25.6 C
Jakarta

Kritik Pasemon Buku Puisi Jawa ‘Serat Plerok’

Must read

Mau Lihat Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman? Yuk, Hadiri Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro di Museum Nasional

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan akan menggelar Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro sebagai rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN)...

Menhub Pantau Tol Cikampek Via Helikopter

CIKAMPEK, MEANRA62.COM -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan pantauan kondisi lalu lintas di Tol Cikampek dengan menggunakan Helikopter. Dalam pantauan tersebut, Menhub menemukan...

Sumpah Pemuda, Secarik Kertas yang Mengantar Indonesia Merdeka

JAKARTA, MENARA62.COM – Barangkali Profesor Muhammad Yamin tak pernah menduga bahwa tulisan yang dituangkan dalam secarik kertas, 92 tahun yang lalu, menjadi catatan penting...

Legislator Anis Ingatkan Pentingnya Bekal Perjuangan Politik bagi Pengurus PKS

JAKARTA, MENARA62.COM - Anggota DPR-RI Komisi XI F-PKS, Dr. Hj. Anis Byarwati, S.Ag., M.Si. menggelar  pertemuan virtual bersama struktur PKS se-Jakarta Timur dalam rangka...

Jakarta, Menara62.com – Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Setya Yuwana Sudikan menilai puisi-puisi Jawa (geguritan) kontemporer dalam antologi “Serat Plerok” karya Yusuf Susilo Hartono , mengandung kritik halus terhadap banyak hal. Kritik halus terhadap politik, etika dan kemerosotan moral, hidup yang memberhalakan kebendaan, dll.

“Kritik secara halus dalam geguritan Yusuf tersebut, kalau meminjam istilah Goenawan Mohamad, merupakan kritik pasemon, sehingga tidak menimbulkan amarah,” tutur Yuwana yang juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur, tuturnya dalam diskusi daring Bedah Serat Plerok, yang digelar oleh komunitas Balai Pemuda Surabaya, Jumat kliwon (11/9/2020) malam.

Bedah buku geguritan yang juga menampilkan peneliti sastra Jawa Dhanu Priyo Prabowo (Yogyakarta) dipandu dosen FBS- Unnes Semarang Ucik Fuadhiyah, ini mendapat perhatian medan sastra Jawa, baik di Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta hingga Jakarta, bahkan luar Jawa. Di antara yang hadir, cendekiawan dan sastrawan Prof Budi Darma (Surabaya), Kepala Balai Bahasa Jatim yang baru Dr. Asrif , sastrawan dan wartawan Eka Budianta (Jakarta), dramawan Jose Rizal Manua (Jakarta), sastrawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Jaya Baya Widodo Basuki (Surabaya).

Menurut Yuwana, selain melakukan kritik, Yusuf dalam puisi-puisi Jawanya ini, juga melakukan dekonstruksi atau memberi pemaknaan ulang terhadap aksara Jawa ha na ca ra ka. Baik dengan diksi yang bisa dipahami maknanya, maupun belum ada artinya dalam kamus. Hal yang disebut belakangan, mengingatkan pada puisi-puisi bahasa Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, meskipun proses dan dasar pikirnya berbeda. “Geguritan-geguritan hasil perjalanan spiritualitas Yusuf ini terasa khas. Penggunaan metafornya khas dia, dan tidak ditemukan pada puisi Jawa lainnya,” tandasnya. Seraya berharap dapat menginspirasi kalangan sastra, khususnya penyair-penyair muda dalam mencari kebaruan.

IDEOLEK BARU
Peneliti sastra Jawa Dhanu Priyo Prabowo dalam paparannya mengatakan, Serat Plerok ini upaya Yusuf mencari kebaruan, supaya sastra jawa agar tidak beku. Penggunaan diksi yang belum ada artinya, menurut mantan pegawai Balai Bahasa Yogyakarta, adalah upaya menyampaikan getaran jiwa dan ideolek baru. “Bahasa dalam film fiksi ilmiah petualangan AS yang disutradarai James Cameron berjudul Avatar (2009), juga tidak bisa kita pahami. Itu juga ideolek baru,” katanya memberi contoh bandingan.

​Kumpulan geguritan Yusuf sebelumnya berjudul “Ombak Wengi” (2011) meraih Hadiah Sastra Rancage 2012 dari Yayasan Rancage yang dikelola Ajip Rosidi (alm). Jika dibandingkan dengan “Serat Plerok” (2016), corak puisinya berbeda. Ia sependapat dengan Yuwana, bahwa karya-karyanya ini terkait dengan perjalanan spiritualitas pribadi. Alam bawah sadarnya menyuarakan kegelisahan, di antaranya tentang hilang dan kehilangan, baik dalam konteks berkebudayaan, maupun berbangsa. “Dari 58 puisi yang ada, Yusuf 21 kali menggunakan kata “kelangan” (kehilangan) , dan 13 kali kata “ilang” (hilang). Pengulangan ini tentu hal penting,” tandasnya. Misalnya “tembang kelangan tembung” (nyanyian kehilangan kata). Lalu bagaimana kalau kita, kehilangan kata-kata dalam kehidupan global ini?

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Mau Lihat Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman? Yuk, Hadiri Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro di Museum Nasional

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan akan menggelar Pameran Pusaka Pangeran Diponegoro sebagai rangkaian kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN)...

Menhub Pantau Tol Cikampek Via Helikopter

CIKAMPEK, MEANRA62.COM -- Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan pantauan kondisi lalu lintas di Tol Cikampek dengan menggunakan Helikopter. Dalam pantauan tersebut, Menhub menemukan...

Sumpah Pemuda, Secarik Kertas yang Mengantar Indonesia Merdeka

JAKARTA, MENARA62.COM – Barangkali Profesor Muhammad Yamin tak pernah menduga bahwa tulisan yang dituangkan dalam secarik kertas, 92 tahun yang lalu, menjadi catatan penting...

Legislator Anis Ingatkan Pentingnya Bekal Perjuangan Politik bagi Pengurus PKS

JAKARTA, MENARA62.COM - Anggota DPR-RI Komisi XI F-PKS, Dr. Hj. Anis Byarwati, S.Ag., M.Si. menggelar  pertemuan virtual bersama struktur PKS se-Jakarta Timur dalam rangka...

Peringati Sumpah Pemuda, Ketum Kowani Ingatkan Peran Perempuan Sebagai Ibu Bangsa

JAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Ir Giwo Rubianto, M.Pd mengingatkan bahwa peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 memiliki...