26 C
Jakarta

Keislaman dan Keindonesiaan Bisa Berjalan Baik

Must read

Tri Astuti: Bebas Sampah Bukan Berarti Tidak Boleh Menghasilkan Sampah Sama Sekali

Webinar HPSN 2021: Jawa Tengah Bebas Sampah Tahun 2025 SEMARANG, MENARA62.COM-Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 tahun 2017, Indonesia ditargetkan bebas sampah pada tahun 2025....

Solusi di tengah pandemi, Pemuda Muhammadiyah Bandung bagi-bagi beras

BANDUNG,MENARA62.COM - Bandung, 26 Februari 2021Pandemik Covid 19 melanda hampir di seluruh Negara tidak terkecuali Indoneisa. Sudah setahun berlalu sejak pandemi COVID-19...

Vaksinasi Guru, Bukti Aspek Pendidikan Penting untuk Putus Penularan Covid-19

JAKARTA, MENARA62.COM - Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan program vaksinasi Covid-19 bagi guru dan tenaga kependidikan menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah Indonesia...

Kustini-Danang Resmi Dilantik Jadi Bupati dan Wakil Bupati Sleman

SLEMAN, MENARA62.COM - Gubernur DIY, Sri Sultan HB X melantik secara resmi Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa sebagai Bupati dan Wakil Bupati hasil...

JAKARTA, MENARA62.COM — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Bachtiar Effendy mengungkapkan, keislaman dan keindonesiaan itu, bisa berjalan dengan baik, jika terdapat “akomodasi” di dalamnya. Meski dalam perjalannya akomodasi itu fluktuatif, kadang naik beberapa waktu kemudian turun.

Hal demikian disampaikan oleh Prof Bachtiar Effendy, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah  dalam pengajian bulanan Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk Islam dan Indonesia: Mencari Format dan Strategi Baru yang dilaksanakan di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Jumat (4/8/2017), seperti dilansir Muhammadiyah.or.id.

“Jika kita betul menerima pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 sebagai identitas bangsa Indonesia maka sesungguhnya tidak boleh ada gerakan maupun yang bertentangan dengan identitas kebangsaan itu,” papar Bachtiar.

Maka jika pemerintah berani mengatakan, ada suatu kelompok bertentangan dengan identitas kebangsaan, seluruh wacana tentang sekularisasi juga bertentangan. Sebab hal itu melawan prinsip utama yakni Ketuhanan yang Maha Esa.

“Marilah kita terima identitas kebangsaan kita yang bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45’ secara murni dan konsekuen. Tidak boleh ada tantangan dari kanan maupun kiri. Karena semangatnya akomodasi, gotong royong, maka saya kira praktik dan pemahaman kita tentang demokrasi juga harus kita sesuaikan dengan semangat tersebut,” pungkasnya.

Sementara itu Yudi Latif,  Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKPPIP) mengatakan, tidak selamanya simbolisme keagamaan mencerminkan ketahanan spiritualitas suatu bangsa, yang diperlukan bukanlah formalisme keagamaan melainkan misi keagamaan itu bisa ditransformasikan ke dalam etika dan spiritualitas yang disebut dengan akhlak.

“Seberapa jauh visi keislaman kita bisa diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini yg saya rasa perlu dikuatkan lagi. Indonesia ini harusnya berkeadaban Islam, sebagai bangsa yang diisi oleh mayoritas beragama islam walaupun ada banyak agama lain,” terangnya.

Latif menegaskan, pengaruh satu peradaban terhadap peradaban yang lainnya justru ditentukan seberapa kuat sains dan teknologinya, meski visi spiritualitas menentukan pertahanan suatu peradaban. Maka disinilah menurut Latif persoalan pokok mengenai keislaman dan keindonesiaan.

“Kalau saja Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia punya kemampuan sains, teknologi, peradaban dan ekonomi yang kuat, seluruh konflik di dunia Islam bisa diselesaikan oleh orang Indonesia. Namun tekadang kita ini tidak realistis dalam berjuang dan sering kali tidak belajar dari sejarah bahwa imperium Islam di masa lalu pun tidak langsung membentuk pemerintahan Islam,” jelasnya.

Terakhir pria kelahiran Sukabumi ini menyampaikan, Indonesia dengan peradaban Islam merupakan ciri negara Indonesia yang majemuk. Penerapan tersebut harus dilaksanakan menyeluruh dalam setiap jiwa, bukan hanya dilisan, namun pada praktik kehidupan berbangsa. 

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Tri Astuti: Bebas Sampah Bukan Berarti Tidak Boleh Menghasilkan Sampah Sama Sekali

Webinar HPSN 2021: Jawa Tengah Bebas Sampah Tahun 2025 SEMARANG, MENARA62.COM-Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 tahun 2017, Indonesia ditargetkan bebas sampah pada tahun 2025....

Solusi di tengah pandemi, Pemuda Muhammadiyah Bandung bagi-bagi beras

BANDUNG,MENARA62.COM - Bandung, 26 Februari 2021Pandemik Covid 19 melanda hampir di seluruh Negara tidak terkecuali Indoneisa. Sudah setahun berlalu sejak pandemi COVID-19...

Vaksinasi Guru, Bukti Aspek Pendidikan Penting untuk Putus Penularan Covid-19

JAKARTA, MENARA62.COM - Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan program vaksinasi Covid-19 bagi guru dan tenaga kependidikan menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah Indonesia...

Kustini-Danang Resmi Dilantik Jadi Bupati dan Wakil Bupati Sleman

SLEMAN, MENARA62.COM - Gubernur DIY, Sri Sultan HB X melantik secara resmi Kustini Sri Purnomo dan Danang Maharsa sebagai Bupati dan Wakil Bupati hasil...

Nina-Lucky Resmi Dilantik Jadi Bupati dan Wakil Bupati Indramayu

INDRAMAYU, MENARA62.COM – Hj. Nina Agustina Da'i Bachtiar, S.H., M.H., C.R.A. dan Lucky Hakim hari ini (Red: Jum'at, 26/02/2021) resmi menjabat sebagai Bupati dan...