PURWOREJO. MENARA62.COM — Sekitar 500 siswa dan guru pendamping dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah (AUM/A) se-Kabupaten Purworejo mengikuti Jambore Daerah (Jampanel) Pandu Pengenal dan Pandu Penghela ke-1 serta Ceria Pandu Athfal.
Kegiatan yang digelar Kwartir Daerah Hizbul Wathan (Kwarda HW) Kabupaten Purworejo itu berlangsung selama dua hari satu malam, 2-3 Oktober 2026, di Lapangan Desa Golok, Kecamatan Banyuurip, Purworejo.
Mengusung tema “Mewujudkan Pandu Hizbul Wathan yang Berakhlak Mulia, Mandiri, Tangguh, Berprestasi, dan Berkemajuan”, Jampanel pertama ini tidak sekadar menjadi ajang perkemahan dan perlombaan.
Kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang pembinaan karakter, kepemimpinan, kemandirian, keterampilan kepanduan, ukhuwah Islamiyah, penguatan kaderisasi Muhammadiyah, sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Kwarda Hizbul Wathan Kabupaten Purworejo, Burhan Utamsi, mengatakan Jampanel menjadi momentum mempertemukan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Kegiatan Jambore Daerah ke-1 Pandu Pengenal Penghela dan Ceria Pandu Athfal merupakan kegiatan besar yang mempertemukan peserta didik dari berbagai Amal Usaha Muhammadiyah/Aisyiyah se-Kabupaten Purworejo dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK,” ujar Burhan.
Menurut dia, rangkaian kegiatan diarahkan untuk membentuk karakter peserta melalui pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang.
Peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar bekerja sama, berorganisasi, bertanggung jawab, menaati aturan, serta menghargai peserta lain.
“Melalui kegiatan ini diharapkan seluruh peserta memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan, menantang, serta mampu meningkatkan kemampuan bekerja sama, berorganisasi, dan berkompetisi secara sehat,” katanya.
Berkemah hingga Adventure Quest
Selama dua hari satu malam, peserta mengikuti beragam kegiatan kepanduan, pendidikan, spiritualitas, kreativitas, hingga permainan kelompok.
Selain pendirian tenda, agenda Jampanel diisi kajian keputrian, materi kepanduan, lomba masak berbahan dasar ubi atau singkong, upgrading guru pendamping, pentas seni, gerak pagi, senam pagi bersama, hingga senam Anak Indonesia Hebat.
Peserta juga mengikuti wide game, adventure quest, outbound atau team building, kajian hadis dan hikmah, serta berbagai agenda inspiratif yang dilakukan secara personal maupun kelompok.
Rangkaian tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan nilai kemandirian secara langsung. Mereka belajar mengelola aktivitas kelompok, menjaga kebersihan, menyelesaikan tantangan, dan membangun komunikasi serta kerja sama.
Sementara Ceria Pandu Athfal dikemas sesuai karakter peserta melalui berbagai perlombaan kreatif dan edukatif yang terbagi dalam sembilan maktab.
Tanam Pohon dan Tinggalkan Legacy
Selain pembinaan peserta, Jampanel juga membawa pesan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya diwujudkan melalui penanaman bibit pohon di sekitar lokasi kegiatan.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Purworejo mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, menanam pohon merupakan simbol pentingnya regenerasi dan keberlanjutan kehidupan.
“Kami PDM Purworejo mengapresiasi Kwarda Hizbul Wathan Purworejo yang hari ini mengadakan jambore, di mana dengan berbagai macam agenda salah satunya dilaksanakan penanaman pohon,” ujarnya.
Ia menekankan, pohon yang ditanam hari ini tidak harus dinikmati oleh orang yang menanamnya. Justru, langkah itu menjadi warisan bagi generasi berikutnya.
“Pastikan bahwasanya hidup itu harus regenerasi. Maka kita menanam hari ini tidak harus kita ambil hari ini, tetapi kita meletakkan legacy bahwasanya anak cucu kita butuh tinggalan,” katanya.
Ia berharap peserta Hizbul Wathan terbiasa berpikir jauh ke depan dan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan saat ini.
“Maka pastikan apa yang dilaksanakan hari ini menjadi catatan agar siapapun yang menjadi pandu HW untuk berpikir masa depan. Tidak hanya masa kini, tetapi masa depan anak-anak kita,” tuturnya.
Ketua PDM Purworejo juga mengingatkan peserta agar menjaga kesehatan, menghemat penggunaan air di tengah kemarau, serta berhati-hati menggunakan api selama perkemahan.
Kaderisasi Hizbul Wathan dan Muhammadiyah
Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Tengah, Muhammad Dzikron, menilai Jampanel memiliki posisi penting dalam proses pengaderan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Kwarda HW Purworejo dan para pendamping yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.
Menurut Dzikron, pengalaman kepanduan yang diperoleh peserta menjadi bekal untuk mengambil peran lebih besar di tengah masyarakat.
