28.7 C
Jakarta

Tata Kelola MUI Diperkuat, Kepercayaan Publik Jadi Fokus

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus memperkuat tata kelola organisasi melalui penerapan standar manajemen mutu ISO 9001:2015. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan proses organisasi berjalan efektif, transparan, terukur, dan berorientasi pada peningkatan kepercayaan publik.

Sekretaris Jenderal MUI, Buya Dr. Amirsyah Tambunan, menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya pada kegiatan audit eksternal ISO 9001:2015 di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

“ISO 9001:2015 bukan sekadar sertifikasi, tetapi menjadi instrumen untuk membangun sistem manajemen mutu dan budaya kerja yang mendorong perbaikan secara berkelanjutan,” ujar Buya Amirsyah.

Menurut dia, penerapan standar manajemen mutu juga merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko dalam tata kelola organisasi. MUI sendiri telah menerapkan ISO 9001:2015 selama delapan tahun.

Buya Amirsyah mengatakan, MUI sebagai wadah berhimpun organisasi kemasyarakatan Islam merupakan organisasi kemasyarakatan Islam pertama yang meraih ISO 9001:2015 pada 10 Juni 2018.

Sertifikasi tersebut, lanjutnya, menjadi bentuk pengakuan bahwa MUI telah menerapkan sistem manajemen mutu yang mengacu pada standar internasional.

“Namun, yang lebih penting dari sertifikat adalah bagaimana standar tersebut menjadi budaya organisasi. Ada sistem, ada nilai, ada kebiasaan, dan ada norma yang secara bersama-sama mendorong peningkatan kualitas,” katanya.

Dorong Perbaikan Berkelanjutan, Buya Amirsyah menekankan bahwa budaya mutu bertumpu pada prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). Menurutnya, tidak ada proses yang sempurna sehingga setiap bagian organisasi harus terbuka terhadap evaluasi dan penyempurnaan.

Prinsip tersebut harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari pimpinan hingga staf.

Karena itu, kata Buya Amirsyah, kepemimpinan partisipatif diperlukan dalam pengelolaan organisasi. Pengambilan keputusan juga perlu didasarkan pada data faktual, keterbukaan, serta musyawarah.

“Dengan demikian, akan lahir tanggung jawab bersama dalam menjaga nilai-nilai kepemimpinan MUI sekaligus memastikan organisasi terus berkembang,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan sistem manajemen mutu juga perlu diperkuat dengan pendekatan Total Quality Management (TQM) yang menempatkan kepuasan pengguna layanan dan perbaikan berkelanjutan sebagai bagian penting dari pengelolaan organisasi.

Sembilan Nilai Kepemimpinan MUI

Dalam kesempatan tersebut, Buya Amirsyah memaparkan sembilan orientasi perkhidmatan yang menjadi nilai kepemimpinan MUI.

Kesembilan nilai tersebut adalah diniyah, yaitu berlandaskan nilai dan ajaran Islam secara menyeluruh; irsyadiyah, yakni mengajak umat kepada kebaikan dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar; serta istijabiyah, yaitu responsif terhadap berbagai persoalan umat.

Selanjutnya, hurriyah, yang menekankan sikap independen dan bebas dalam mengambil keputusan; ta’awuniyah, yakni semangat tolong-menolong dalam kebajikan dan membela kaum dhuafa; serta syuriyah, yakni mengedepankan musyawarah dalam mencari solusi kepemimpinan.

Nilai berikutnya adalah tasamuh, yaitu menghargai perbedaan dan menjunjung toleransi; qudwah, yakni menjadi teladan bagi umat dan masyarakat; serta duwaliyah, yaitu memiliki wawasan global dan berperan dalam memperjuangkan perdamaian dunia.

“Nilai-nilai tersebut menjadi kekuatan dalam menjalankan visi MUI, yaitu mewujudkan umat terbaik (khairu ummah) dan negara yang penuh ampunan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur),” tutur Buya Amirsyah.

Ia menegaskan, penerapan standar mutu harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai organisasi. Dengan demikian, tata kelola MUI tidak hanya memenuhi standar manajemen, tetapi juga mencerminkan nilai dan tanggung jawab organisasi kepada umat dan masyarakat.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!