28.2 C
Jakarta

Halal Bihalal Warga Patangpuluhan Gajahan Surakarta, Dr. Suyanto Tekankan 3 Pilar Kerukunan: Taaruf, Tafahum, dan Silaturahmi

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan pengajian Halal Bihalal warga RT 02 RW 04 Patangpuluhan, Kelurahan Gajahan, Kota Surakarta, yang digelar pada Senin (13/4/2026) di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Gajahan.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi warga pasca-Ramadan, sekaligus ajang perkenalan pengurus wilayah yang baru. Hadir dalam acara tersebut Ketua RW 04 yang baru, Popo Fauzan, serta para Ketua RT 01, RT 02, dan RT 03 yang juga baru menjabat.

Dalam sambutannya, pengurus RT menekankan semangat kepemudaan dan sinergi antar pengurus sebagai modal utama membangun lingkungan yang harmonis. Halal bihalal ini juga menjadi momen pidato perdana Ketua RW 4 di hadapan warga.

Bangun Kerukunan dengan 3 Pilar Utama
Tausyiah halal bihalal disampaikan oleh Dr. Suyanto, yang mengajak warga memperkuat kerukunan melalui tiga pilar utama, yakni taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), dan silaturahmi (mempererat hubungan).
“Tanpa saling mengenal, hubungan akan renggang. Tanpa saling memahami, mudah terjadi konflik. Dan tanpa silaturahmi, kebersamaan akan memudar,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa tetangga seringkali menjadi pihak terdekat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan lebih cepat hadir dibanding keluarga yang tinggal jauh saat terjadi musibah.

Halal Bihalal, Tradisi Perekat Bangsa
Dalam ceramahnya, Dr. Suyanto menjelaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang bertujuan mempererat hubungan sosial dan menjadi sarana saling memaafkan setelah bulan Ramadan.
Selain memperkuat hubungan antarsesama (hablum minanas), halal bihalal juga menjadi pelengkap ibadah kepada Allah SWT (hablum minallah).
“Dosa kepada sesama manusia tidak cukup hanya dengan istigfar, tetapi harus disertai saling memaafkan. Di sinilah pentingnya halal bihalal,” jelasnya.

Apresiasi Peran Perempuan dan Keberagaman
Tak hanya itu, ia juga mengapresiasi peran kaum perempuan sebagai pilar penting dalam keluarga dan masyarakat. Menurutnya, ibu adalah “madrasatul ula” atau sekolah pertama bagi anak-anak. Dr. Suyanto juga mengajak warga menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa. Ia mengibaratkan masyarakat seperti taman bunga yang indah karena terdiri dari berbagai warna dan jenis.

Sejarah Lokal hingga Semangat Kebersamaan
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan asal-usul nama Gajahan yang diyakini berasal dari istilah “kandang gajah”, sebagai bagian dari sejarah lokal yang perlu dikenali generasi muda.
Acara berlangsung meriah dengan partisipasi aktif warga, termasuk cerita kegiatan kreatif ibu-ibu seperti lomba bertema unik yang mencerminkan kekompakan dan semangat kebersamaan.

Perkuat Komunikasi dan Kolaborasi Warga
Melalui kegiatan ini, warga diharapkan semakin solid dalam membangun lingkungan yang rukun dan harmonis. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti grup WhatsApp juga didorong untuk memperlancar komunikasi antarwarga.
Halal bihalal ini menjadi bukti bahwa kebersamaan, komunikasi, dan saling pengertian merupakan kunci utama dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang damai dan sejahtera.
“Manusia dikenang bukan dari apa yang dimiliki, tetapi dari kontribusinya bagi sesama,” pungkas Dr. Suyanto. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!