31.2 C
Jakarta

Mahasiswa UMS Raih Silver Medal WICE 2026 Lewat Platform KINDO

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Memantau perkembangan anak tak lagi harus mengandalkan lembar kertas. Sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menghadirkan KINDO.fun, platform digital interaktif yang dirancang untuk membantu mendeteksi risiko keterlambatan perkembangan anak sejak dini.

 

Inovasi bertajuk “Kindo: An Interactive Digital Screening Platform for Early Detection of Developmental Delay Risk in Children” itu berhasil meraih Silver Medal dalam ajang 8th World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026 di Malaysia.

 

Anggota tim KINDO, Asrofi Noor Masithoh, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari persoalan pemantauan tumbuh kembang anak yang dinilai masih belum optimal. Selama ini, pemantauan di masyarakat cenderung menitikberatkan pada pertumbuhan fisik, sementara aspek perkembangan anak membutuhkan instrumen khusus untuk mendeteksi risiko keterlambatan.

 

“Ide pengembangan KINDO berawal dari adanya gap dalam dunia kesehatan anak. Kementerian Kesehatan RI sejak 2012 sudah menghadirkan instrumen pemantauan perkembangan anak usia 0–72 bulan, tetapi sistem yang digunakan terutama di layanan kesehatan primer seperti posyandu masih banyak yang manual menggunakan kertas,” ujar Asrofi saat diwawancarai, Selasa (29/9/2026).

 

Menurut dia, kondisi tersebut membuat digitalisasi instrumen skrining menjadi penting. KINDO dikembangkan untuk membantu orang tua dan tenaga kesehatan primer memantau perkembangan anak secara lebih praktis dan interaktif.

 

Platform tersebut mencakup sejumlah aspek perkembangan, mulai dari motorik kasar, motorik halus, bicara dan bahasa, hingga sosialisasi dan kemandirian.

 

Digitalisasi KPSP

 

Pada tahap awal pengembangan, KINDO mengadopsi Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI sebagai instrumen deteksi dini perkembangan anak usia 0–72 bulan.

 

Digitalisasi KPSP dalam KINDO memungkinkan proses skrining dilakukan secara lebih praktis. Hasil skrining juga dapat membantu meningkatkan kesadaran orang tua dan tenaga kesehatan mengenai pentingnya pemantauan perkembangan anak secara berkala.

 

KINDO tidak sekadar mengubah kuesioner berbasis kertas menjadi format digital. Platform tersebut dilengkapi sejumlah fitur pendukung, seperti skoring dan interpretasi otomatis, rekomendasi stimulasi berdasarkan hasil skrining, longitudinal record, dashboard tenaga kesehatan berbasis wilayah, grafik pertumbuhan anak, serta reminder system.

 

Fitur-fitur tersebut dirancang agar hasil skrining tidak berhenti pada angka atau kategori, tetapi dapat menjadi dasar bagi orang tua maupun tenaga kesehatan untuk melakukan pemantauan dan stimulasi secara berkelanjutan.

 

Ke depan, tim juga membuka peluang pengembangan KINDO melalui integrasi dengan instrumen pemantauan perkembangan anak berstandar internasional.

 

Kolaborasi Lintas Disiplin

 

Di balik inovasi tersebut terdapat kolaborasi mahasiswa dari sejumlah bidang keilmuan. Tim KINDO terdiri atas mahasiswa Keperawatan, Teknik Informatika, Pendidikan Teknik Informatika, dan Profesi Ners.

 

Asrofi menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi kunci karena persoalan kesehatan anak tidak dapat diselesaikan hanya dari satu perspektif.

 

“Sebagai mahasiswa keperawatan, kami menyadari bahwa kami tidak bisa merealisasikan ide ini sendiri. Oleh karena itu, kami berkolaborasi dengan teman-teman dari Prodi Teknik Informatika dan Pendidikan Teknik Informatika untuk mewujudkan website KINDO ini,” katanya.

 

Menurut dia, perpaduan kompetensi kesehatan dan teknologi juga memunculkan berbagai gagasan baru selama proses pengembangan, termasuk dalam mencari solusi terhadap persoalan teknis maupun kebutuhan pengguna.

 

Pengembangan KINDO dilakukan menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan kerangka ADDIE, yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.

 

Dalam proses tersebut, tim mendapatkan pendampingan dari Siti Arifah, S.Kp., M.Kes., Ph.D. selaku supervisor. Sebagai dosen bidang keperawatan anak, pendampingan tersebut berperan dalam proses digitalisasi instrumen KPSP ke dalam platform KINDO.

 

Tembus Kompetisi Inovasi Internasional

 

Prestasi mahasiswa UMS ini diraih dalam WICE 2026, kompetisi internasional yang mempertemukan inventor, inovator, peneliti, pelajar, dan mahasiswa dari berbagai negara.

 

Pada penyelenggaraan tahun ini, WICE menghadirkan lima bidang utama, yakni Applied Life Sciences, Innovative Social Sciences, Applied Physics and Engineering, Environmental Sciences, serta IT and Robotics.

 

WICE 2026 merupakan penyelenggaraan ke-8 yang digelar melalui kolaborasi Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan SEGi University & Colleges.

 

Kompetisi berlangsung secara daring pada 10–14 September 2026 dan dilanjutkan secara luring pada 20–24 September 2026 di SEGi University Kota Damansara, Malaysia.

 

Dalam sesi penjurian dan pameran, KINDO mendapat apresiasi dari juri dan pengunjung. Tim UMS kemudian memperoleh Silver Medal pada sesi awarding.

 

Tim tersebut terdiri atas Asrofi Noor Masithoh, Putri Azzahra Namora, Reja Arrafi, Airlangga Pradana Prakusa, Shafwan Aulia Rahman, dan Tasya Annisa Yunita.

 

Bagi tim, capaian tersebut bukan menjadi titik akhir pengembangan KINDO. Mereka berharap platform tersebut dapat terus dikembangkan hingga memberi kontribusi terhadap terbentuknya budaya skrining perkembangan anak yang lebih proaktif.

 

“Kami berharap melalui KINDO, kami bisa berkontribusi dalam menumbuhkan budaya skrining perkembangan anak yang proaktif serta mendukung digitalisasi dan integrasi sistem layanan kesehatan primer,” ujar Asrofi. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!