32.2 C
Jakarta

Digitalisasi Pendidikan Butuh Teknologi dan Kearifan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Transformasi pendidikan di era digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Integrasi antara inovasi digital, filosofi pendidikan, dan kearifan lokal menjadi kunci membangun sistem pembelajaran yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Gagasan ini mengemuka dalam bedah buku Digitalisasi Pembelajaran yang digelar BRAMS Institute di De’Lima Surakarta, Selasa (15/4/2026).
Buku karya Dr. Bramastia, M.Pd., Dana Ainal Hasan, S.Pd., dan Riska Nabila Zenia Putri, S.Pd. ini menjadi sorotan karena menawarkan perspektif komprehensif tentang digitalisasi pendidikan, tidak hanya dari sisi penggunaan teknologi, tetapi juga melalui pendekatan pedagogis, filosofis, hingga kultural.
Dalam pengantar buku, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen RI, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., menegaskan bahwa digitalisasi pembelajaran merupakan agenda strategis untuk mewujudkan pendidikan yang adaptif dan berdaya saing global.
“Digitalisasi pembelajaran harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang fleksibel, interaktif, dan berorientasi pada penguatan karakter serta kompetensi abad ke-21,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa transformasi digital tidak boleh melahirkan kesenjangan baru. Sebaliknya, digitalisasi harus menjadi instrumen pemerataan akses pendidikan berkualitas hingga ke seluruh pelosok Indonesia.
Bedah Buku Hadirkan Refleksi Kritis
Kegiatan bedah buku menghadirkan Kepala Program Studi S1 Teknologi Pendidikan FKIP UNS Surakarta, Dr. Eka Budhi Santosa, M.Pd., sebagai pembedah utama. Ia menilai buku Digitalisasi Pembelajaran memiliki kekuatan pada keberanian penulis mengintegrasikan kebijakan pendidikan, teori belajar, serta perkembangan teknologi mutakhir seperti artificial intelligence (AI), augmented reality (AR), dan virtual reality (VR).
Menurutnya, buku ini relevan dengan tantangan pendidikan modern yang semakin kompleks.
“Digitalisasi pembelajaran tidak boleh hanya menjadi wacana di kota besar, tetapi harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara adil,” ujarnya.
Dr. Eka juga menilai buku tersebut memiliki fondasi teori yang kuat, dengan memadukan pendekatan progresivisme, konektivisme, hingga teori kognitif multimedia, yang memperkuat posisi digitalisasi sebagai bagian dari evolusi paradigma pendidikan.
Akademisi Muda Soroti Kesiapan Guru
Diskusi yang dimoderatori Arindra Alfarizi, M.Pd. berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif mahasiswa dan peserta lintas lembaga. Sejumlah peserta menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia, terutama guru, dalam menghadapi percepatan transformasi digital.
Isu literasi digital, etika penggunaan teknologi, hingga tantangan era borderless dan post-truth juga menjadi perhatian dalam diskusi.
Menurut para peserta, digitalisasi pembelajaran tidak cukup berhenti pada penyediaan perangkat, tetapi harus dibarengi penguatan kapasitas guru dan pembentukan budaya berpikir kritis.
Kolaborasi Dorong Masa Depan Pendidikan
Kegiatan ini menjadi ruang dialog strategis antara akademisi, penulis, dan mahasiswa dalam membaca arah masa depan pendidikan Indonesia. Kolaborasi antara BRAMS Institute dan kalangan akademisi diharapkan melahirkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga berpijak pada nilai budaya dan filosofi pendidikan nasional.
Bedah buku ini sekaligus menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak yang menuntut integrasi teknologi, kebijakan, dan kearifan lokal demi mewujudkan pendidikan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!