28.2 C
Jakarta

Film Berbasis Internet Marak, LSF Ajak Masyarakat Lakukan Budaya Sensor Mandiri

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Belum semua film-film berbasis internet yang tayang diberbagai aplikasi telah melalui proses penyensoran dari Lembaga Sensor Film (LSF). Pertumbuhan film-film sejenis ini yang sedemikian pesat membuat tugas LSF menjadi tidak mudah.

Karena itu, LSF dibawah kepemimpinan Rommy Fibri Hardiyanto terus membangun kesadaran kolektif masyarakat agar secara mandiri dapat memilah dan memilih tontonan sesuai penggolongan usia. Inilah yang menjadi dasar utama LSF mengedepankan program Budaya Sensor Mandiri (BSM).

“Intinya LSF mengajak seluruh komponen bangsa untuk menyebarkan informasi dan meliterasi publik agar masyarakat mampu memilah dan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia. Targetnya, hal ini dapat menjadi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, termasuk salah satu persiapannya adalah dengan membentuk Desa Sensor Mandiri,” kata Rommy Fibri Hardiyanto didampingi Ervan Ismail sebagai Wakil Ketua dalam keterangan pers Laporan Kinerja LSF 2020 dan Peluncuran Video Klip Budaya Sensor Mandiri, Kamis (22/2/2021).

Hal tersebut sesuai dengan visi yang diemban LSF Periode 2020-2024 yakni membangun LSF yang Independen, Akuntabel, Kredibel, dan Profesional. Independen merujuk pada pengambilan kebijakan yang tidak dipengaruhi dan tidak terikat pada kepentingan golongan tertentu.

“Rujukan paling utama adalah kepentingan bangsa dan negara. Kebijakan tersebut tentu harus dapat dipertanggungjawabkan, yang dapat dimaknai sebagai Akuntabel,” kata Rommy Fibri.

Kredibel, merepresentasikan LSF sebagai lembaga yang harus dapat dipercaya seluruh pemangku kepentingan perfilman. Artiny lembaga ini mesti mampu menyelaraskan antara menjaga masyarakat dan mendorong majunya dunia perfilman.

Adapun Profesional, sangatlah berkaitan dengan kepandaian khusus untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi kelembagaan, demi merilis keputusan-keputusan yang jernih. Selama kurun waktu delapan bulan (Mei–Desember 2020), serangkaian program telah terlaksana dengan baik. Program dan kegiatan LSF dijalankan melalui tiga komisi, yakni Komisi I (bertanggung jawab pada bidang Penyensoran, Dialog, Apresiasi dan Promosi, Media Baru, Data, Pelaporan dan Publikasi), Komisi II (Pemantauan, Hukum dan Advokasi), Komisi III (Sosialisasi, Kemitraan, Penelitian dan Pengkajian).

Rommy mengatakan sepanjang 2020, LSF telah menyensor 39.863 film dan iklan film. Jumlah tersebut meliputi jenis film untuk layar lebar (bioskop), televisi, palwa (penjualan dan penyewaan melalui keping cakram/DVD), jaringan informatika, sarana promosi, festival, kalangan terbatas, dan event tertentu.

“Dari total keseluruhan, mayoritas sensor film adalah untuk televisi, yakni 95,99 persen. Adapun film layar lebar hanya 1,40 persen dan sisanya untuk jaringan informatika. Jumlah 39.863 tersebut memperlihatkan bahwa belum seluruh film dan iklan film yang beredar di Indonesia disensorkan,” lanjutnya.

Padahal bila mengacu pada Pasal 57 UU Perfilman, disebutkan bahwa setiap film dan iklan film yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan ke khalayak umum wajib memperoleh Surat Tanda Lulus Sensor (STLS). Apalagi di era digital saat ini, masyarakat memiliki banyak alternatif untuk mengakses konten film, terutama yang berbasis pada jaringan informatika, baik berupa layanan Over the Top (OTT) maupun Video on Demand (VoD).

Out of The Box

Mendikbud Nadiem Makarim dalam sambutannya ketika melantik anggota LSF, antara lain mengatakan bahwa sebaiknya anggota LSF tidak hanya memperkuat integritas, tetapi juga mengembangkan wawasan yang out of the box. Ini penting guna mengimbangi perkembangan teknologi dan konten di dunia perfilman serta mendukung kemajuan pendidikan dan kebudayaan di Indonesia.

Cara berpikir menciptakan gagasan di luar kebiasaan tersebut, dijawab LSF dengan mengembangkan sistem informasi publik yang sangat mudah diakses. Hingga saat ini LSF sudah memiliki beberapa platform media sosial, yaitu Instagram (@lsf_ri), Twitter (@lsf_ri), Facebook (lembagasensor.RI), laman www.lsf.go.id, dan kanal YouTube (Lembaga Sensor RI). Bahkan ada pula TikTok yang terkenal bersifat hiburan dengan segala bentuk video singkat yang dikemas untuk menarik perhatian kalangan milenial.

“Dengan cara itu, masyarakat mendapat literasi dan pengetahuan memadai terkait film-film yang akan ditonton,” ujar Rommy Fibri.

Melalui seluruh kanal informasinya, LSF akan menayangkan kanal movie guide (panduan film) yang dapat menjadi mercusuar bagi masyarakat di tengah belantara film yang beredar luas melalui berbagai platform, khususnya platform digital. Launching website dan jingle Budaya Sensor Mandiri Untuk menyesuaikan diri dengan zaman milenial, LSF memperbarui laman www.lsf.go.id.

Pada kesempatan tersebut LSF juga memperkenalkan desain dan perwajahan baru laman LSF. Menurut rencana, wajah baru laman LSF secara lengkap akan dapat dinikmati pada akhir Maret mendatang, sekaligus menyambut Hari Film Nasional.

Dalam kesempatan ini LSF juga memperkenalkan jingle atau lagu tema Budaya Sensor Mandiri beserta Video Klipnya. Kali ini, LSF berkolaborasi dengan Piyu Padi. Semoga lagu ini dapat mengajak masyarakat untuk selalu menonton film sesuai dengan klasifikasi usianya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!