JAKARTA, MENARA62.COM— Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII resmi dibuka di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (24/7/2026). Forum lima tahunan yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu diikuti sekitar 87 organisasi Islam dari berbagai daerah di Indonesia sebagai wadah konsolidasi umat.
Mengusung tema “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat”, kongres berlangsung selama 24–26 Juli 2026 dengan agenda membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kehidupan umat dan pembangunan bangsa.
Dalam pembukaan kongres tersebut, Jaringan Wirausaha Muslim Indonesia (JWMI) diwakili oleh Sekretaris JWMI Fakrul Bahri dan Bendahara JWMI Hikmah Shoimah.
Ketua JWMI Fadly Rahman menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan KUII VIII, terutama terhadap agenda penguatan ekonomi umat melalui pemberdayaan kewirausahaan, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta pengembangan ekosistem bisnis yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Menurut Fadly, kongres menjadi forum strategis untuk mempererat ukhuwah sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa, terutama di sektor ekonomi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kemajuan umat tidak hanya ditentukan oleh kekuatan spiritual, tetapi juga oleh kemandirian ekonomi. Karena itu, kolaborasi antara organisasi keumatan, dunia usaha, dan pemerintah menjadi sangat penting dalam menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan,” kata Fadly dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Menara62.com.
Ia mengatakan, JWMI siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk mendorong lahirnya lebih banyak wirausahawan Muslim yang inovatif, tangguh, dan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Fadly berharap, KUII VIII tidak hanya menghasilkan rekomendasi, tetapi juga melahirkan program-program strategis yang dapat memperkuat persatuan umat sekaligus meningkatkan kontribusi umat Islam dalam pembangunan nasional.
Selain mempererat ukhuwah Islamiyah, kongres ini juga diharapkan menjadi ruang dialog yang konstruktif antara pemerintah dan berbagai elemen umat Islam dalam merespons tantangan nasional maupun global.
Melalui forum tersebut, berbagai organisasi Islam diharapkan dapat membangun kesamaan pandangan serta memperkuat kolaborasi dalam mendorong pembangunan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan.
Naskah ini disusun dengan gaya pemberitaan khas Kompas: lugas, berimbang, mengutamakan fakta, mengurangi unsur promosi, serta menempatkan kutipan sebagai penguat informasi.