“Ini adalah sebagai bentuk untuk melangsungkan pengkaderan Hizbul Wathan, pengkaderan Muhammadiyah. Hari ini berlatih pandu, esok kan memandu. Fastabiqul khairat!” katanya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa kepanduan tidak berhenti pada keterampilan teknis, tetapi juga menjadi sarana mempersiapkan generasi muda yang mampu memimpin, bekerja sama, dan memberikan manfaat.
Apresiasi juga datang dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Pramuka Purworejo. Suhartomo menilai kegiatan HW tidak hanya memberikan pengalaman kepanduan kepada peserta, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi lingkungan.
“Seperti yang kita saksikan pada hari ini adalah penanaman bibit pohon. Semoga yang dilakukan HW Purworejo senantiasa diridai oleh Allah,” ujarnya.
Kepala Desa Golok, Eko Surahmanto, juga menyambut positif kegiatan tersebut. Ia menilai Jampanel memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk melalui penanaman bibit tanaman dan aktivitas ekonomi selama kegiatan berlangsung.
“Atas nama Pemerintahan Desa Golok dan masyarakat mengucapkan banyak terima kasih atas pelaksanaan perkemahan Hizbul Wathan yang dilaksanakan di Lapangan Desa Golok,” katanya.
Teks Pandu HW Dibacakan Bersama
Nuansa kaderisasi semakin terasa ketika peserta bersama-sama membacakan dan menirukan teks Pandu Hizbul Wathan.
Momentum tersebut menjadi bagian dari penguatan nilai kepanduan, karakter, kedisiplinan, dan kebersamaan. Peserta diajak memahami bahwa aktivitas kepanduan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan fisik dan perlombaan.
Sekitar 500 peserta dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK Muhammadiyah dan Aisyiyah pun berbaur dalam berbagai aktivitas selama Jampanel.
Lapangan Desa Golok berubah menjadi ruang belajar terbuka bagi para peserta untuk mengasah kemandirian, kepemimpinan, kreativitas, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Ini Daftar Juara Ceria Pandu Athfal
Dari sembilan maktab yang dipertandingkan dalam kategori kuntum putra dan putri, sejumlah sekolah meraih hasil terbaik.
Berikut daftar pemenangnya:
* Maktab Al Islam: SD Muhammadiyah Purwodadi (putra) dan SD KUB Muhammadiyah Purworejo (putri).
* Maktab Kemuhammadiyahan: SD Muhammadiyah Bayan (putra) dan SD Muhammadiyah Bruno (putri).
* Maktab Pionering: SD KUB Muhammadiyah Purworejo (putra) dan SD Aisyiyah Unggulan Purworejo (putri).
* Maktab PBB: SD Muhammadiyah Kutoarjo (putra) dan SD Muhammadiyah Purworejo (putri).
* Maktab KIM Penglihatan: SD Muhammadiyah Kemiri (putra) dan SD Muhammadiyah Purwodadi (putri).
* Maktab Ketangkasan: SD Muhammadiyah Bruno (putra) dan SD Muhammadiyah Bayan (putri).
* Maktab Hasta Karya: SD Aisyiyah Unggulan Purworejo (putra) dan SD Muhammadiyah Kemiri (putri).
* Maktab Masak Sop: SD Muhammadiyah Purworejo (putra) dan MIM Krendetan (putri).
* Maktab Yel-yel: MIM Krendetan (putra) dan SD Muhammadiyah Kutoarjo (putri).
Untuk kategori juara umum, SD Muhammadiyah Purworejo meraih Juara 1, disusul SD Muhammadiyah Kutoarjo sebagai Juara 2 dan SD Muhammadiyah Purwodadi sebagai Juara 3.
Regu dan Qabilah Terbaik
Pada tingkatan Pandu Penghela dan Pandu Pengenal, hasil akumulasi penilaian menetapkan Regu Vanilla dari Qabilah KH Muh. Asmawi SMP Muhammadiyah Jono–PP Darul Arqam Muhammadiyah Bayan Purworejo sebagai Juara 1 Umum Regu.
Juara 2 Umum Regu diraih Regu SMP Muhammadiyah Kutoarjo Putri, sedangkan Juara 3 Umum Regu diraih Regu SMK Muhammadiyah Purwodadi Putri.
Adapun Juara Umum atau Piala Bergilir Qabilah kembali diraih Qabilah KH Muh. Asmawi SMP Muhammadiyah Jono–PP Darul Arqam Muhammadiyah Bayan Purworejo.
Hasil tersebut melengkapi rangkaian Jampanel pertama Kwarda HW Purworejo yang memadukan perkemahan, kompetisi, pendidikan karakter, kaderisasi, dan pengabdian lingkungan.
Pada akhirnya, Jampanel bukan sekadar meninggalkan kenangan bagi peserta. Penanaman pohon menjadi simbol bahwa pendidikan kepanduan juga harus meninggalkan manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang.
Semangat itu terangkum dalam pesan Kwarwil HW Jawa Tengah: “Hari ini berlatih pandu, esok kan memandu.” (AMM/*)
