SOLO, MENARA62.COM – Startup health-tech asal Indonesia, NutriAI, sukses tampil di ajang Harvard Health Systems Innovation Lab (HSIL) Global Hackathon 2026 yang digelar pada 10–11 April 2026 di UCSI Hospital. Ajang internasional ini mempertemukan inovator teknologi kesehatan dari lebih dari 35 negara di lima benua.
NutriAI dipimpin oleh Saminur Fauzan, S.Gz., alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS), yang kini juga menempuh studi Master of Science in Clinical Nutrition di International Islamic University Malaysia. Ia membawa inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk profesi gizi.
NutriAI merupakan produk dari PT NutriAI Indonesia Cerdas yang berdiri pada 27 Desember 2025 di Dharmasraya, Sumatera Barat. Startup ini mengembangkan sistem AI khusus untuk profesi gizi dengan menggabungkan keahlian klinis dan teknologi.
Tim inti NutriAI terdiri dari tenaga profesional di bidang gizi dan teknologi, termasuk CTO berlatar belakang ilmu komputer dari UMS. Namun, pada kompetisi ini, NutriAI menjadi salah satu dari dua tim asal Indonesia yang berlaga di hub Malaysia bersama sekitar 20 tim dari berbagai negara seperti Malaysia, India, Korea Selatan, dan Thailand. Satu tim lainnya berasal dari Universitas Andalas.
HSIL Hackathon sebagai kompetisi tahunan yang diinisiasi oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health mengusung tema tahun ini “Building High-Value Health Systems: Leveraging AI”. Peserta ditantang merancang dan mempresentasikan solusi teknologi kesehatan berbasis AI dalam waktu dua hari.
“Kompetisi berlangsung secara bertahap, mulai dari seleksi di tingkat hub hingga tahap global yang mempertemukan finalis terbaik di hadapan investor internasional,” ungkap Saminur Fauzan saat dimintai keterangan, Rabu (15/4).
NutriAI hadir sebagai AI Workflow Engine pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk ahli gizi dan dietisien. Platform ini mengintegrasikan tiga fitur utama, yakni AI NCP Generator, AI Menu Diet, serta sistem manajemen pasien terintegrasi.
Melalui teknologi ini, kata Saminur, proses administrasi yang biasanya memakan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit. Hal tersebut memungkinkan tenaga gizi lebih fokus pada pelayanan pasien dibanding pekerjaan administratif.
“Berbeda dari banyak peserta lain yang masih berada pada tahap konsep, NutriAI telah memiliki pengguna dan pendapatan. Saat ini, platform tersebut telah digunakan oleh 116 ahli gizi dan dietisien di Indonesia dengan skema berbayar, tanpa biaya akuisisi iklan,” paparnya.
Selain itu, sebanyak 125 profesional tercatat dalam daftar tunggu untuk versi Pro yang dijadwalkan meluncur pada 19 April 2026 melalui platform nutriaipro.id.
Dalam sesi presentasi berdurasi tiga menit, Saminur menampilkan live demo langsung dari platform NutriAI. Ia memperagakan bagaimana sistem mampu menghasilkan dokumen Nutrition Care Process (NCP) secara otomatis dari data pasien dalam hitungan detik.
Pendekatan ini menjadi pembeda signifikan, mengingat sebagian besar tim lain masih menampilkan konsep atau prototipe.
NutriAI mengangkat isu kekurangan tenaga kesehatan dengan pendekatan bahwa AI tidak menggantikan peran tenaga medis, melainkan meningkatkan kapasitas kerja mereka.
“NutriAI memperoleh respons positif dari dewan juri internasional. Masukan yang diberikan antara lain pentingnya memperkuat keunggulan kompetitif serta mempercepat ekspansi pasar,” terangnya.
Saminur menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam ajang ini menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing secara global.
“NutriAI bukan sekadar aplikasi, tetapi misi untuk mentransformasi cara kerja lebih dari 100 ribu ahli gizi di Indonesia agar lebih fokus pada pasien,” ujarnya.
Ke depan, NutriAI menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari peluncuran versi Pro, pilot project di jaringan rumah sakit Muhammadiyah, hingga ekspansi ke wilayah Asia Tenggara. (*)


