Sekjen MUI Ajak Dunia Islam Jadikan Wasathiyah Arus Utama

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Dr. Amirsyah Tambunan, mengajak dunia Islam menjadikan Islam Wasathiyah atau moderasi beragama sebagai arus utama dalam menghadapi berbagai tantangan global. Menurutnya, nilai-nilai Islam Wasathiyah menjadi landasan penting untuk membangun peradaban, menjaga persatuan, serta mencegah konflik dan perpecahan di tengah umat.

Hal tersebut disampaikan Buya Amirsyah saat memberikan tausiyah dalam kegiatan Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah Angkatan V di Pesantren Darunnajah, Jakarta, Minggu (8/11/2026).

Ia menjelaskan, dunia Islam saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik internal, perang saudara, hingga konflik eksternal yang menguras energi dan sumber daya negara-negara Muslim. Kondisi tersebut berdampak pada kemunduran peradaban, padahal dalam sejarahnya Islam telah memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

Menurutnya, kemunduran tersebut tidak terlepas dari konflik berkepanjangan yang memicu perpecahan dan melemahkan kekuatan umat Islam.

“Islam Wasathiyah harus menjadi arus utama, bukan sekadar mengikuti arus. Kita harus mampu membuat arus perubahan dengan menghadirkan peradaban yang maju, perilaku yang adil, serta kehidupan yang seimbang,” ujar Buya Amirsyah.

Ia mengajak para calon diplomat Islam untuk memahami dan menghayati nilai-nilai Wasathiyah sebagai landasan utama dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, baik dalam kehidupan beragama, berbangsa, maupun dalam hubungan internasional.

Buya Amirsyah menjelaskan, setidaknya terdapat tiga peran strategis Islam Wasathiyah. Pertama, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sebagai negara yang majemuk. Kedua, menjadi jembatan perekat di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama agar terhindar dari perpecahan. Ketiga, mencegah berkembangnya pemahaman ekstrem, baik ekstrem kanan yang mengarah pada radikalisme dan kekerasan maupun ekstrem kiri yang mengarah pada liberalisme dan sekularisme tanpa batas.

Kompetensi Diplomat Islam Wasathiyah

Lebih lanjut, Buya Amirsyah menekankan bahwa seorang diplomat Islam Wasathiyah harus memiliki kompetensi yang komprehensif. Kompetensi tersebut mencakup penguasaan pengetahuan (knowledge), kemampuan komunikasi (communication), negosiasi (negotiation), etika atau adab (ethics), serta kemampuan membangun jaringan yang luas (network).

Dalam aspek komunikasi, seorang diplomat dituntut lebih proaktif daripada reaktif. Artinya, diplomat harus mampu membaca perkembangan situasi, membangun dialog, serta mengambil inisiatif dalam menyelesaikan berbagai persoalan hubungan internasional.

Selain kompetensi substantif, diplomat juga perlu menguasai metodologi diplomasi agar mampu menyampaikan gagasan Islam secara tepat, efektif, dan dapat diterima dalam pergaulan internasional.

Menurutnya, terdapat enam karakter utama yang harus dimiliki diplomat Islam Wasathiyah.

Pertama, tawassuth atau mengambil jalan tengah, yakni tidak bersikap ekstrem dalam beragama dan senantiasa mencari solusi yang adil serta membawa kemaslahatan.

Kedua, tawazun atau berimbang, yaitu kemampuan menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan, termasuk antara wahyu dan akal, serta kepentingan dunia dan akhirat.

Ketiga, i’tidal atau adil dan tegak lurus, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya serta bertindak secara proporsional dan profesional.

Keempat, tasamuh atau toleransi, yaitu menghargai perbedaan pendapat, keyakinan, dan cara pandang orang lain tanpa harus mengorbankan prinsip dasar agama.

Kelima, syura atau musyawarah, yakni mengedepankan dialog dan komunikasi dalam menyelesaikan persoalan serta perbedaan.

Keenam, islah atau perbaikan, yaitu senantiasa berorientasi pada perdamaian, pembangunan, dan inovasi yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Hadirkan Diplomat dan Akademisi Senior

Kegiatan Pelatihan Diplomasi Islam Wasathiyah Angkatan V ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dan fasilitator yang memiliki pengalaman di bidang diplomasi, hubungan internasional, dan akademisi.

Di antaranya Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI), Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, Guru Besar Ilmu Sosial Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hadir pula Wakil Sekjen MUI Safira Machrusah yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Demokratik Rakyat Aljazair periode 2016–2020.

Selain itu, Drs. Bunyan Saptomo, M.A., diplomat senior yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Bulgaria merangkap Albania periode 2012–2016, serta Yuli Mumpuni Widarso yang pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Aljazair periode 2008–2011 dan Spanyol merangkap WTO periode 2013–2018.

Pelatihan ini juga menghadirkan Salman Al Farisi, diplomat Indonesia yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Indian Ocean Rim Association (IORA) di Mauritius periode 2022–2024 dan Duta Besar RI untuk Afrika Selatan merangkap Botswana, Eswatini, dan Lesotho periode 2018–2022.

Salman juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab periode 2012–2014, serta sejumlah diplomat dan praktisi lainnya.

Kehadiran para diplomat senior dan akademisi tersebut diharapkan dapat memperkuat wawasan, kapasitas, serta keterampilan diplomasi para peserta dalam membawa nilai-nilai Islam Wasathiyah ke tingkat internasional.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!