35 C
Jakarta

Anwar Abbas Dorong Pengusaha Muhammadiyah Belajar dari China

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Pesatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam lima dekade terakhir dinilai menyimpan pelajaran penting bagi Indonesia. Negara yang dahulu menghadapi berbagai keterbatasan itu kini menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

 

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan Indonesia perlu mempelajari pengalaman Tiongkok dalam membangun ekosistem ekonomi, industri, teknologi, dan dunia usaha.

 

“Kita harus belajar dari China. Lima puluh tahun yang lalu, China belum menjadi apa-apa. Tetapi hari ini, China telah menjadi kekuatan besar ekonomi dunia. Kita berharap Indonesia akan bisa menyusul,” kata Anwar Abbas dalam diskusi bersama Fata Zaki, peserta Business Trip SUMU–Tiongkok pada Agustus 2026.

 

Menurut Anwar, pengalaman Tiongkok dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia, khususnya dalam membangun kekuatan ekonomi yang ditopang dunia usaha dan ekosistem bisnis yang berkembang.

 

Pesan tersebut menjadi salah satu landasan Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) dalam mendorong para pelaku usaha Muhammadiyah untuk belajar langsung dari perkembangan ekosistem bisnis Tiongkok.

 

Menemukan Peluang Bisnis di Yiwu

 

Upaya tersebut diwujudkan SUMU melalui Open Trip Bisnis Indonesia–Tiongkok dengan tujuan utama Kota Yiwu, Provinsi Zhejiang. Sebanyak 52 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti perjalanan bisnis tersebut pada Agustus 2026.

 

Kegiatan itu tidak hanya diarahkan sebagai kunjungan bisnis. Para peserta juga didorong untuk menemukan mitra, memetakan peluang usaha, serta memahami secara langsung bagaimana perdagangan dan industri berkembang di Tiongkok.

 

Sejumlah penjajakan bahkan telah berkembang menjadi kerja sama konkret. Di antaranya peluang di sektor karbon aktif atau briket arang serta mesin produksi knalpot untuk asosiasi pengrajin knalpot di Purbalingga.

 

Direktur sekaligus Sekretaris Jenderal SUMU Ghufron Mustaqim mengatakan Indonesia tidak perlu menyalin model bisnis Tiongkok secara utuh.

 

Menurut dia, hal yang lebih penting adalah memahami bagaimana ekosistem tersebut dibangun dan kemudian memilih bagian yang relevan untuk diterapkan sesuai kebutuhan Indonesia.

 

Selama berada di Yiwu, peserta diarahkan mengidentifikasi peluang impor-ekspor, jaringan pemasok, kerja sama usaha, hingga alih teknologi dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan industri dalam negeri.

 

Fata Zaki, peserta Business Trip Indonesia–Tiongkok, menilai salah satu hal yang menarik dari ekosistem bisnis Tiongkok adalah pemanfaatan teknologi.

 

“Salah satu hal yang menarik dari China adalah bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung bisnis dan industri. Kita bisa melihat bagaimana teknologi tidak hanya menjadi alat produksi, tetapi juga menjadi bagian dari cara mereka mengembangkan usaha,” ujarnya.

 

Dari Yiwu hingga Beijing

 

Pembelajaran bisnis SUMU di Tiongkok kemudian diperluas melalui kunjungan ke Beijing pada September 2026.

 

Jika Yiwu memberikan gambaran mengenai kekuatan perdagangan, sourcing, dan jaringan pemasok, Beijing membuka perspektif lebih luas mengenai keterkaitan industri, teknologi, perdagangan jasa, dan konektivitas dalam ekosistem ekonomi Tiongkok.

 

Dalam kunjungan tersebut, peserta menyambangi China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2026 di Beijing Shougang Exhibition Center, Shougang Park, Beijing.

 

CIFTIS menjadi ruang pertemuan pelaku usaha, sektor industri, dan penyedia layanan dari berbagai negara untuk memperluas jaringan serta melihat perkembangan perdagangan jasa internasional.

 

Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa SUMU tidak hanya mendorong pengusaha untuk mencari produk atau pemasok, tetapi juga memahami ekosistem yang menopang perkembangan bisnis di Tiongkok.

 

SUMU Siapkan China Business Trip Berikutnya

 

Melihat antusiasme dan manfaat dari dua perjalanan sebelumnya, SUMU kembali menyiapkan China Business Trip pada Oktober-November 2026.

 

Pada perjalanan ketiga ini, Anwar Abbas akan turut mendampingi peserta. Kehadiran Ketua PP Muhammadiyah tersebut diharapkan memperkuat dimensi pembelajaran strategis bagi para pengusaha Muhammadiyah.

 

SUMU menyiapkan tiga pilihan perjalanan dengan fokus bisnis berbeda.

 

Pertama, Trip A–Canton Fair Phase 1 di Guangzhou pada 14-17 Oktober 2026. Perjalanan ini berfokus pada produk, supplier, teknologi, dan peluang perdagangan internasional.

 

Kedua, Trip B–Yiwu International Commodities & Trade Market pada 21-25 Oktober 2026. Fokusnya mencakup sourcing, jaringan supplier, perdagangan komoditas, serta peluang impor-ekspor.

 

Ketiga, Trip C–Canton Fair Phase 3 dan Chenghai Toys & Gifts Fair di Guangzhou dan Shantou pada 28 Oktober-2 November 2026. Program ini diarahkan pada produk konsumen, toys and gifts, sourcing, serta peluang pengembangan bisnis.

 

Melalui rangkaian tersebut, SUMU membuka ruang bagi pengusaha untuk memperluas wawasan, membangun koneksi, menemukan mitra potensial, sekaligus mempelajari secara langsung ekosistem bisnis Tiongkok.

 

Bagi pelaku usaha yang ingin mengikuti China Business Trip SUMU, informasi mengenai pilihan perjalanan dan keikutsertaan dapat diperoleh melalui WhatsApp Brili di nomor +62 821-4353-242. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!