SOLO, MENARA62.COM – Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Sukoharjo mendorong peningkatan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Sebanyak 224 kepala sekolah, kepala madrasah, dan guru Muhammadiyah mengikuti pelatihan AI untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif di Auditorium Mohammad Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id, Kamis (15/10/2026).
Mengusung tema “AI dan Guru Berkemajuan: Dari Teknologi Menjadi Inspirasi Pembelajaran”, kegiatan ini membekali para pendidik dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam memanfaatkan teknologi AI secara bijak untuk mendukung proses belajar-mengajar.
Ketua FGM Kabupaten Sukoharjo, Heru Nugroho, M.Pd., mengapresiasi antusiasme para peserta. Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan kompetensi guru Muhammadiyah agar mampu merespons perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini terus kita adakan agar guru-guru Muhammadiyah di Kabupaten Sukoharjo mengalami peningkatan kualitas yang signifikan. Kita harus merespons perkembangan teknologi ini dengan cepat agar sekolah-sekolah Muhammadiyah siap bersaing,” ujarnya.
Heru berharap pelatihan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga para pendidik tidak hanya mengenal teknologi AI, tetapi juga mampu mengintegrasikannya secara efektif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
UMS Dorong Kolaborasi untuk Kemajuan Pendidikan
Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyambut baik penyelenggaraan pelatihan tersebut sebagai bentuk kolaborasi antara FGM Kabupaten Sukoharjo dan UMS dalam memperkuat kualitas pendidikan Muhammadiyah.
Ia menekankan pentingnya silaturahim dan tholabul ’ilmi atau menuntut ilmu untuk memperluas jejaring serta membangun budaya belajar di lingkungan persyarikatan.
Menurut Mutohharun, perkembangan AI telah menjadi perhatian berbagai kalangan, mulai dari akademisi hingga pimpinan lembaga pendidikan. Karena itu, pendidik perlu memahami teknologi tersebut sebagai sarana pendukung dalam menjalankan tugas profesionalnya.
“Isu AI saat ini menjadi pembahasan di seluruh dunia, baik di tingkat akademisi maupun pimpinan lembaga pendidikan. Kita melihat AI sebagai sarana pendukung yang dapat membantu menjalankan amanah kita sebagai pendidik,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya semangat ta’awun atau kerja sama sebagai kekuatan jejaring Muhammadiyah. Melalui kolaborasi, sekolah-sekolah yang telah maju dapat berbagi pengalaman dan praktik baik kepada sekolah lain untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan secara bersama-sama.
Mutohharun kemudian secara resmi membuka seminar dan pelatihan pemanfaatan AI tersebut.
Guru Diajak Beralih dari Pengguna Menjadi Kreator AI
Pelatihan menghadirkan Fasilitator Nasional Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), Ary Gunawan, S.Pd., yang juga merupakan guru SMP Muhammadiyah 3 Depok, Sleman.
Dalam sesi pemaparan yang interaktif, Ary menegaskan bahwa kehadiran AI tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi profesi guru. Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat peran pendidik dalam merancang pengalaman belajar sekaligus membentuk karakter siswa.
“AI adalah alat yang memperkuat peran guru sebagai perancang pengalaman belajar dan pembentuk karakter. Hal terpenting bagi kita adalah mengubah diri dari sekadar AI user menjadi AI creator, yaitu dengan melatih kemampuan merumuskan perintah yang tepat, kritis, serta memverifikasi data secara bijak,” jelas Ary.
Ia menekankan bahwa kemampuan menggunakan AI tidak cukup hanya dengan memasukkan pertanyaan atau perintah ke dalam platform digital. Guru juga perlu menyusun prompt yang tepat, menilai relevansi hasil yang diberikan, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menggunakannya dalam pembelajaran.
Dengan pendekatan tersebut, AI diharapkan menjadi alat bantu yang mampu meningkatkan kreativitas guru tanpa mengesampingkan pertimbangan kritis, tanggung jawab profesional, dan nilai-nilai pendidikan.
Praktik Menyusun Modul Ajar hingga Asesmen Interaktif
Setelah sesi materi, peserta mengikuti pelatihan praktis penulisan prompt dan eksplorasi berbagai platform AI untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Para peserta diperkenalkan pada pemanfaatan AI dalam penyusunan modul ajar, pengembangan asesmen interaktif, serta pembuatan media pembelajaran digital. Materi praktik ini dirancang agar guru dapat memperoleh gambaran konkret tentang penerapan teknologi AI sesuai kebutuhan pembelajaran di kelas.
Melalui kegiatan tersebut, FGM Kabupaten Sukoharjo berharap para pendidik Muhammadiyah semakin siap menghadapi transformasi digital di bidang pendidikan. Penguasaan teknologi diharapkan berjalan seiring dengan penguatan kompetensi pedagogis dan karakter guru.
Pelatihan ditutup dengan sesi foto bersama dan diskusi antarpeserta. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman bagi para pendidik untuk memperluas wawasan serta mendorong inovasi pembelajaran di sekolah dan madrasah Muhammadiyah. (*)
