25.8 C
Jakarta

Kritik Pasemon Buku Puisi Jawa ‘Serat Plerok’

Baca Juga:

Hari ini Ada Rekayasa Arus Lalu Lintas di Seputaran Stasiun Gambir, 12 Nomor KA Keberangkatan Stasiun Gambir Berhenti Di Stasiun Jatinegara

JAKARTA, MENARA62.COM - Seperti diketahui untuk Kamis 2 Desember 2021 Polda Metro Jaya telah menyiapkan rekayasa arus lalu lintas kendaraan berupa penutupan sejumlah ruas...

Workshop Kominfo: Yuk, Makan Ikan Agar Generasi Indonesia Sehat, Kuat dan Cerdas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai upaya mensosialisasikan program pemerintah di Bidang Kelautan dan Perikanan 2020-2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian...

PAN Sleman Suntik Militansi dengan Pelatihan Kader Amanat Dasar dan Saksi Pemilu

SLEMAN, MENARA62.COM - DPD Partai Amanat Nasional  Kabupaten Sleman terus menambah amunisi dan militansi kadernya dengan menggelar Pelatihan Kader Amanat Dasar (LKAD) dan pelatihan...

Platform Pembelajaran Digital Sebagai Sarana Pembelajaran Modern Guru

JAKARTA, MENARA62.COM - Menjawab tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di masa pandemi COVID-19 saat ini, Kementerian Kominfo bersinergi dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia...

Jakarta, Menara62.com – Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Setya Yuwana Sudikan menilai puisi-puisi Jawa (geguritan) kontemporer dalam antologi “Serat Plerok” karya Yusuf Susilo Hartono , mengandung kritik halus terhadap banyak hal. Kritik halus terhadap politik, etika dan kemerosotan moral, hidup yang memberhalakan kebendaan, dll.

“Kritik secara halus dalam geguritan Yusuf tersebut, kalau meminjam istilah Goenawan Mohamad, merupakan kritik pasemon, sehingga tidak menimbulkan amarah,” tutur Yuwana yang juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur, tuturnya dalam diskusi daring Bedah Serat Plerok, yang digelar oleh komunitas Balai Pemuda Surabaya, Jumat kliwon (11/9/2020) malam.

Bedah buku geguritan yang juga menampilkan peneliti sastra Jawa Dhanu Priyo Prabowo (Yogyakarta) dipandu dosen FBS- Unnes Semarang Ucik Fuadhiyah, ini mendapat perhatian medan sastra Jawa, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta hingga Jakarta, bahkan luar Jawa. Di antara yang hadir, cendekiawan dan sastrawan Prof Budi Darma (Surabaya), Kepala Balai Bahasa Jatim yang baru Dr. Asrif , sastrawan dan wartawan Eka Budianta (Jakarta), dramawan Jose Rizal Manua (Jakarta), sastrawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Jaya Baya Widodo Basuki (Surabaya).

Menurut Yuwana, selain melakukan kritik, Yusuf dalam puisi-puisi Jawanya ini, juga melakukan dekonstruksi atau memberi pemaknaan ulang terhadap aksara Jawa ha na ca ra ka. Baik dengan diksi yang bisa dipahami maknanya, maupun belum ada artinya dalam kamus. Hal yang disebut belakangan, mengingatkan pada puisi-puisi bahasa Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, meskipun proses dan dasar pikirnya berbeda. “Geguritan-geguritan hasil perjalanan spiritualitas Yusuf ini terasa khas. Penggunaan metafornya khas dia, dan tidak ditemukan pada puisi Jawa lainnya,” tandasnya. Seraya berharap dapat menginspirasi kalangan sastra, khususnya penyair-penyair muda dalam mencari kebaruan.

IDEOLEK BARU
Peneliti sastra Jawa Dhanu Priyo Prabowo dalam paparannya mengatakan, Serat Plerok ini upaya Yusuf mencari kebaruan, supaya sastra jawa agar tidak beku. Penggunaan diksi yang belum ada artinya, menurut mantan pegawai Balai Bahasa Yogyakarta, adalah upaya menyampaikan getaran jiwa dan ideolek baru. “Bahasa dalam film fiksi ilmiah petualangan AS yang disutradarai James Cameron berjudul Avatar (2009), juga tidak bisa kita pahami. Itu juga ideolek baru,” katanya memberi contoh bandingan.

​Kumpulan geguritan Yusuf sebelumnya berjudul “Ombak Wengi” (2011) meraih Hadiah Sastra Rancage 2012 dari Yayasan Rancage yang dikelola Ajip Rosidi (alm). Jika dibandingkan dengan “Serat Plerok” (2016), corak puisinya berbeda. Ia sependapat dengan Yuwana, bahwa karya-karyanya ini terkait dengan perjalanan spiritualitas pribadi. Alam bawah sadarnya menyuarakan kegelisahan, di antaranya tentang hilang dan kehilangan, baik dalam konteks berkebudayaan, maupun berbangsa. “Dari 58 puisi yang ada, Yusuf 21 kali menggunakan kata “kelangan” (kehilangan) , dan 13 kali kata “ilang” (hilang). Pengulangan ini tentu hal penting,” tandasnya. Misalnya “tembang kelangan tembung” (nyanyian kehilangan kata). Lalu bagaimana kalau kita, kehilangan kata-kata dalam kehidupan global ini?

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!

Hari ini Ada Rekayasa Arus Lalu Lintas di Seputaran Stasiun Gambir, 12 Nomor KA Keberangkatan Stasiun Gambir Berhenti Di Stasiun Jatinegara

JAKARTA, MENARA62.COM - Seperti diketahui untuk Kamis 2 Desember 2021 Polda Metro Jaya telah menyiapkan rekayasa arus lalu lintas kendaraan berupa penutupan sejumlah ruas...

Workshop Kominfo: Yuk, Makan Ikan Agar Generasi Indonesia Sehat, Kuat dan Cerdas

JAKARTA, MENARA62.COM - Sebagai upaya mensosialisasikan program pemerintah di Bidang Kelautan dan Perikanan 2020-2024, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian...

PAN Sleman Suntik Militansi dengan Pelatihan Kader Amanat Dasar dan Saksi Pemilu

SLEMAN, MENARA62.COM - DPD Partai Amanat Nasional  Kabupaten Sleman terus menambah amunisi dan militansi kadernya dengan menggelar Pelatihan Kader Amanat Dasar (LKAD) dan pelatihan...

Platform Pembelajaran Digital Sebagai Sarana Pembelajaran Modern Guru

JAKARTA, MENARA62.COM - Menjawab tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di masa pandemi COVID-19 saat ini, Kementerian Kominfo bersinergi dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia...

Bangun Kenyamanan Berusaha, Sleman Susun Raperda Penyelenggaraan Perizinan Daerah

SLEMAN, MENARA62.COM - Sebagai bentuk tindaklanjut UU No 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah No 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan...