SOLO, MENARA62.COM – Dosen Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/menerapkan pembelajaran berbasis computational thinking bagi anak-anak sekolah dasar di Sanggar Bimbingan (SB) Kepong, Malaysia.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Internasional (PkM-KI) yang dinaungi Direktorat Riset, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Sentra Kekayaan Intelektual (DRPPS) UMS.
Program yang digelar pada Kamis (17/9/2026) itu mengusung tema “Penguatan Kompetensi Penggerak Belajar dalam Membangun Fondasi Computational Thinking bagi Anak melalui Media Interaktif di Sanggar Bimbingan Malaysia.”
Tim pengabdian diketuai Maryam, S.T., M.Eng., dengan anggota Cahyaningtyas Sekar Wahyuni, S.Kom., M.Kom., Dr. Irma Yuliana, S.T., M.M., M.Eng., dan Yanti Haryanti, S.Pd., M.A.
Maryam menjelaskan, computational thinking merupakan kemampuan berpikir untuk memahami masalah, menyusun strategi, serta menemukan solusi secara logis dan terstruktur.
Menurut dia, kemampuan tersebut tidak terbatas pada penggunaan teknologi, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai aktivitas pembelajaran.
“Melalui pembelajaran berbasis computational thinking, anak-anak dilatih untuk berpikir sistematis, mengenali pola, serta menyelesaikan permasalahan melalui langkah-langkah yang terarah,” ujar Maryam, Senin (28/9/2026).
Gunakan Permainan Edukatif
Anak-anak SB Kepong yang merupakan binaan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia diperkenalkan dengan konsep dasar computational thinking melalui sejumlah aktivitas interaktif.
Maryam mengatakan, metode pembelajaran dirancang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik agar konsep yang diberikan lebih mudah dipahami dan dipraktikkan.
“Kami kenalkan konsep computational thinking dengan permainan edukatif, diskusi kelompok, dan tantangan pemecahan masalah yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh materi secara teoritis. Mereka juga mendapatkan pengalaman langsung untuk mengembangkan kemampuan analisis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.
Maryam berharap kegiatan ini dapat berkontribusi terhadap penguatan keterampilan abad ke-21 bagi anak-anak, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat.
“Penguatan kemampuan berpikir komputasional menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak menghadapi perubahan dan tantangan di era digital,” tuturnya.
Kegiatan di SB Kepong sekaligus menjadi bentuk kontribusi akademisi UMS dalam pengembangan inovasi pembelajaran, penguatan literasi digital, serta pengembangan kemampuan berpikir komputasional di lingkungan pendidikan pada tingkat internasional. (*)
