dan budaya.
Bagi siswa SD Muhammadiyah 24 Gajahan, pengalaman tersebut tidak sekadar menghasilkan karya dari bahan sederhana. Mereka juga diajak memahami bahwa budaya lokal memiliki nilai pengetahuan yang perlu dikenali dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Melalui festival literasi, perpustakaan pun tidak hanya dipandang sebagai tempat membaca, tetapi sebagai ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan, kreativitas, budaya, dan masyarakat.
Solo Literacy Festival 2026 menjadi salah satu upaya menghadirkan pengalaman literasi yang lebih beragam bagi pelajar dan masyarakat Surakarta. Dari buku hingga wayang suket, literasi tumbuh melalui proses belajar yang dekat dengan kehidupan dan kebudayaan. (*)
