31.2 C
Jakarta

UNS Kolaborasikan Tiga Prodi Magister Bahas Pendidikan Sains Era AI

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Tiga program studi magister di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkolaborasi menggelar Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2026. Forum ini membahas transformasi pembelajaran sains di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi imersif.

 

SNPS 2026 yang digelar Sabtu (26/9/2026) mengangkat tema “Transformasi Pendidikan Kimia, Fisika, dan IPA di Era Kecerdasan Buatan: Mengintegrasikan Pendekatan STEM, Literasi AI, dan Teknologi Imersif untuk Pembelajaran Sains Masa Depan.”

 

Kolaborasi tersebut melibatkan Program Studi S2 Pendidikan Sains, S2 Pendidikan Fisika, dan S2 Pendidikan Kimia FKIP UNS. Kegiatan dihadiri Ketua Prodi S2 Pendidikan Sains Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D., Ketua Prodi S2 Pendidikan Kimia Prof. Dr. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si., M.Si., serta Ketua Prodi S2 Pendidikan Fisika Dewanto Harjuno Wibowo, S.Si., M.Si., Ph.D., bersama dosen dan mahasiswa.

 

Ketua Panitia SNPS 2026, Dr. Puguh Karyanto, mengatakan seminar tersebut menjadi wadah sinergi tiga program studi untuk merespons perkembangan AI yang berdampak langsung terhadap praktik pembelajaran sains.

 

“Kolaborasi lintas program studi ini dirancang agar perspektif pendidikan sains, fisika, dan kimia dapat saling melengkapi dalam merumuskan strategi pembelajaran berbasis STEM, literasi AI, dan teknologi imersif,” ujar Puguh.

 

Menurut dia, SNPS 2026 tidak hanya diarahkan sebagai forum diskusi, tetapi juga diharapkan menghasilkan gagasan konkret dan membuka peluang kolaborasi lanjutan.

 

Kolaborasi itu, kata Puguh, dapat diwujudkan dalam bentuk penelitian bersama maupun pengembangan bahan ajar inovatif sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh dunia pendidikan sains di Indonesia.

 

Kegiatan kemudian dibuka Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FKIP UNS Prof. Dr. paed. Nurma Yunita Indriyanti, M.Si., M.Sc. Ia menekankan pentingnya integrasi AI, pendekatan STEM, dan teknologi imersif dalam pembelajaran sains untuk mempersiapkan calon pendidik yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

 

Dorong Pemerataan Literasi AI

 

SNPS 2026 menghadirkan tiga narasumber yang membahas integrasi STEM, literasi AI, dan teknologi imersif sebagai bagian dari pembelajaran sains masa depan.

 

Narasumber pertama, Prof. Dr. Nadi Suprapto, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), mengangkat pemanfaatan tradisi lokal berbasis sains untuk dibawa ke tingkat global melalui pendekatan STREAM-STEM-STREM.

 

Menurut Nadi, pendekatan tersebut memungkinkan guru menghubungkan materi IPA dengan lingkungan sekitar sekolah sekaligus mengembangkan keterampilan 4C, yakni critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

 

Teknologi imersif, lanjut dia, dapat memperkuat proses tersebut dengan memberikan ruang bagi siswa untuk bereksperimen secara langsung dan mandiri.

 

“Melalui metodologi yang tepat, sinergi antara kearifan lokal dan sains terbukti mampu menembus panggung internasional,” katanya.

 

Sementara itu, narasumber kedua, Arif Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd., Ph.D. dari Universitas Negeri Semarang, membahas pembelajaran mendalam yang bermakna (meaningful learning) untuk mempersiapkan siswa menghadapi era robotik dan AI.

 

Ia menjelaskan, pendekatan STEM memiliki tiga ciri utama, yakni pemecahan masalah nyata, praktikum sains dan rekayasa, serta integrasi lintas disiplin ilmu.

 

Arif juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru secara bertahap, mulai dari kesadaran (awareness), perancangan (design), pengembangan (development), penerapan (implementation), refleksi (reflection), hingga inovasi (innovation).

 

AI, menurut dia, dapat dimanfaatkan guru untuk membantu menyusun ide proyek, desain awal, modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), hingga instrumen evaluasi.

 

Namun, pemanfaatannya tetap menghadapi sejumlah tantangan, seperti belum meratanya literasi AI, risiko ketergantungan terhadap teknologi, serta persoalan etika.

 

Teknologi Imersif Jadi Mitra Pembelajaran

 

Narasumber ketiga, Dr. Irwanto, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Negeri Jakarta, membahas pemanfaatan teknologi imersif seperti Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) dalam pembelajaran.

 

Menurut Irwanto, VR dapat digunakan untuk menghadirkan pengalaman laboratorium secara lebih interaktif. Sementara AR yang dipadukan dengan inquiry learning dapat membantu siswa memahami tahapan pemecahan masalah.

 

Ia menyebut pemanfaatan AR memiliki potensi untuk meningkatkan capaian belajar, kemampuan kognitif, dan motivasi siswa.

 

“Pengalaman berbasis teknologi harus selaras dengan tujuan pembelajaran, tetap menghadirkan bimbingan guru, serta menyeimbangkan penggunaan VR dan AR dengan metode pembelajaran,” jelasnya.

 

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga membahas pentingnya penggunaan AI secara bijak dan proporsional. Selain itu, dibahas strategi publikasi internasional dengan memanfaatkan integrasi teknologi untuk meningkatkan peluang penelitian masuk jurnal bereputasi.

 

Ketiga narasumber memiliki titik tekan yang sama bahwa AI dan teknologi imersif perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran, bukan sekadar alat bantu teknologi.

 

Pemanfaatannya perlu diarahkan untuk membantu siswa memecahkan masalah nyata sekaligus membangun kemampuan berpikir kritis dan kesadaran dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

 

Melalui SNPS 2026, FKIP UNS mendorong sinergi tiga program studi magister tersebut terus berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam penelitian dan inovasi pendidikan sains.

 

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi paralel yang diikuti 35 pemakalah. Masing-masing pemakalah mempresentasikan artikel hasil kajiannya dalam forum tersebut. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!