26.7 C
Jakarta

Dakwah Tanpa Mimbar

Baca Juga:

 

Oleh : Pujiono *)

BOYOLALI, MENARA62.COM – Berawal dari rasa “gemes“, akan dakwah umat Islam di lingkungan kami, maka kami berusaha tulis tema ini dakwah tanpa mimbar.

Tahun 2000, kampung kami 100% penduduk muslim, dan tahun ini 2022 ada 5 penduduk yang Non Muslim, karena salah satu KK murtad, dan kemudian 5 anaknya yang kini telah menjadi keluarga pun ikut murtad. Itu artinya peningkatan jumlah jamaah non muslin jelas. Sementara kalau di kita ya, di beberapa daerah yang belum terjamah Islam bisa jadi. Tapi bagi kita yang semua lingkungan sudah Muslim, dakwahnya masih berkutat di intern.

Dakwah berarti seruan, ajakan menuju ke jalan kebaikan Jalan Allah Swt. Namun bila kita cermati dengan seksama umat Islam masih banyak berkutat di intern sendiri. Terjebak di masalah khilafiyah yang tiada putusnya. Kemudian ditambah tiada target dan rencana strategi program yang tersistem.

BELAJAR DARI DAKWAH NABI SAW

Nabi Muhammad SAW, ketika berdakwah jika kita amati ada periode Makah dan periode Madinah. Periode dakwah Nabi selama kurang lebih 22 tahun 2 bulan 22 hari atau ada yang membulatkan selama 23 tahun dan terbagi dalam dua periode yaitu periode Makkah dan Madinah.

Sebelum diangkat sebagai rasul, Muhammad sering menyendiri (berkhalwat) di Gua Hira’ sampai suatu ketika memperoleh wahyu pertama berupa surat Al-’Alaq ayat 1-5. Lima ayat tersebut diyakini sebagai pembukaan dari risalah penutup yang abadi.

Dakwah rasulullah di Makkah berlangsung sekitar 13 tahun, di mana wilayah Makkah kurang kondusif  untuk mengembangkan dakwahnya. Kemudian hijrah ke Madinah. Di periode ini Nabi Agung Muhammad SAW mencapai puncak kejayaan. Dari sekelumit cerita itu bisa kita ambil pelajaran, dakwah ada tahapan, ada target, ada strategi. Jika waktu lama dakwah tidak mendapatkan respon, dan target tak tidak memungkinkan kemudian hijrah. Sasaran jelas, tapi mari saat ini kita dakwah kita masih banyak di lingkup masjid intern umat Islam sendiri. Ketika dakwah hanya sebatas bil Kalam di atas mimbar. Sementara mimbar terbatas. Dan tak jarang umat Islam ‘berebut’ mimbar hanya ingin menyampaikan pahamnya.

Dakwah Tanpa Mimbar

Dengan semangat QS Ali-Imron 104

Surat Ali ‘Imron 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Saatnya ada sekelompok mendesain dakwah tanpa mimbar sebuah langkah nyata dan tak terbatas di atas mimbar bisa dilakukan. Dan pahala juga tak kalah besar dengan yang di atas mimbar.

Adapun beberapa dakwah di luar mimbar yaitu :

Pertama, Bil Mal ( Dakwah dengan harta). Di dalam harta kita ada hal orang lain yang harus kita berikan, baik diminta atau tidak diminta. Banyak cara membelajakan harta di jalan Allah yang besar pahalanya. Seperti Waqaf tanah, membangun madrasah, dan infak fii sabillillah.
Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT menjelaskan pahala dan bagaimana perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta dijalan Allah SWT. Perumpamaan orang yang mengeluarkan harta di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap bulirnya berisi 100 biji.

Kedua, Bil Qolam ( Dengan tulisan) , Media cetak, Sosial Media sepert WA, FB, IG semua adalah media dakwah yang bisa jadi jariyah bagi penulis kebaikan. Kalau kita dakwah bil Kalam ( pidato) mungkin hanya bisa di dengar di dalam ruang masjid. Tetapi kalau kita mau menulis bisa menembus batas dan dibaca ribuan orang. Sayidina Ali Ra memotivasi kita dengan Ikatlah Ilmu dengan menulisnya.

Ketiga, Bil Quat (Tenaga). Jika harta benda serta pikiran kita terbatas, tenaga bisa kita gunakan sebagai sarana dakwah. Membantu tetangga yang butuh, gotong royong, atau entengan terhadap tetangga sekitar itu juga bagian dari berderma.

Keempat Bil Qudwah ( Teladan). Seribu teori tanpa arti tanpa adanya sebuah keteladanan. kadang di masyarakat awam itu tidak butuh ceramah banyak, tapi yang utamanya prakteknya. dengan memberi uswah hasanah seperti nabi Muhammad pasti masyarakat akan simpati.

STRATEGI DAKWAH TANPA MIMBAR

Dakwah diluar mimbar tidak dibatasi ruang dan waktu, maka butuh Istiqomah dan kontinuitas para dai. karena bisa dilakukan membaur di masyarakat, dengan misi suci Problem Solving persoalan masyarakat, perlu diatasi dengan cepat. Waktu dakwah 24 jam di masyarakat, tidak formalis di mimbar yang hanya sepekan sekali atau saat Ramadhan saja. Seribu teori tanpa adanya sebuah keteladanan, tetapi semua tetap menggunakan prinsip dakwah
Alquran Surat An-Nahl Ayat 125

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dan hadist riwayat Muslim
“Jika di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

Semoga umat Islam bergerak dakwah di seluruh lini kehidupan masyarakat. Hingga capai masyarakat Islam yang sebenar benarnya terwujud.

*)Ketua Majelis Pendidikan Kader PDM Kabupaten Boyolali

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!